Mohon tunggu...
Diaz Abraham
Diaz Abraham Mohon Tunggu... Jurnalis - Penyesap kopi, pengrajin kata-kata, dan penikmat senja

Peraih Best Feature Citizen Jurnalis 2017 dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) | Sisi melankolianya nampak di Tiktok @hncrka | Narahubung: diazabraham29@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Piala Dunia 2022 Qatar Sebatas Turnamen Hampa

20 November 2022   20:12 Diperbarui: 22 November 2022   08:00 689
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Wadah untuk melupakan sejenak letihnya mencari nafkah jadi menghilang. Percakapan antara si kaya dan terpelajar dengan masyarakat miskin serta intelektual rendah makin jarang. Transfer ilmu yang dulu bisa dilakukan dengan mudah walau hanya sebulan saja jadi sirna.

Sumber: medcom.id
Sumber: medcom.id

Padahal sekarang adalah awal yang bagus untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, tak hanya soal ekonomi tapi politik. Beberapa kali menyambangi warung kopi ataupun sekedar rehat sejenak di pinggir jalan, perbincangan yang dikatakan adalah soal berita bohong mengenai pemerintahan, perang, dan segala tetek bengeknya.

Di tengah geger perekonomian tahun 2023 yang lebih suram dari sebelumnya dan pelampiasan yang terasa kurang, tingkat stres semakin meningkat dan jadi bom waktu yang bisa meledak di tahun depan jika semua tafsiran ekonomi ini terjadi.

Saat itu, setelah semua kebencian memuncak karena informasi bohong merasuk kedalam pikiran, ditambah kesulitan ekonomi, demo, huru hara bisa terjadi. Kemunduran bangsa menjadi ujung yang paling menakutkan.

Agenda media memperparah masalah ini. Kebanyakan dari mereka menitik beratkan pada masalah yang terjadi pada penunjukkan Qatar sebagai tuan rumah beberapa minggu sebelum gelaran ini resmi berlangsuing pada 20 November 2022.

Isu-isu mengenai peraturan yang ditetapkan oleh otoritas di sana turut menjadi perhatian. Banyak pihak menyebut kalau negara Timur Tengah ini melanggar hak seseorang untuk berekspresi dan mengkebiri kebebasan.

Semua ini membuat Piala Dunia kehilangan gegap gempita dan kebahagiaan. Semua tergantikan oleh kemewahan yang berujung pada pendapatan penyelenggara bersama FIFA sebagai induk organisasi sepakbola dunia.

Presiden FIFA bahkan membela habis-habisan Qatar sebagai penyelenggara turnamen tahun ini walau tahu nada sumir nyaring terdengar di depan pintunya. Gianni Infantino bahkan pindah ke Qatar selama penyelenggaraan Piala Dunia nanti.

Padahal dia adalah Presiden sepakbola, bukan presiden dari turnamen empat tahunan ini. Urusan sepakbola sepertinya telah habis dikupas untuk kepentingan bisnis dan mengkerdilkan nilai pembuatannya di masa lampau.

Seperti yang banyak dibertikan kalau Piala Dunia kali ini jadi edisi paling mewah yang pernah dibuat. Dia ingin menjadi gerbang terdepan untuk menghalau semua berita miring penyelenggaraan turnamen tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun