Mohon tunggu...
Dimas Prasetyo
Dimas Prasetyo Mohon Tunggu... Mahasiswa

Menulis adalah mengeluarkan energi yang negatif dalam diri dan dijadikan sebuah rangkaian kata yang menjadi kalimat per kalimat

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Memanfaatkan Ketakutan Masyarakat dengan Menaikkan Harga Masker, Begitu Kejamkah Bisnis?

4 Maret 2020   16:10 Diperbarui: 4 Maret 2020   16:16 36 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memanfaatkan Ketakutan Masyarakat dengan Menaikkan Harga Masker, Begitu Kejamkah Bisnis?
Sumber Foto: suara.com

Setelah diumumkan oleh Presiden Jokowi bahwa virus Corona telah berada di Indonesia yang pada hari senin, bahwa ada dua orang yang positif terjangkit virus Corona dan mereka bertempat tinggal di Depok, Jawa barat. 

Semakin menakutkan virus Corona ini, tetapi sejumlah oknum memanfaatkan momen ini untuk menaikkan harga masker yang mereka jual, bahkan e-commers atau situs online pun harganya juga melambung tinggi, semakin diminati dan dibutuhkan masyarakat semakin naik harganya dan memanfaatkan ketakutan masyarakat akan virus Corona. Artinya walau harganya mahal tapi lebih mahal harga kesehatan kita. Karena kita berlindung dari slogan lebih baik mencegah daripada mengobati. 

Entah apa yang merasuki para produsen masker yang tega menaikkan harga masker hingga 10 kali lipat, dilansir dari CNBC bahwa harga masker, seperti harga masker yang biasa dipakai ojek online mencapai Rp 400 ribu per box bahkan untuk masker N95 mencapai Rp 2 Juta per box, bahkan harga Jahe ikutan naik jadi Rp 40.000/KG dari Rp 20.000/KG sangat menyedihkan, dimana saat semua masyarakat ketakutan dan terus mencari pencegahan alternatif tapi para produsen masker tenang saja bahkan merasa tidak berdosa menaikkan harga masker ditambah harga hand sanitizerr juga naik

Semua kebutuhan untuk mencegah masuknya virus Corona ke dalam tubuh harus dibayar mahal agar virus Corona tidak masuk ke tubuh kita. Jangan sampai ya, lebih baik jaga kesehatan, cuci tangan sebelum dan sesudah beraktifitas dan selalu waspada terhadap orang yang sedang sakit atau saat berjabat tangan, mungin agak berlebihan namun sementara ini demi menjaga kesehatan kita dan sekitarnya.

Virus Corona atau Covid -19 ini juga menimbulkan banyak polemik banyak acara yang tertunda dan terganggunya kestabilan ekonomi yang mengalamai penurunan. Menurut Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), pertumbuhan akan terus ekonomi terus menurun yang berkisar di angka 2,4%, bahkan turun ke angka 2,9% pada bulan November.

apabila wabah ini terus belanjut, maka pertumbuhan ekonomi hanya 1,5%. 

Kenaikan harga masker dan teman temannya yang tidak wajar makin menambah pelik bagi perekonomian negara dan masyarakat karena diperkirakan harga bahan pokok juga akan naik mencapai 30 %.

Begitu kejamnya kah bisnis sekarang, di mana keuntungan adalah segalanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga memenuhi gaya hidup yang semakin konsumtif untuk mendapatkan predikat di masyarakat dan juga memenuhi hasrat akan keingininan dibandingkan kebutuhan yang terus dibayang bayangi oleh trend di social media, mulai dari fashion sampai dengan kuliner.

Apakah bisnis akan terus seperti ini atau akan ada yang lebih kejam dari ini? kita juga tidak tahu.

Ketika demand yang tinggi maka harga juga pasti naik demi meraup keuntungan yang sebesar besarya dengan tempo sesingkat singkatnya. 

Apakah tujuan berbisnis telah berubah arah bahwa keuntungan adalah segala galanya dibandingkan menjadi dampak positif membantu masyarakat, layaknya sebuah Startup, apakah Startup diciptakan hanya untuk mencari keuntungan semata dan bukan memudahkan masyarakat luas? Uang adalah segalanya, tapi apakah segalanya untuk uang? Mungkin iya.

VIDEO PILIHAN