Jakarta

Kusutnya Penataan Tanah Abang Era Anies-Sandi

11 Maret 2018   10:17 Diperbarui: 11 Maret 2018   10:29 1152 18 8
Kusutnya Penataan Tanah Abang Era Anies-Sandi
http://mediaindonesia.com/files/news/2018/01/fot-201712-003052.jpg

"If everyone is moving forward together, then success take care of itself"

Henry Ford

Seorang pemimpin harus melakukan komunikasi dalam menjelaskan tujuannya. Hal tersebut harus disampaikan secara tegas dan tidak bertele-tele agar maksud dan tujuannya dapat dipahami. Selama menjalani proses dari tujuan yang ingin dicapai, seyogyanya suatu ketegasan tetap dipegang teguh dalam menjalankan misinya. Ketika ketegasan itu tidak diaplikasikan, yang terlihat hanyalah seorang pemimpin yang "mencla mencle", mencari alasan dan kambing hitam, serta tidak berwibawa.

Hal itu mulai terlihat dari sikap pemimpin DKI kita yang mulia dan tercinta. Selama berbulan-bulan, polemik dan kontroversi dari penataan kawasan Tanah Abang belum juga usai. Banyaknya tekanan dan protes dari berbagai pihak menyebabkan pimpinan di Balaikota Jakarta  berencana untuk membuka kembali Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang. Jalan inilah yang menjadi sumber kontroversi dari proses penataan Tanah Abang. Perlu diketahui, jalan ini ditutup sebagian oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menjadi wadah bagi PKL berjualan. Penutupan jalan ini mendapat kritik dari pihak kepolisian, protes dari sopir angkot serta gugatan dari Cyber Indonesia.

Oleh karena banyaknya protes dan tekanan, maka Pemprov DKI melakukan survey terkait penataan daerah ini. Akan tetapi, hasil survei yang seharusnya diumumkan pada Jumat (9/3/2018) urung dilakukan karena terkait harusnya koordinasi terlebih dahulu dengan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya. Berdasarkan advicebeberapa pihak, hasil survei sebaiknya dikomunikasikan terlebih dahulu ke para stakeholder (pemegang kepentingan) yang salah satunya pihak kepolisian (Kompas.com). Selain itu, konsep penataan Tanah Abang tahap kedua juga belum diumumkan, karena Pemprov DKI tidak ingin terburu-buru dalam mengumumkannya. Terburu-buru dalam bertindak akibat tekanan "netizen", menurut Wagub Jakarta Sandiaga Uno, menyebabkan sosialisasi yang kurang dengan para stakeholder (Kompas.com).

Terlepas dari ditundanya pengumuman hasil survei dan konsep penataan Tanah Abang tahap 2, mari kita beralih ke pemeriksaan Dinas Perhubungan yang dipanggil polisi untuk dimintai keterangan tentang ada atau tidaknya tindak pidana dalam penutupan Jalan Jatibaru Raya. Wakadishub Sigit Wijatmoko membantah dalam pertanyaan yang diajukan polisi bahwa Dishub belum melakukan sosialisasi dengan pihak kepolisian tentang penutupan jalan (Merdeka.com). Akan tetapi, kenyataannya sosialisasi tersebut seakan-akan hanyalah penyampaian, tanpa menerima masukan dan kritik dari pihak kepolisian (Tempo.co).

Berita itu membuat saya berpikir, dalam penataan Tanah Abang, sikap kepemimpinan yang ditunjukkan Pemprov DKI patut dipertanyakan. Komunikasi dan sosialisasi yang kurang menyebabkan tabrakan kepentingan dari berbagai pihak. Ketika anda seorang pemimpin, dan pihak yang bersangkutan di bawah anda tidak setuju, maka apakah anda yakin tujuan anda akan tercapai? Bisa saja komunikasi itu tidak secara tegas disampaikan atau saran dari pihak terkait tidak didengarkan. Apakah kepemimpinan Pemprov DKI terlalu tegas? Jawabannya tidak. Protes oleh netizen mengenai penataan Tanah Abang yang penuh kontroversial justru dikambing hitamkan dan menjadi alasan kacaunya penataan. Di mana kewibawaan pimpinan jika rakyatnya sendiri yang disalahkan? Mencla Mencle anda ini.