Mohon tunggu...
Diaz Abraham
Diaz Abraham Mohon Tunggu... Jurnalis - Penyesap kopi, pengrajin kata-kata, dan penikmat senja

Peraih Best Feature Citizen Jurnalis 2017 dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) | Sisi melankolianya nampak di Tiktok @hncrka | Narahubung: diazabraham29@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Brexit: Ketika Kongsi Dagang Uni Eropa Runtuh, Bagaimana dengan MEA dan Indonesia?

27 Juni 2016   10:15 Diperbarui: 27 Juni 2016   12:51 1374
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sekarang telah marak datangnya pekerja asing ke Indonesia, walaupun gaung MEA belum terdengar deras tetapi masyarakat telah mengeluhkan gelombang serbuan tenaga kerja asing terutama berasal dari Tiongkok. Upah minim dan kompetensi lebih baik dari pada penduduk lokal, membuat tenaga orang-orang tiongkok ini lebih dioptimalkan. Pandangan stereotip menjadi ganjalan lagi, sebuah pemikiran yang diwariskan oleh Belanda memang sulit dihilangkan dari negri ini.

Stereotip tadi bisa saja membawa pergeseran sosial di masyarakat akibat kecemburuannya terhadap pekerja asing karena semakin banyaknya mereka masuk ke Indonesia. Semakin banyaknya pekerja dari luar juga memperkecil kesempatan kerja penduduk Indonesia.

Kesenjangan ekonomi bisa terjadi. Warga Indonesia yang tidak mendapat pekerjaan bisa menjadi kriminal, tingkat kriminalitas pasti akan meroket tajam. Jika semuanya benar adanya, perpecahan akibat kecemburuan pribumi dengan pekerja luar bisa membuat fatal pembunuhan dan pemberontakan bisa kembali terulang.

Bagaimana dengan kesempatan bekerja di luar negri? Seorang penerima kerja pasti melihat calon pelamarnya lewat latar belakangnya terutama pendidikan dan keahlian. Di negara ASEAN salah satunya Singapura, memiliki sertifikasi tersendiri jika ingin bekerja. Semua calon pekerja harus mengikuti pelatihan untuk memenuhi standarisasi di sana.

Pendidikan Indonesia sendiri bukanlah yg terbaik di daratan ASEAN liat saja dari daftar 100 perguruan tinggi di dunia tidak ada nama perguruan tinggi indonesia di dalamnya. (Sumber)

Bisa jadihanya segelintir warga Indonesia mampu bersaing di luar negri. Atau lihatlah Britania Raya, di negara tersebut mayoritas penduduknya bekerja di posisi atas dan pekerja dengan posisi bawah adalah pekerja dari luar negri dan tergabung dalam Uni Eropa atau imigran.

Tingkat regulasi di Indonesia juga masih lemah. Dengan diberlakukannya pasar bebas, investor asing akan menjadi tombak ekonomi Indonesia. Regulasi yang kurang mengikat bisa saja eksploitasi kekayaan alam Indonesia, karena kita tahu bersama bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam berlimpah dan berbeda dari negara manapun. Bisa jadi kerusakaan alam menjadi momok besar selanjutnya.

Demonstrasi 1998 (www.dw.com)
Demonstrasi 1998 (www.dw.com)

Dengan penanaman modal asing, Indonesia akan terus menerus bergantung pada negara luar, imbasnya pun pernah kita rasakan tahun 1998. Akibat krisis moneter yang melanda dunia dan kebijakan Presiden Soeharto pada waktu itu memberikan keleluasaan investasi bagi asing membuat ekonomi Indonesia kolaps karena pemodal asing mulai menarik diri dari Indonesia.

Gelombang pemecatan masal atau PHK terjadi di Indonesia. Masyarakat yang geram melakukan demonstrasi, penjarahan dan pencurian terjadi di mana-mana. Ekonomi Indonesia terus merosot dan berujung pada "pengunduran diri" jika ditinjau dari pidato terakhir Soeharto di Istana Negara.

Era Presiden Soekarno dengan taglinenya yaitu Berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri, Indonesia sudah mengenal modal asing. Tetapi jumlahnya tidak banyak dan disertai regulasi tinggi negara, sehingga negara mampu mengawasi perkembangan investasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun