Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Freelancer - Arkeolog mandiri, senang menulis arkeologi, museum, sejarah, astrologi, palmistri, olahraga, numismatik, dan filateli.

Arkeotainmen, museotainmen, astrotainmen, dan sportainmen. Memiliki blog pribadi https://hurahura.wordpress.com (tentang arkeologi) dan https://museumku.wordpress.com (tentang museum)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Perploncoan pada Masa Kolonial, Junior Menjadi Kurir Para Senior

19 September 2020   17:17 Diperbarui: 20 September 2020   21:33 778
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gedung STOVIA yang sekarang menjadi Museum Kebangkitan Nasional (Foto: bobo.grid.id)

Sepanjang sejarah pendidikan di Indonesia, baru kali ini perploncoan dilakukan secara daring. Maklum, sekarang masih dalam kondisi gawat manakala pandemi Covid belum berakhir. 

Banyak hal  dilakukan dari rumah, demi memutus mata rantai penyebaran Covid. Apalagi saat ini teknologi sudah berkembang sehingga memungkinkan bekerja atau belajar jarak jauh.

Namun, hal-hal yang tidak terduga kerap muncul. Beberapa hari ini muncul video viral tentang perploncoan. Ada mahasiswi baru yang dibentak seniornya. Ia harus mencoret wajah sendiri dengan lipstik.

Ada juga perploncoan luring ketika mahasiswa baru diminta para senior untuk meminum dan melepehkan air di satu gelas yang sama. Selanjutnya gelas itu diberikan kepada mahasiswa baru lain di sebelahnya.

Pasti masih banyak mahasiswa baru yang 'dikerjain' senior-senior mereka. Namun sampai sejauh ini belum beredar ke masyarakat.

Buku Perkembangan Pendidikan Kedokteran di Weltevreden 1851-1926 (koleksi pribadi)
Buku Perkembangan Pendidikan Kedokteran di Weltevreden 1851-1926 (koleksi pribadi)
Tidak mendidik

Perploncoan demikian jelas tidak mendidik. Dari tahun ke tahun perploncoan memang selalu ada, dengan nama atau istilah yang berbeda.

Dulu waktu saya kuliah namanya OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus). Sebelumnya dikenal dengan istilah Mapram (Masa Prabakti Mahasiswa).

Plonco identik dengan kepala gundul (untuk pria) dan rambut dengan pita warna-warni (untuk wanita). Mereka membawa pengki bambu dan karung goni.

Saya ingat pernah beberapa hari mengikuti OSPEK. Memang mengesalkan dan membuat repot seisi rumah.

Bayangkan, kaos putih harus diberi warna kuning. Untuk itu seisi rumah harus mencari wantex (semacam zat pewarna) ke sana ke mari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun