Mohon tunggu...
Diana Lieur
Diana Lieur Mohon Tunggu... Administrasi - Cuma orang biasa

No matter what we breed; "We still are made of greed"

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Perkenalkan, Kami yang Terbiasa Meminta Maaf Setelah Viral di Media Sosial

20 September 2019   16:59 Diperbarui: 21 September 2019   20:27 1204
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hemmm, atau nggak video tentang seorang anak yang (maaf) tega menendang Ibunya sendiri. Pernah lihat?

Kalau pernah, yesss selamat! Karena Anda telah membantu dan membuat mereka viral sehingga mereka mau meminta maaf atas perbuatan bar-barnya tersebut. 

Hal itu tidak dapat dipungkiri, sebab seperti itulah adanya keadaan masyarakat kita di era digital saat ini. Yakni, viral dulu baru minta maaf.

Berbeda dengan Pak Ogah yang memiliki kebiasaan "Gopek dulu dong, baru boleh lewat!" Masyarakat kita saat ini juga memiliki kebiasaan baru, yakni "Viral dulu dong, baru minta maaf!"

Loh berarti bagus dong dengan adanya media sosial, itu tandanya the power of social media benar-benar menyadarkan mereka atas kesalahannya tersebut. So, what's wrong?

Sejatinya, memang tepat sekali. Berkat adanya media sosial, sebagian masyarakat yang berbuat salah dan viral di media sosial akan meminta maaf di hadapan pihak yang dirugikan serta di hadapan umum. 

Namun yang menjadi pertanyaannya adalah kenapa harus viral dulu, baru mau minta maaf? 

Sebab tidak ada yang mampu menjamin bahwa permintaan maaf tersebut benar-benar murni karena daya sadarnya akan kesalahan yang dilakukan, bukan karena terlanjur viral di media sosial. Who knows?

Mari kita sedikit berandai-andai, bagaimana jadinya jika sebuah kesalahan yang dilakukan seseorang ternyata tidak viral di sosial media, rasanya tidak ada yang mampu menjamin bahwa pelaku akan meminta maaf atas kesalahannya tersebut. 

Sebab yang menjadi letak persoalannya, bukanlah pada masyarakat yang selalu berbuat kesalahan, toh hal itu lumrah karena manusia memang tempatnya berbuat salah. 

Melainkan ada daya sadar yang sedikit demi sedikit mulai tergerus karena kebiasaan baru ini. Yakni tergerusnya tingkat kesadaran masyarakat untuk mengakui sebenar-benarnya dan meminta maaf atas kesalahan tersebut, meski dengan atau tanpa viral dahulu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun