Mohon tunggu...
Nadhira Anindita Ralena
Nadhira Anindita Ralena Mohon Tunggu... Dokter - Panggil saya Dita atau Ralen

Nama lengkapnya Nadhira Anindita Ralena, kerap dipanggil Dita atau Ralen. Dipanggil Nadhira boleh-boleh saja tapi agak kedengaran asing untuk saya sendiri. Seorang dokter umum yang menyukai terlalu banyak hal. Kata orang, cukup ekspresif dalam menunjukkan perasaannya. Memiliki mood swing tercepat yang akan pernah dilihat.

Selanjutnya

Tutup

Healthy

Selamat Datang Kluster Liburan

25 Januari 2021   03:56 Diperbarui: 25 Januari 2021   05:07 230
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali."

Begitulah yang bisa saya lantunkan saat melihat pelonjakan jumlah pasien yang dirawat di RSDC Wisma Atlit per tanggal 5 Januari 2021-15 Januari 2021, beberapa hari yang lalu.

Hari ini malam Minggu, 24 Januari 2021, pukul 01.00. Saya menulis ini melalui komputer di Nurse Station bangsal dengan keadaan telah menyelesaikan seluruh "to-do list" operan jaga dari shift sebelumnya. Seluruh pasien yang memerlukan observasi dalam keadaan stabil malam ini. Satu orang dokter bertugas di 3 lantai di setiap jaga bangsal - bisa sampai 4-6 lantai, tergantung situasi lapangan -  dan malam ini, seluruh pasien sudah saya lakukan follow-up. Hari ini terkesan sungguh tenang dan santai. Saya akhirnya memiliki cukup energi untuk menulis pun adalah sebuah "keajaiban"... 

Malam 7-14 hari ke belakang saya justru jungkir balik.
 
Lima hari setelah tahun baru, shift jaga siang di bangsal terasa luar biasa melelahkan. Pasien dengan desaturasi di bangsal semakin parah, namun ruang perawatan intensif penuh, dipenuhi dengan pasien-pasien dengan keadaan yang lebih buruk. Bangsal di rumah sakit kami tidak memiliki oksigen dinding, yang membuat kami harus setiap kali memastikan adanya stok oksigen tabung. Tetapi dengan keadaan pasien desaturasi parah yang memerlukan oksigen 15 liter per menit, dalam 1 shift jaga bangsal, kami dapat menghabiskan kira-kira 4 oksigen tabung untuk 1 pasien. IGD penuh dan penerimaan pasien-pasien baru dengan kondisi stabil disebarkan ke bangsal, sehingga kami pun dokter jaga di bangsal yang menerimanya. Chaos. Saya iseng-iseng mengecek jumlah pasien masuk hari itu dan ternyata benar, drastis.

Dimulai dari notifikasi "Update COVID-19, 6 Januari 2021: Tembus Rekor! Kasus Positif Bertambah 8,854". Besoknya, rekor baru.. Besoknya lagi, rekor baru.. Bukannya prestasi dalam penanganan COVID-19, malah prestasi peningkatan kasus positif dan meninggal. Sebelum tahun baru, tower 6 dan 7 Wisma Atlit menampung sekiranya 1000an pasien. Lepas tahun baru, 2500 pasien hampir terlampaui.

Jumlah pasien kian meningkat. Beban kerja para tenaga kesehatan meningkat. Sejawat saya mulai kelelahan, bahkan banyak yang jatuh sakit. Jumlah pasien terus meningkat dengan jumlah tenaga kesehatan yang malah berkurang. Kami benar-benar jungkir balik 2 minggu itu.

Sebagai dokter kami sempatkan berbincang-bincang santai dengan pasien, sambil menanyakan keluhan dan riwayat penyakit.

Seorang pasien datang ke poli bangsal dan bertemu saya dengan wajah khawatir, "Dok, teman saya bagaimana? Sudah 3 hari di IGD, dengan kondisi asma". Mereka adalah teman sekantor yang menikmati liburan ke Labuan Bajo, dengan percaya diri karena hasil swab test negatif. Alhasil menikmati liburan dengan euforia dan lupa tidak berarti jika hasil swab test negatif akan negatif selamanya. Liburan akhirnya berakhir di Wisma Atlet dan menambah beban kami para tenaga medis yang sudah jungkir balik.

Masa inkubasi virus SARS-COV-2 secara teori WHO adalah 5-6 hari - bisa sampai 14 hari. Pasien tanpa gejala yang terinfeksi virus di hari pertama dan langsung dilakukan PCR swab test di hari yang sama, mungkin saja masih negatif. Namun 5 hari kemudian timbul gejala dan didapatkan hasil swab test "positif", sangat mungkin dan sering kasusnya.

Saya dan teman-teman tenaga kesehatan menyadari adanya kluster "liburan tahun baru" hanya dapat geleng-geleng kepala dan menghela napas sambil berkata, "Selamat datang kluster liburan".

Cerita penambahan kasus Covid 19 ini bagi saya lebih heboh dari sinetron televisi. Menguras fisik dan emosi, karena saya tidak habis pikir mengamati pola pikir sebagian masyarakat. Pandemi belum usai, vaksinasi baru saja dimulai dan butuh waktu untuk mendapatkan kekebalan tubuh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun