Mohon tunggu...
Djulianto Susantio
Djulianto Susantio Mohon Tunggu... Freelancer - Arkeolog mandiri, senang menulis arkeologi, museum, sejarah, astrologi, palmistri, olahraga, numismatik, dan filateli.

Arkeotainmen, museotainmen, astrotainmen, dan sportainmen. Memiliki blog pribadi https://hurahura.wordpress.com (tentang arkeologi) dan https://museumku.wordpress.com (tentang museum)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Toleransi Beragama di Ranah Minang Kuno

23 Agustus 2019   09:08 Diperbarui: 23 Agustus 2019   09:15 115
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pada bagian lapik terdapat tulisan 1208 Saka, identik 1286 Masehi. Dikatakan Raja Kertanegara memerintahkan pemindahan arca Buddha Amoghapasa dari Bhumijawa ke Suwarnabhumi untuk ditempatkan di Dharmasraya. Pemberian hadiah itu membuat seluruh rakyat Suwarnabhumi bergirang hati, terutama sekali rajanya, Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa. 

Demikian informasi dari Kamus Arkeologi Indonesia 2 halaman 7, 1979. Prasasti Amoghapasa kadang disebut Prasasti Padang Roco, kadang Prasasti Dharmasraya. Arca Amoghapasa berbahan batu andesit, memiliki ukuran tinggi 163 sentimeter dan lebar 97-139 sentimeter.

Berbicara Dharmasraya, di Museum Nasional ada lagi arca setinggi hampir 4,5 meter. Dikenal sebagai arca Bhairawa, konon perwujudan Raja Adityawarman yang menganut aliran Tantrayana.  

Adityawarman adalah salah seorang pangeran dari Kerajaan Dharmasraya yang pernah mengabdi ke Majapahit sebagai wrddha-mantri. Setelah kembali ke Sumatera bagian barat, ia kemudian menjadi penguasa di sana pada abad ke-14.

Arca Amoghapasa di Museum Nasional (Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Arca Amoghapasa di Museum Nasional (Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Ekspedisi

Soal kata 'ekspedisi' Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, "Kita perlu melihat kembali peristiwa bersejarah dalam sejarah kita dengan cara pandang yang mungkin berbeda dari apa yang selama ini kita kenal." Ia mencontohkan di Belanda ada nama jalan yang memakai tokoh Indonesia. 

Masyarakat di sana ada yang setuju, ada yang menolak. Tentang keinginan Pak Bupati untuk menambahkan caption Dharmasraya pada koleksi di Museum Nasional, Pak Hilmar dan Pak Siswanto akan menindaklanjutinya.

Menurut Pak Bambang Budi Utomo dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, arkeologi berangkat dari data, bukan cerita. Pak Bambang beberapa kali melakukan ekskavasi atau penelitian arkeologi di sana. Di Dharmasraya, kata Pak Bambang, pernah ditemukan keramik Tiongkok dari abad ke-10. 

Berarti permukiman sudah ada sejak abad ke-10. "Permukiman tersebut dapat dikategorikan kota karena mengenal perdagangan dan tulisan," kata Pak Bambang.

Tentang arca Bhairawa, menurut Pak Tommy---demikian sapaan akrabnya---kemungkinan memang dibawa dari Jawa. Soalnya batu-batu sejenis tidak ditemukan di Dharmasraya. Arca itu dibawa lewat Sungai Batanghari pada awal musim hujan. "Mungkin Agustus itu awal musim hujan. Soalnya kalau musim kemarau sungainya dangkal," kata Pak Tommy.

Pak Tommy juga menyinggung Prasasti Pagarruyung dan Prasasti Saruaso yang berkenaan dengan Raja Adityawarman. Dalam prasasti disebutkan pembangunan wihara, namun sisa-sisanya sampai kini belum ditemukan. Temuan keramik kuno di Tanah Datar juga langka, padahal keramik merupakan artefak bertanggal mutlak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun