Mohon tunggu...
Dhanang DhaVe
Dhanang DhaVe Mohon Tunggu... Dosen - www.dhave.id

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat bercengkrama dengan alam bebas www.dhave.net

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ragam Bentuk Kemasan Daun Pisang

12 Juli 2022   10:33 Diperbarui: 12 Juli 2022   10:34 195 7 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Jenis-jenis kemasan daun pisang dan makanannya (dok.pri).

"Mas enak mana, tempe yang dikemas dengan daun atau plastik" tanya saya pada mas Yuli kemaramen salah satu stasiun televisi. "Kalau saya suka yang dibungks daun jati, aromanya apek dan sedep, dan rasanya gurih" jawabnya.

Saya selama ini hanya mengenal pincuk, yakni kemasan dari daun pisang untuk tempat pecel atau bubur. Ternyata, ada 9 jenis nama model kemasan dari dari daun pisang; pincuk, tum, takir, pasung, sudi, pinjung, tempelang, sumpil, dan samir. Masing-masing kemasan tersebut memiliki fungsinya masing-masing, sehinga tidak asal mengemas.

Jenis kemasan daun pisang (dok.pri).
Jenis kemasan daun pisang (dok.pri).
Neneng moyang pendudu Nusantara, yakni orang-orang Austronesia memiliki teknologi dalam dunia kuliner, yakni memanfaatkan beragam jenis daun sebagai pembungkus. Sebagai pembungkus makanan, daun bermanfaat sebagau wadah, melindungi dari kerusakan, memudahkan saat membawa atau mengolah, mengawetkan, ada nilai estetika dan budaya, dan yang tidak kalah penting adalah ada tambahan manfaat dari daun terhadap makanan.

Perkembangan dunia modern menuntut kepraktisan, ekonomis, ketersediaan, higienis, dan fleksibilitas, dan kemasan makanan masuk di dalamnya. Saat ini, sangat susah ditemukan makanan tradisional yang dikemas dengan daun dan sudah tergantikan dengan plastik. Alasannya jelas, di atas tadi. Produsen makanan memilih plastik karena dirasa bisa menggantikan daun sebagai pengemas dan masyarakat bisa menerimanya.

Menikmati sajian makanan yang dibungkus daun pisang (dok.pri).
Menikmati sajian makanan yang dibungkus daun pisang (dok.pri).
Dengan segala kelebihan plastik sebagai pengemas, tentu saja bertentangan dengan kelebihan dari kemasan daun. Dalam jumlah yang masif, plastik akan memberikan permasalahan bagi lingkungan yakni sampah. Berbeda dengan daun yang lambat waktu akan terurai dan lebih ramah lingkungan, meskipun akan mendapat predikat yang sama yakni sebagai sampah.

Daun, dalam beberapa penggunaan sebagai bungkus akan memberikan tambahan rasa, aroma, dan warna. Makanan akan lebih terasa sedap dan nikmat jika di suguhkan dalam daun seperti nasi liwet diatas daun pisang atau nasi jamblang di atas daun jati, bandingkan jika dilapisi dengan kertas nasi yang terbuat dari plastik dan kertas. Lemper, arem-arem, ketupat, dan lontong adalah beras atau nasi yang dikemas dengan daun kemudia di kukus atau direbus. Setelah matang akan muncul noda warna kuning atau hijau, dan itu yang menjadi penciri khas ada pigmen alami dari daun yang meresap dalam makanan. Bagaimana dengan plastik, yang masuk bisa saja kandungan mikroplastik yang bisa berbahaya bagi tubuh.

Orang jaman dulu konon sehat-sehat, karena yang dikonsumsi masih alami-alami. Sebenarnya tidak sepenuhnya benar, sebab semua bisa berpotensi terkena penyakit, tetapi yang membedakan adalah apa yang direspon oleh tubuh. Sebut saja, semua orang berpotensi kanker. Daun sebagai pengemas bisa menjadi salah satu sumber antioksidan yang bisa melawan kanker. Daun mengandung senyawa-senyawa bioaktif yang dapat meresap dalam makanan dan bisa masuk dalam tubuh dan menjadi antioksidan. Bagaimana dengan plastik, bisa sedikit terbalik sebab di dalamnya ada bahan-bahan karsinogen yang justru bisa  masuk dan memicu kanker.

Daun yang kini semakin tersisih, sepertinya harus dikembalikan pada fungsinya dengan melihat kemanfaatannya. Kebetulan saya ada sedikit ide, bagaimana mengajak anak-anak muda untuk mengenal daun sebagai pembungkus. Saya ajak mahasiswa saya untuk membuat pembungkus makanan dari daun dan berikut dengan isinya. Tugas ini adalah bagian dari ujian akhir semester, yang menilai nantinya adalah para pengunjung yang akan menikmati sajian makanan berbungkus daun pisang.

Semua bisa dinikmati secara cuma-cuma (dok.pri).
Semua bisa dinikmati secara cuma-cuma (dok.pri).
Ada 10 menu dan jenis pembungkusnya yang disajikan dalam kegiatan ini; Pecel (Pincuk), Cenil Singkong (Sudi), Pepes Ikan Pindang (Tum), Kue Apem (Pasung), Lupis Ketan Saus Kinca (Sumpil), Kue Bugis Pandan (Pinjung), Nagasari (Tempelang) ,Mie Koclok (Takir)
, Bubur Sum-sum (Pincuk) , dan Klepon (Sudi). Ada 200 menu yang bisa disantap pengunjung secara cuma-cuma dan bisa berkesempatan untuk bertanya seputar makanan dan pembungkusnya.

Kegiatan tidak hanya sebatas memamerkan makanan dan bungkusnya, ada juga workshop bagaimana membuat kemasan dari daun pisang. Tidak semua bisa melipat daun kemudian mengunci dengan menggunakan lidi. Jika tidak paham triknya, daun justr akan mudah sobek atau tidak bisa dilipat dengan baik. Ada perlakuan pada daun, seperti harus dilayukan, dipanaskan atau memilih dauh yang masih muda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan