Mohon tunggu...
Detha Arya Tifada
Detha Arya Tifada Mohon Tunggu... Editor - Content Writer

Journalist | Email: dethazyo@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Meriahnya Disambut oleh Tari Dalling Khas Suku Bajau

28 Mei 2016   04:36 Diperbarui: 6 Juni 2016   03:27 530
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Seumur-umur ke Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, baru kali ini kedatangan di sambut dengan begitu meriah, lewat tarian pembuka, dilakon kan oleh 4 perempuan muda cantik jelita, gerakan demi gerakan seakaan memaksa kita terhanyut dalam kedamaian seketika.

Disambut layaknya tamu penting merupakan point menarik dalam kunjungan kali ini. Bukan malah terhanyut dengan melihat aktivitas penyu-penyu yang hilir mudik di atascottages yang kami tempati (Derawan Fisheries), tapi lewat indahnya gerakan tarian yang bernama Dalling serta irama musik khas yang dilantunkan walau hanya bermodal sound system seadanya.

Istimewa, begitulah yang tergambarkan, tarian penyambutan khas suku bajau yang segenap mendiami pulau terluar gugusan kepulauan kecil bagian Kepulauan Derawan ini, meski hanya di lakonkan oleh empat orang saja, tetapi bukan berarti para pelancong lainnya tak bisa ikut, penari dalling tak hanya sekedar menari, mereka pun turut mengamati wajah-wajah yang dilanda kebahagiaan. 

Ketika salah seorang dirasa cukup tepat, maka mereka langsung mendatangi, dan langsung mengalungkan sebuah selendang kehormatan yang menjadi penanda mereka harus menghormati dan menuju lantai dansa guna menari bersama mengikuti irama.

Bajoget bersama/ dethazyo
Bajoget bersama/ dethazyo
Ada yang masih malu-malu, ada pula yang terhanyut dalam gerakan. Bahkan diri pribadi ikut merasakan sensasi bergoyang bersama penari dalling, dan mudah ditebak ritme gerakan tak sama seperti empat perempuan muda yang membawakan tari ini. Meski begitu, hatipun cukup puas seraya mengingat kembali apa yang pernah diungkap oleh Martha Graham, salah satu pelopor dari munculnya modern dance yang kini kita nikmati ‘nobody cares if you can’t dance well, just get up and dance.’  

Tawa menjadi hal yang sering terdengar selama ritual penyambutan, masyarakat yang berada disekitar bahkan menjadi penonton setia bagaimana para penari dan pelancong melebur jadi satu. Seakaan memberikan sebuah pesan, kita adalah bagian dari masyarakat yang mendiami pulau Derawan.

Menelusuri Tari Dalling

gerakan tarian yang indah/ dethazyo
gerakan tarian yang indah/ dethazyo
Tarian satu ini jika ditelusuri melalui mesin pencari, fakta mengejutkan malahan yang didapat, ancaman punah menjadi isu yang berulang kali dilontarkan oleh ragam situs media online bahkan kabar tersebut telah dibenarkan oleh pemerintah setempat.

Asumsi bahwa tak adanya regenerasi dari yang tua ke muda suku Bajau menjadi faktor utama, tari dalling tersebut bahkan sempat tak dipertontonkan di muka umum untuk waktu yang lama. Beruntung orang-orang yang merasa terpanggil jiwanya kembali membuat tarian ini muncul ke permukaan. Meski dahulunya tarian di pertontonkan diacara tertentu, baik pesta adat, ataupun kegiatan keramaian di kampung, kini tarian tersebut telah menjelma sebagai tarian pembuka bagi siapa saja yang telah melangkahkan kaki ke Kalimantan Timur.

dilakonkan oleh 4 perempuan muda/ dethazyo
dilakonkan oleh 4 perempuan muda/ dethazyo
Dan tak disangka kini tarian tersebut telah dikembangkan menjadi 3 jenis, Dalling bujang kesayangan, dalling penyisilan, dan dalling dendan kelesahan. Satu tari yang sama tetapi memiliki makna berbeda dan diiringi musik yang tak sama. Semua itu berkat wanita tangguh bernama Nadawati yang beralamat di Pulau Maratua, pulau yang bertetangga dengan Pulau Derawan, tempat dimana kedua kaki berdiri.

saatnya beraksi/ dethazyo
saatnya beraksi/ dethazyo
Sayangnya, karena problema klasik, waktu. Kunjungan langsung kepada beliau tak memungkinkan untuk direalisasi. Padahal bisa bersua sembari bersilat lidah dengan beliau akan memberi oleh-oleh berupa nyawa yang nantinya bisa tertuang dalam tulisan ini. Diri pribadi hanya bisa memberikan rasa hormat yang setinggi-tingginya atas usahanya membuat tarian ini kembali dikenal dan jauh dari ancaman kepunahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun