Mohon tunggu...
Dizzman
Dizzman Mohon Tunggu... Freelancer - Public Policy and Infrastructure Analyst

"Uang tak dibawa mati, jadi bawalah jalan-jalan" -- Dizzman Penulis Buku - Manusia Bandara email: dizzman@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Jelajah Sri Lanka-Maladewa (3): The Real Waterworld

14 Mei 2016   12:33 Diperbarui: 14 Mei 2016   13:10 221
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kalau Anda pernah menonton film Waterworld (1995) yang dibintangi aktor kawakan Kevin Costner, maka seperti itulah kondisi Maladewa, dimana sebuah peradaban tumbuh di atas sekumpulan atol yang terserak di tengah Lautan Hindia. Kota Male sendiri yang merupakan ibukota negara Maladewa, luasnya tak lebih dari 5,8 Km2 namun diisi 153.379 jiwa tahun 2014 (Sumber: Wikipedia). Jadi bisa dibayangkan betapa padatnya pulau yang tak lebih seukuran kota Lembang tersebut, belum ditambah wisatawan yang hilir mudik seperti saya ini. Ibaratnya, Male itu seperti Singapura di tengah kepungan Lautan Hindia yang maha luas.

Sebuah Pulau Resor di Maladewa (Dokpri)
Sebuah Pulau Resor di Maladewa (Dokpri)
Bagi WNI, masuk ke Maladewa relatif mudah, tidak perlu VoA, tapi cukup paspor dan bukti hotel serta tiket pulang saja, karena hanya itu yang ditanya petugas imigrasi. Setelah keluar dari bandara Ibrahim Nasir, silakan langsung menuju resor yang telah dipesan atau nangkring di Male sebelum menjelajahi pulau-pulau lainnya. Tersedia kapal ferry tradisional yang berangkat tiap 10 menit ke Male dengan ongkos 10 Rufiyah (Rf) atau sekitar 10 Ribu Rupiah, dengan waktu tempuh hanya 8 menit saja, jadi rugi kalau naik kapal cepat karena selisih waktunya tidak jauh. Bagi yang ke resor tersedia jemputan di pintu keluar bandara, atau bisa menggunakan pesawat amfibi untuk pulau yang jauh.

Penampakan Kota Male di Tengah Samudera (Dokpri)
Penampakan Kota Male di Tengah Samudera (Dokpri)
Suasana Jalanan Kota Male yang Sempit (Dokpri)
Suasana Jalanan Kota Male yang Sempit (Dokpri)
Saya sendiri memilih nangkring di Male karena waktu yang terbatas. Walaupun kecil, Male penuh sesak dengan bangunan-bangunan modern nan tinggi. Bayangkan, di pulau sekecil itu terdapat stadion sepakbola dan Liga Premier Maladewa yang masih aktif, tidak seperti negeri kita yang luas namun liganya mandek. Istana Presiden dan bangunan pemerintahan berpadu dengan pusat bisnis dalam kawasan sekecil itu. Bahkan Aeroflot, maskapai penerbangan asal Rusia yang di negeri kitapun sudah menutup rute penerbangannya, punya kantor perwakilan disini. Itulah hebatnya Maladewa, negeri yang hidup dari pariwisata dan perikanan.

Papan Tanda Public Beach di Hulhumale
Papan Tanda Public Beach di Hulhumale
Disini hukum Islam berlaku, kita tidak boleh membawa/mengimpor daging babi, membawa anjing, atau hal-hal yang dapat mengganggu ibadah umat Islam seperti tertera dalam pengumuman di bandara. Hari Jumat adalah hari libur nasional, dan waktu kerja/sekolah adalah hari Minggu sampai Kamis. Sebagian kapal ferry tidak beroperasi pada hari tersebut, jadi bagi yang ingin berkelana ke pulau lain, perhatikan jadwalnya. Walau mengandalkan wisata pantai, namun turis tidak boleh berbikini di sembarang tempat atau di area public, tapi ada area khusus untuk bikini yang tidak bisa dimasuki sembarang orang.

Masjid Hukuru Miskiy Pertanda Peradaban Islam di Male (Dokpri)
Masjid Hukuru Miskiy Pertanda Peradaban Islam di Male (Dokpri)
Menara Masjid Hukuru Miskiy (Dokpri)
Menara Masjid Hukuru Miskiy (Dokpri)
Bukti lamanya sejarah peradaban di Maladewa terlihat di masjid tua Hukuru Miskiy yang terletak di depan tempat tinggal presiden. Di sini terdapat makam Abu Barakat yang konon merupakan ulama yang menyebarkan Islam di Maladewa, dan makam-makam tua lainnya yang masih terpelihara dengan baik. Di depan masjid terdapt menara dan bangunan peninggalan Kerajaan Maladewa sebelum berganti menjadi republik. Tak jauh dari situ juga terdapat Sultan Park dan Islamic Center yang merupakan masjid terbesar di Male, serta National Museum yang menyimpan benda-benda sejarah peradaban Maladewa.

Sultan Park sedang Direnovasi (Dokpri)
Sultan Park sedang Direnovasi (Dokpri)
Pintu Gerbang Kediaman Presiden (Dokpri)
Pintu Gerbang Kediaman Presiden (Dokpri)
Keliling pulau Male cukup dilakukan dengan berjalan kaki dari ujung barat ke ujung timur yang hanya berjarak sekitar 1,7 Km. Namun karena panas terik membakar tubuh, saya naik taksi dengan ongkos flat Rf 25 kemanapun di Male, dan tambah 5 Rf bila membuka bagasi mobil. Jalan-jalannya sendiri seluruhnya menggunakan paving block dan sempit sehingga hanya cukup untuk papasan dua mobil di jalan utama, serta hanya satu mobil di jalan searah. Seperti di Jakarta, motor menjadi pilihan utama warga Male untuk berkeliling kota. Angkutan umum hanyalah taksi di kota dan ferry antar pulau, tidak ada bus umum. Di ujung timur terdapat Artificial Beach alias pantai reklamasi yang cocok untuk berfoto saat sunrise, sementara di ujung barat terdapat patung Tsunami dan pelabuhan ferry ke pulau-pulau lain.

Stadion Male (Dokpri)
Stadion Male (Dokpri)
Jadwal Liga Primer Maldives (Dokpri)
Jadwal Liga Primer Maldives (Dokpri)
Esok paginya saya berkunjung ke Vililingi, pulau terdekat dengan Male. Pulau ini lebih kecil ukurannya dan sebagian besar diisi rumah susun bagi para pekerja yang bekerja di Male serta nelayan. Di sini juga terdapat TPI (pelabuhan perikanan) yang menampung ikan hasil tangkapan di Samudera Hindia. Tersedia tuktuk modern dengan ongkos 50 Rf keliling pulau, namun kalau kuat mending jalan kaki saja karena tak sampai setengah jam juga sudah habis dikelilingi. Di pulau ini juga tersedia jasa penyewaan alat snorkling atau diving, jadi tak perlu jauh-jauh dari Male, demikian pula bagi yang ingin berselancar.

Pelabuhan Ikan bagi Nelayan Maladewa (Dokpri)
Pelabuhan Ikan bagi Nelayan Maladewa (Dokpri)
Tak lama di pulau tersebut, saya kembali ke Male untuk berkemas. Siang harinya setelah cek out saya menyeberang ke bandara untuk menitipkan tas. Sambil menunggu penerbangan jam enam sore, saya sempatkan waktu untuk menjelajah satu pulau lagi yang bisa dijangkau lewat darat dari bandara yaitu Hulhumale. Dari bandara terdapat shuttle bus menuju Hulhumale dengan waktu tempuh sekitar 20 menit dan ongkosnya 20 Rf saja. Pulau Hulhumale sendiri merupakan pulau hasil reklamasi berbentuk segi empat, dan digunakan sebagai rumah susun serta sebagian lagi berdiri hotel atau homestay terutama yang berada di tepi laut. Di sini terdapat public beach dan sarana untuk selancar serta snorkling juga. Jadi bagi kita yang duitnya cekak tak perlu jauh-jauh dari bandara untuk menikmati keindahan lautnya.

Rumah Susun di Hulhumale (Dokpri)
Rumah Susun di Hulhumale (Dokpri)
Lautnya yang masih biru donker dan bersih menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung. Demikian pula pantainya yang masih putih bersih terawat rapi sehingga kita nyaman berjalan kaki tanpa diganggu oleh binatang seperti anjing liar yang tidak ada di situ. Selain itu hampir tak terlihat pedagang asongan menawarkan bawaannya, sesuatu yang kadang mengganggu kenyamanan berwisata. Kesadaran seperti itulah yang seharusnya kita tanamkan kepada warga yang berada di tepian pantai atau obyek wisata agar wisatawan selalu nyaman.

Tanda Larangan Berbikini di Public Beach (Dokpri)
Tanda Larangan Berbikini di Public Beach (Dokpri)
Namun itulah resiko daerah wisata, apapun menjadi mahal. Makanan paling murah di Hulhumale, tempat para pekerja konstruksi nangkring saja, saya habis 85 Rf (80 Ribu Rupiah) untuk sepiring nasi biryani plus ayam goreng dan es jeruk. Sementara di Male, saya terjebak makan di restoran yang tampaknya biasa dari luar, namun ternyata berharga mahal, sepiring nasi goreng harganya 160 Rf (150 Ribu Rupiah) belum termasuk pajak. Uniknya disini, mungkin karena banyak WNI, ada menu dengan judul Nasi Goreng dan Mie Goreng, atau Ayam Penyet, tapi harganya itu lho.

Aneka Wisata Laut yang Ditawarkan di Vililingi (Dokpri)
Aneka Wisata Laut yang Ditawarkan di Vililingi (Dokpri)
Tak terasa, waktu sudah sore, saatnya kembali ke bandara untuk cek in menuju Colombo sebelum lanjut ke Jakarta. Bandara Ibrahim Nasir sendiri tidaklah besar ukurannya dan tidak tersedia garbarata sehingga kita harus berjalan kaki. Namun jangan salah, yang mendarat di sini justru sekelas Boeing 747 Etihad atau Emirates! Pesawat Mihin Lanka yang saya naiki ternyata berangkat 10 menit lebih cepat dari jadwal, untungnya saya sudah stand by di bandara sejak dua jam sebelumnya. Di Colombo, sempat terjadi kebingungan apakah harus keluar imigrasi baru cek in kembali di konter Air Asia (AA) atau tidak perlu mengingat saya sudah cek in online. Menurut petugas bandara, coba tanyakan ke transfer desk. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun