Mohon tunggu...
Devina Tsabitah
Devina Tsabitah Mohon Tunggu... Mahasiswa - mahasiswa

KKM 197 UIN Malang 2023

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Pagi ke Pagi bersama Bapak Ibu

19 Maret 2021   00:22 Diperbarui: 19 Maret 2021   00:35 384
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Biasakan buat nolong, bantu, berbuat baik sama orang lain, karena kita ga bakal tahu kebaikan mana yang akan nolong kita nantinya." Kurang lebih itu kata-kata mutiara dari bapak yang selalu terngiang. Ada juga kata bijak lainnya yang kudapat dari Ibu, "Tetaplah berbuat baik sekalipun orang itu tak sebaik itu ke kamu." 

Bapak dan Ibu selalu memberi petuah baik secara langsung dan tidak langsung. Diam-diam kebijaksanaan mereka lah yang membuatku termotivasi ingin menjadi lebih baik lagi. 

Sebenarnya jujur saja kalau orang lain menyuruhku untuk menceritakan tentang bagimana orang tuaku, ataupun hanya sekedar menuliskannya, aku akan menjadi orang yang bingung. 

Bukan karena apa-apa, tapi terlalu banyak hal yang ingin ku-narasikan. Ya sudahlah ya, izinkan jemari anak pertama dari Ibu dan Bapak ini menuliskan sedikit kisah curhatnya tentang sosok orang tua yang amat disayanginya.

Memulai hari dari pagi ke pagi dengan label sebagai orang tua dari anak-anaknya,  Bapak yang selalu mengantarkan aku dan adik ke sekolah lalu berangkat kerja. Sedangkan ibu tetap tinggal di rumah mengurusi pekerjaan rumah ataupun terkadang juga menemani eyang. 

Bagiku Bapak dan Ibu adalah orang yang tak kenal lelah dan penuh kasih untuk anak-anaknya. Bapak sebagai sosok pekerja keras dan bertanggung jawab, hal itu tak akan lepas dari pikiranku jika ada yang menanyakan bagaimana sosok ayah di mataku. Sedangkan Ibu menjadi orang yang penuh dedikasi dengan kasih sayangnya selalu available kalau istilah inggrisnya.

Cerita dimulai dari sosok ayah yang kupanggil Bapak, dimana beliau benar-benar tak pernah menyerah untuk bertanggung jawab dan menafkahi keluarganya. 

Sejak aku kecil aku selalu melihat Bapak berganti-ganti pekerjaan, bahkan aku sangat kagum beliau pernah mencoba berbagai hal dalam hidupnya. Mulai dari menjadi sales rokok, penggiling plastik, penjual bahan kimia, mandor, sopir taksi, hingga tak jarang pula bapak merintis berbagai usaha. 

Usaha yang dibangun beliau mulai dari ternak lele, produksi bumbu pecel, jual krupuk, dan rasanya masih banyak lagi yang belum disebutkan. Bisa jadi juga masih banyak pekerjaan Bapak lainnya yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. Beliau benar-benar orang yang pantang menyerah.

Bapak juga selalu bisa menjadi kawan cerita dan diskusi yang seru bagi anak-anaknya. Terlebih jika Bapak dan aku sudah membicarakan suatu hal yang mana kita sama-sama tertariknya, seperti sejarah, ekonomi, hingga teori konspirasi (ketawa dulu yuk). 

Bahkan yang tak jarang pula kita berdiskusi dengan mempertahankan persepsi atau opini masing-masing, bisa dibilang sedikit berdebat sih hehe. Tapi tenang saja karena kita tak pernah berdebat hingga terbawa emosi, hanya sampai pada titik bertukar pendapat saja. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun