Mohon tunggu...
Dhani Sugesti
Dhani Sugesti Mohon Tunggu... Penulis Sastra

Penulis Buku Sastra Jingga, Sajak Yang Terlupakan, dan antologi lainnya.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Terus Tingkatkan Dunia Pendidikan

2 Mei 2019   22:08 Diperbarui: 2 Mei 2019   22:14 0 2 0 Mohon Tunggu...

Dari dua tanggal awal bulan Mei ini, 1 dan 2, sama-sama dirayakan sebagai Hari Nasional, 1. Hari Buruh, 2. Hari Pendidikan.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah para buruh sudah banyak yang terdidik (SDM Unggul), atau pendidikan yang hanya mampu ciptakan buruh?

Para buruh menghendaki peningkatan layanan, jaminan, dan kesejahteraan. Salah satunya penghapusan outsourcing. Sedangkan pendidikan kita mengharapkan adanya perbaikan karakter bangsa yang berbudaya, cinta dan membangun negeri.

Di lihat dari urutan perjalanan hidup manusia, pendidikan jelas yang paling awal diberikan kepada anak bangsa. Baru setelah mereka selesai menempuh pendidikan, kembali ke masyarakat, berkarya nyata, salah satunya (yang paling umum) adalah menjadi pekerja buruh.

Dengan demikian, pendidikan haruslah lebih utama diperhatikan oleh pemerintah dan elemen bangsa, agar tidak terus menerus mengalami stagnasi bahkan degradasi mutu dan kualitas dari proses panjang pendidikan yang dijalani anak bangsa.

Pendidikan usia dini, pendidikan agama, pendidikan budaya dan karakter bangsa, pendidikan keterampilan dan siap kerja, sampai pendidikan pengembangan ilmu pengetahuan dan saintek, adalah tahapan-tahapan yang tidak boleh lepas dari perjalanan seorang pelajar dalam menempuh pendidikan di sekolah.

Sudahkah anak-anak kita menguasai itu semua?

Realitas buruh yang kita lihat asal dapat kerja, tanpa memiliki keterampilan di bidangnya, bahkan sering kali bermasalah dalam kinerja, menjadi bukti pendidikan keterampilan dan siap kerja masih kurang diterapkan di sekolah.

Sekolah-sekolah menengah kejuruan, yang notabene spesial memberi bekal keterampilan kerja di bidangnya pun, masih belum sepenuhnya unggul dan kompeten, menghasilkan output yang profesional. Masih dibutuhkan pelatihan-pelatihan lanjutan agar tenaga kerja benar-benar siap secara keilmuan, skill dan profesionalismenya.

Begitu pula dengan keberadaan perguruan tinggi yang seharusnya menciptakan sarjana-sarjana berkualitas dan profesional di bidang keilmuannya, banyak mengalami degradasi dari banyak lini. Baik itu kekurangan tenaga pengajar (dosen), minimnya sarana dan dana penunjang penelitian imiah, hingga budaya perkuliahan yang hanya mengejar prestise, ijazah, dan basic need lembaga pendidikan itu sendiri.

Asrowi, sahabat dosen saya pernah berkata bahwa, lembaga pendidikan kita pada umumnya masih berkutat pada pemenuhan income basic need-nya saja, wajar jika hanya menghasilkan output kurang berkualitas yang 'siap pakai' di lapangan. Umumnya, masih mengejar prestise, kelulusan dan dapat ijazah Sarjana untuk dapat melamar kerja.

Ketika pelajar atau para sarjana itu masuk dunia kerja, sebagai buruh, jangan heran bila kualitas keilmuan dan kinerja merekapun belum mumpuni, atau kurang profesional.

Hal ini dikarnakan kurangnya perhatian serius dari pemerintah dan elemen bangsa, untuk lebih fokus memperhatikan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) para pendidik (guru dan dosen), dan sistem pendidikan yang tengah diujicobakan, untuk bisa menghasilkan generasi penerus bangsa yang bukan mengejar kelulusan dapat ijazah (sebagai syarat melamar kerja). Tapi menciptakan para pelajar dan mahasiswa yang benar-benar memiliki kompetensi keilmuan dibidangnya, memiliki bekal life skill, berkarakter dan profesional.

Tidak perlu lagi diadakan diklat-diklat profesionalisme, jika di sekolah, lembaga-lembaga pendidikan, universitas-universitas, semuanya sudah terakomodir dalam satu sistem pendidikan yang benar-benar memperhatikan itu semua (Kompetensi keilmuan, Life skill, karakter bangsa dan profesionalitas).

Semoga manfaat.