Mohon tunggu...
Dismas Kwirinus
Dismas Kwirinus Mohon Tunggu... Penulis - -Laetus sum laudari me abs te, a laudato viro-

Tumbuh sebagai seorang anak petani yang sederhana, aku mulai menggantungkan mimpi untuk bisa membaca buku sebanyak mungkin. Dari hobi membaca inilah, lalu tumbuh kegemaran menulis.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Apakah Agama dan Religiositas Itu Sama?

7 Oktober 2020   08:51 Diperbarui: 7 Oktober 2020   09:04 547
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Secara fenomenologis agama merujuk pada institusi penyembahan dan penghormatan kepada Tuhan. Agama dicirikan oleh hukum-hukum, tata aturan, kepatuhan kultis dan serimonial rituales. Sedangkan religiositas tidak dipengaruhi oleh hukum-hukum dan tata aturan. 

Dengan demikian religiositas itu tidak sama dengan agama. Saya dapat mengatakan dengan tegas bahwa religiositas harus dibedakan dari keagamaan. 

Religiositas menekankan aspek substansi, sedangkan agama berhenti pada formalitas karena terikat dengan hukum-hukum, tata aturan, ajaran-ajaran dan kultis-kultis agama. Jadi pada dasarnya religiositas itu melampaui atau lebih tinggi dari agama karena religiositas itu mengelinding di dalam setiap hati nurani manusia, baik yang beragama maupun yang tidak beragama.

Meskipun ada perbedaan antara agama dengan religiositas namun keduanya tak dapat dipisahkan karena agama merupakan pembekuan yang institutif dari religiositas, sehingga agama sangat didukung dan dibantu oleh religiositas terutama supaya agama dapat dihayati oleh manusia yang memeluknya. 

Religiositas dapat dipandang sebagai pembimbing dan penuntun bagi manusia untuk menghayati segala ajaran agama agar ajaran agama menjadi sesuatu yang hidup dan berbuah bagi manusia. Sebab setiap agama mengandung religiositas dan religiositas itu hanya dapat dicapai dengan upaya yang keras dari pemeluk agama dan inilah salah satu bentuk penghayatan keagaan dalam kehidupan konkret.

Agama hanya sarana bagi manusia agar lebih mudah menemukan Tuhan. Sebab semua agama mau membawa manusia untuk sampai dan bersatu dengan Tuhan (keselamatan). Tetapi agama sebagai "lembaga" yang mengandung unsur manusiawi tidak dapat mengklaim ketaatan dari pada pemeluknya, karena agama tidak pernah identik dengan Allah. Apalagi dalam kenyataan historis atau sejarah penyebaran agama sering dengan cara paksa dan kekerasan, meskipun ini bukan watak agama tapi ulah manusia yang menganut agama tersebut. 

Maka dalam agama terkandung unsur kuasa, ambisi dan egoisme manusia sehingga agama menjadi tidak murni lagi untuk mengarahkan manusia kepada kebaikan, peri kemanusiaan dan sebagai penuntun jalan kepada Tuhan. Ini terjadi karena motivasi orang menganut agama yang kadang-kadang menyesatkan ajaran dan tujuan agama. Agama menjadi "alat" yang digunakan untuk mencapai segala keinginan manusianya. Bukan agama yang mengatur kehidupan umatnya tetapi umatnya yang malahan mengatur segala ajaran dan tujuan agama.

Dari kenyataan ini tampak bahwa agama tidak dapat mengungkapkan seluruh rasa keimanan manusia. Karena itu agama membutuhkan religiositas (sebagai ungkapan "iman" yang ada di luar praktek-praktek yang ada dalam agama) yang dapat membimbing orang kepada kebenaran, peri kemanusiaan dan kejujuran berkat hati nuraninya sehingga mereka akhirnya memandang agama bukan hanya sebagai lembaga formal-legal tapi sebagai satu sarana yang dapat membawa manusia kepada keselamatan, kesempurnaan, dan persekutuan dengan Tuhan. 

Agama bisa membawa manusia semakin religius, seorang bisa menjadi religius bila seluruh aktivitas hidupnya bersandar pada pengabdian akan ketuhanan, kemanusiaan dan keseimbangan alam dengan dirinya.

Dengan demikian dari sudut agama, religiositas itu berasal dari kerinduan umat beriman untuk menghayati, mengungkapkan dan memahami misteri Allah. Religiositas sebagai bentuk ungkapan iman umat manusia. 

Religiositas merupakan bentuk-bentuk nilai yang bertujuan mencari Allah dan mencari kesempurnaan. Nilai-nilai itu tidak dapat dipisahkan dari peran serta manusia dalam usaha berkomunikasi dengan Allah. Tujuan dari relasi manusia dengan Allah adalah untuk mencapai kesempurnaan manusia. Maka dalam religiositas terkandung unsur-unsur religius, kegiatan devosional, ritual, tradisi keagamaan dan kesalehan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun