Mohon tunggu...
Ayu Diahastuti
Ayu Diahastuti Mohon Tunggu... karyawan swasta, ngajar math, seneng jalan, love to share inspirasional life stories (asal ga hibah, hehehe), sukai nulis, ndengerin musik, nyanyi, n suka baca buku meski slow reader...

karyawan swasta, seneng jalan, love to share inspirational life stories (asal ga gibah hehehe), nulis, sukak denger musik n nyanyi, suka baca buku meski slow reader..

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Balada Lelaki Tua dan Sekotak Nasi

14 September 2019   08:40 Diperbarui: 14 September 2019   08:50 0 7 4 Mohon Tunggu...
Puisi | Balada Lelaki Tua dan Sekotak Nasi
Ilustrasi: pixabay.com ( diolah kembali oleh penulis)

Larut di bawah matahari yang masih giat menyengat ubun-ubun tukang borongan di pinggir jalan, lelaki tua ikut dalam barisan lelaki pemecah mimpi

Lelaki tua menghela kembali nafasnya, disela kerinduan matahari siang tuk membakar ototnya yang telah mulai keriput. 

Debu dan asap hitam menyambutnya sejak pagi tadi, berlomba mengotori tubuh renta sang pejuang mimpi, mencoba menenun harap demi senyum sang istri

Lelaki tua duduk termangu menatap riuh jalan, penuh mobil berdesakan bertumbuh dan beranak, setiap hari berkembang dan bertambah banyak. Peluh dan keringat membasahi tubuh dan tulangnya yang makin mengering.

Lelaki tua membuka bekal makan siang terbaiknya, gurih nasi putih dan sepotong tahu bacem, serta sedikit sambal ternikmat, yang dibumbui rasa cinta yang hangat dari wanita tuanya.

Oh, bukan lunch mewah dengan meja buffet penuh aneka hidangan dengan hiasan nan megah. 

Sekotak nasi putih yang dibawanya pagi tadi penuh harap dan ucap, kan ada nikmat yang mampu ia kecap.

Sekotak nasi ia nikmati, memberi kenikmatan yang pasti tanpa basa basi. Sekotak nasi kembali memberi sebakul tenaga tuk pulihkan raga, memecah batu, menghalau debu.

Tak perlu era dan waktu tuk tentukan akhir dari semua nikmat yang terasa, hanya aba-aba si mandor yang tertekan target kerja.

Sekotak nasi bersahabat erat dengan lelaki renta dimakan jaman, menanti senja berada di ujung jalan, dan menepi

Menjalin rajutan peluh tanpa keluh di atas roda sepeda tua, beranjak pergi tinggalkan waktu yang menggulung tikarnya, memanggul era, songsong senyum manja di sudut bibir wanitanya yang telah termakan usia

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
14 September 2019