Djulianto Susantio
Djulianto Susantio

Arkeolog, pekerja lepas mandiri, penulis artikel, kolektor uang kuno (numismatis), serta konsultan tertulis astrologi dan palmistri. Memiliki beberapa blog pribadi tentang sepurmu daya (sejarah, purbakala, museum, budaya) dan numismatik, antara lain https://hurahura.wordpress.com dan https://museumku.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Berbagi untuk Kebaikan Tidak Perlu Menunggu Kaya Raya

10 September 2017   12:07 Diperbarui: 10 September 2017   12:51 547 1 1
Berbagi untuk Kebaikan Tidak Perlu Menunggu Kaya Raya
Laporan dari masyarakat kalau bukunya sudah sampai sekaligus laporan untuk beberapa instansi yang memberikan donasi buku (Dokpri)

Kita pasti mengenal Bill Gates dan Mark Zuckerberg. Yang disebut pertama pendiri Microsoft, yang kedua pendiri Facebook. Sejak beberapa tahun lalu keduanya selalu dinobatkan oleh majalah ekonomi Forbes sebagai orang-orang terkaya di dunia. Saking kayanya, mereka mendirikan yayasan amal. Salah satu kegiatannya menolong orang-orang miskin.

Memang berbagi selalu diidentikkan dengan orang-orang kaya raya atau konglomerat. Di pihak lain saya pernah melihat tayangan televisi. Ini kejadian di Indonesia. Seorang juru parkir yang berpenghasilan sekitar 1,5 juta rupiah sebulan mendirikan sekolah gratis buat orang-orang di desanya yang tergolong kurang mampu.

Pada waktu lain saya menyaksikan seorang sopir bemo membuat perpustakaan bemo lalu mangkal di depan sekolah. Ia mencari nafkah hingga pukul 08.30, setelah itu ia mengisi bemonya dengan buku-buku bacaan. Anak-anak sekolah bisa membacanya secara gratis.

Ada juga seorang penarik becak. Selepas mencari nafkah ia menjadi guru sukarela untuk anak-anak. Ia menyediakan salah satu ruangan kecil di rumahnya menjadi ruang belajar.

Apa yang dilakukan Gates dan Zuckerberg memang sungguh mulia. Namun rasanya lebih mulia apa yang dilakukan juru parkir, sopir bemo, dan tukang becak itu. Dalam kondisi pas-pasan, mereka ikhlas berbagi. Ada satu pelajaran dari mereka yang saya ambil, berbagi untuk kebaikan tidak perlu menunggu kaya.

Inspirasi

Terus terang saya terinspirasi dari ketiga orang itu. Berbagi bukanlah soal kaya atau miskin. Berbagi hanyalah soal hati. Kalau karakter sosial sudah ada pada diri kita sejak kecil, maka kita pun akan rela berbagi tanpa mempertimbangkan untung rugi. Yang ada di pikiran hanya berbagi untuk kebaikan dan bermanfaat buat masyarakat.

Karakter terbentuk karena keluarga. Bisa juga sudah menjadi takdir manusia. Saya ingat nenek saya---ibunya ayah---bukan main sosial kepada siapa pun. Ia selalu menolong orang, baik diminta maupun tidak diminta. Sebelum meninggal ia berpesan kepada saya. Kalau ada orang minta minum atau makan, kasih seadanya kita.

Ayah saya juga dikenal dermawan, meskipun hanya tinggal di rumah kontrakan. Ia banyak menolong orang. Satu pesannya yang saya ingat, "Kalau menolong orang anggap aja kita buang hajat di kali. Tuh kotoran mengalir entah ke mana dan kita gak mengharapkan kembali".  

Berbeda dengan nenek dan ayah, saya geregetan melihat minat baca di luar Jakarta begitu besar, sebaliknya mereka kesulitan mendapatkan buku. Memang ada buku-buku gratis terbitan berbagai instansi pemerintah. Namun buku-buku tersebut harus diambil sendiri di masing-masing instansi. Bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan komunitas daerah kalau ke Jakarta.

Bertolak dari kesulitan mereka itulah, saya sesekali mengirimkan sejumlah buku ke komunitas daerah. Saya belum pernah bertatap muka dengan mereka. Hanya menjalin pertemanan lewat Facebook. Setelah itu saya membuat Kubu (Kuis Buku), Gemar (Gerakan Menulis Arkeologi), dan Gemes (Gerakan Menulis Sejarah), juga lewat Facebook.

Beruntung saya punya kenalan di beberapa instansi pemerintah, jadi mudah memperoleh buku. Bahkan bisa memperoleh beberapa eksemplar secara gratis.

Biaya yang saya keluarkan dari kantong pribadi sih tidak besar. Sekitar Rp500 ribu sebulan untuk biaya taksi ketika membawa buku ke rumah dan ongkos kirim ke daerah. Ternyata bahagia itu sederhana. Jika apa yang kita bagikan itu dibaca dan si pembaca memperoleh pengetahuan.

Sebelum 2016 saya sering menulis di media cetak. Dihitung-hitung saya bisa memperoleh honorarium sekitar Rp3 juta sebulan. Namun sejak media cetak tutup dan sekarat---karena kalah bersaing dengan media online atau media daring---boleh dibilang saya tidak menulis lagi. Namun saya pastikan, bagi-bagi buku lewat berbagai kegiatan tetap saya lakukan.

Berbagi tidak membuat saya miskin. Tidak berbagi juga tidak membuat saya kaya. Yang jelas upaya yang saya lakukan ini halal. Hidup memang harus gotong royong.***