Mohon tunggu...
djarwopapua
djarwopapua Mohon Tunggu... wiraswasta -

Liverpool Selamanya...YNWA !!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kisah Mengharukan Pak Dahlan Iskan

10 Maret 2015   23:51 Diperbarui: 17 Juni 2015   09:50 597 3 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Siapa di antara Kompasianer yang tak mengenal sosok Pak Dahlan Iskan? Seorang jurnalis senior, mantan Direktur PLN dan mantan Menteri BUMN. Tentu, jangankan kompasianer, Anak SD pun banyak yang tau dengan sosok Pak Dahlan Iskan yang terkenal dengan kesederhanaannya itu.

Meskipun banyak media dan blog yang telah memuat artikel tentang profil dan biografi Pak Dahlan Iskan, tapi tak semuanya menuliskan atau mempublikasikan sepenuhnya tentang masa kecil beliau. Yang banyak orang tau, Pak Dahlan memang terlahir dalam keluarga miskin, dan akhirnya beliau berhasil meraih banyak kesuksesan dalam karirnya. Namun ternyata, Penulis baru mengetahui, setelah menonton langsung salah satu program acara baru di stasiun TransTV yang berjudul "Ibu di balik Tokoh", dan mengupas habis tentang kisah mengharukan Pak Dahlan, bahwa perjalanan hidup yang penuh penderitaan juga telah banyak di lalui oleh Pak Dahlan semasa kecilnya dulu.

Dalam acara tersebut, beliau menceritakan langsung kisah masa kecilnya yang tak lepas dari pengorbanan berat Ibu beliau yang bernama Ibu Lisna Iskan. Telah banyak yang tau bahwa beliau lahir dan di besarkan di sebuah desa kecil di kabupaten magetan, jawa timur tahun 1951. Namun di desa kecil di kabupaten magetan itulah, Pak Dahlan mempunyai banyak cerita dan kisah mengharukan yang saat penulis mengikuti acara tadi hingga selesai, tak henti-hentinya menitikkan air mata.

Beliau menceritakan pengorbanan Ibunya secara detail hingga beliau sendiri pun tak sanggup menyembunyikan kesedihan dan rasa harunya dengan mata yang berkaca-kaca, sebab karena jasa dan kasih sayang Ibunya lah beliau bisa merasakan hidup sukses seperti saat ini.

Sewaktu sekolah dasar dulu, beliau menceritakan jika beliau harus bepergian ke sekolah dengan berjalan kaki tanpa mengenakan alas kaki baik itu sandal ataupun sepatu,melewati jalan becek dan jikalau hujan beliau juga mengalami basah kuyup. Hingga Ibu beliau mengumpulkan uang sedikit demi sedikit yang kemudian di gunakan untuk membeli sepatu sekolah beliau, itupun hanya sebatas sepatu bekas di loakan yang telah sobek di bagian depannya. Sepatu itu lantas di pakai oleh beliau hanya pada saat upacara di hari senin, karena beliau tak ingin sepatu tersebut rusak.
Ibu beliau juga seringkali beradu mulut dengan Ayah beliau, lantaran sering mengambil daun pisang milik Ayah beliau untuk di jual. Dan uang yang di kumpulkan oleh Ibunya itu, lalu di gunakan juga untuk membeli sarung bekas buat beliau pakai menjelang Idul Fitri, karena beliau sendiri semasa kecil hanya memiliki satu stel pakaian yang dikenakannya yakni satu celana, satu baju dan satu sarung saja. Namun sayang, sarung bekas yang baru di belikan oleh Ibunya itu rusak sewaktu Ibu beliau mencuci sarung tersebut karena ternyata telah cukup usang dan banyak tambalan sehingga ketika di cuci sarung tersebut sobek dengan mudahnya.

Kisah yang tambah menyedihkan, saat beliau menceritakan Ibunya sakit, dimana saat itu Ayah beliau harus menjaga Ibunya yang sakit tanpa bisa bekerja dan tak ada penghasilan lagi buat membeli makan sehari-hari. Hingga Ayah beliau memutuskan untuk menjual sawah warisan yang luasnya hanya seperempat hektar juga lemari makan pun ikut di jual oleh Ayah beliau. Ironisnya, di bagian dalam pintu lemari makan tersebut Pak Dahlan menuliskan tanggal, bulan dan tahun kelahiran beliau yang sampai hari ini pun beliau mengakui tak pernah tau lagi tanggal dan bulan kelahiran beliau yang sebenarnya. Di profil dan biografi beliau memang tertulis beliau lahir pada tanggal 17 agustus 1951, dan itu beliau asal pilih sendiri karena bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Bukan itu saja, beliau kembali menceritakan kisah demi kisah masa kecilnya yang semakin membuat haru. Ibu beliau pun harus pergi meninggalkan dunia di saat beliau masih sangat muda dan masih duduk di kelas 6 SD. Beliau pun hanya bisa belajar mengikhlaskan kepergian Ibunya walau sampai saat beliau sukses seperti saat ini, beliau masih merasa sedih karena dalam kesuksesan beliau tak ada sosok Ibunya yang menyaksikan langsung. Beliaupun lantas mengungkapkan kesedihan beliau itu karena sewaktu beliau pertama kali memiliki sebuah mobil, beliau menaiki mobil tersebut sambil meneteskan air mata, karena beliau mengenang Ibunya yang tak pernah merasakan enaknya naik kendaraan. Beliau mengisahkan sewaktu kecil dulu, Ayah dan Ibu beliau tak mampu membeli sepeda dan harus berjalan kaki yang jaraknya cukup jauh setiap Bersilatuhrahmi ke rumah sanak saudara di hari Raya Idul Fitri.

Beliau begitu sedih karena yang hanya bisa melihat beliau menjadi "orang" hanya Ayah dan saudara-saudara beliau, sedangkan Ibu beliau begitu cepat pergi meninggalkan dunia, itulah yang sering beliau tanyakan dalam hati beliau setiap kali terduduk dan mengenang sosok Ibu beliau.

Penulis hanya bisa kembali menitikkan air mata hingga di penghujung acara Tv tersebut. Sebab ada pesan mendalam yang bisa di jadikan inspirasi dari perjalanan yang begitu mengharukan dalam kisah hidup Pak Dahlan Iskan, sosok yang telah banyak di jadikan panutan oleh kaum muda bangsa ini. Sosok yang pernah merasakan penderitaan kemiskinan dan dengan kerja keras, tekun, giat, jujur, taat pada orang tua serta Doa dan kasih sayang seorang Ibu lantas membuahkan hasil yang benar-benar setimpal.

Tak ada lagi kalimat yang pantas keluar dari mulut ini, selain ungkapan salut akan luar biasa hebatnya perjuangan Pak Dahlan dan Pengorbanan besar yang telah di lakukan oleh Ibu Lisna Iskan.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan