Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Freelancer - Arkeolog mandiri, senang menulis arkeologi, museum, sejarah, astrologi, palmistri, olahraga, numismatik, dan filateli.

Arkeotainmen, museotainmen, astrotainmen, dan sportainmen. Memiliki blog pribadi https://hurahura.wordpress.com (tentang arkeologi) dan https://museumku.wordpress.com (tentang museum)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Dewan Museum Internasional Memperkirakan Sejumlah Museum akan Tutup Secara Permanen

15 Juli 2020   20:01 Diperbarui: 15 Juli 2020   19:52 173
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Meskipun di masa pandemi, Asosiasi Museum di DKI Jakarta atau Paramita Jaya tetap menyelenggarakan Temu Mugalemon (Museum, Galeri, Monumen). Namun kali ini kegiatan dilakukan secara daring lewat aplikasi Zoom dan Instagram.

Tiga narasumber yang tampil adalah Ibu Ajeng Arainikasih (Dosen Museologi FIB UI), Ibu Dewi Soeharto (Yayasan Mitra Museum Jakarta), dan Pak Amat Kusaini Al Alexs (koordinator pemandu di Museum Sejarah Jakarta). Kegiatan Temu Mugalemon berlangsung pada Rabu, 15 Juli 2020 pukul 10.00-12.00.

Kondisi beberapa museum setelah dibuka terbatas (Foto: Alexs)
Kondisi beberapa museum setelah dibuka terbatas (Foto: Alexs)
Kunjungan khusus

Ibu Ajeng berbicara soal edukator museum. Katanya, edukator bertugas merancang program edukasi di museum, mensosialisasikan program (ke tim), menjalankan program edukasi, dan mengevaluasi program. Rancangan program itu harus active learning.

Menurut Ibu Ajeng harus ada kunjungan khusus untuk anak-anak, mulai dari PAUD hingga SMA. Setiap tingkat pendidikan membutuhkan penanganan yang berbeda. Demikian untuk para lansia agar mereka tidak terkena penyakit lupa.

Di masa pandemi ini memang pengunjung museum terkena pembatasan. Sesuai protokol kesehatan pengunjung museum yang dibolehkan hanya 50 persen dengan lama waktu kunjung terbatas. Dari sinilah, menurut Ibu Ajeng, kita perlu mempertimbangkan kualitas, bukan kuantitas.

Rombongan anak sekolah usia SD, misalnya, harus diatur dalam kelompok kecil. Setiap kelompok terdiri atas anak sekolah, guru pendamping, dan edukator museum. Jumlah anggota rombongan tergantung besar ruangan masing-masing museum.

"Buat pilihan tema khusus untuk kunjungan. Beri mereka lembar kerja yang bisa dikembangkan dengan permainan tertentu yang dapat dikerjakan dalam durasi tertentu. Sediakan aktivitas lain selain guided tour, misalnya kegiatan membuat prakarya dan eksperimen," kata Ibu Ajeng.  

Anak-anak menyelesaikan tugas di museum (Kol. Ajeng)
Anak-anak menyelesaikan tugas di museum (Kol. Ajeng)
Cinta Keluarga

Ibu Dewi, selain aktif di YMMJ juga aktif di Sekolah Cikal (Cinta Keluarga) dan Sekolah.mu. Dengan demikian, upayanya berhasil mendekatkan museum kepada anak dengan menghadirkan museum di sekolah dipadu dengan variasi aktivitas tanpa menghilangkan etika ke museum. Sekolah Cikal bertujuan memancing minat serta menjadi media pembelajaran untuk beragam mata pelajaran.

Lewat Sekolah.mu, Ibu Dewi berupaya menghadirkan museum melalui penyediaan program belajar jarak jauh menarik bagi masyarakat dengan variasi aktivitas online tanpa menghilangkan pengalaman museum serta offline terbatas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun