Mohon tunggu...
Desy Pangapuli
Desy Pangapuli Mohon Tunggu... Penulis - Be grateful and cheerful

Penulis lepas yang suka berpetualang

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Pelecehan Seksual Salah Siapa?

14 Juni 2021   00:59 Diperbarui: 14 Juni 2021   01:08 2294
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bahkan kita juga menemukan fakta bahwa provinsi Aceh tergolong yang paling banyak mencatat kasus pencabulan terhadap perempuan dan anak-anak.  Padahal seperti diketahui bahwa provinsi Aceh sangat menjaga norma berpakaian dan pergaulan

Gambaran besarnya, ternyata martabat perempuan Indonesia di mata masyarakat belum sepenuhnya dianggap.  Masih ada sekelompok masyarakat yang menganggap perempuan sebagai obyek penderita, alias kaum lemah.  Sehingga tidak ada cara lain, perempuan harus berani bersikap.

Beberapa masukan untuk mendapatkan "keadilan" dan menghindar dari pelecehan seksual adalah:

  • Pendidikan seks, sangat perlu dimulai sejak usia dini.  Anak sudah dikenal pada pendidikan seks dengan materi disesuaikan umur.  Misalnya, ketika usia TK mereka sudah harus tahu perbedaan anak laki dan anak perempuan.  Diajarkan bahwa mereka harus menjaga diri, dan tidak boleh membiarkan orang menyentuh hal yang bersifat pribadi.  Seiring bertambahnya usia maka materi pun bertambah, misalnya tentang reproduksi dan menghormati/ menjaga diri.

  • Mengajarkan bela diri, termasuk salah satu cara melindungi diri dari pelecehan seksual.

  • Berani bersuara, dimana korban pelecehan seks diharapkan berani membuka mulut.  Ini penting agar tidak membiarkan pelaku terus lanjut dengan aksinya.

  • Mengedukasi masyarakat, dengan harapan masyarakan memahami yang dimaksud dengan pelecehan seksual, termasuk pelecehan seksual di dunia maya.

  • Sanksi tegas hukuman kebiri atau penjara seumur hidup bagi pelaku pemerkosaan

Sejatinya, kasus pelecehan seksual fokus kepada pelaku.  Sebab kita tidak bisa mengatur cara pandang, berpikir dan prilaku orang lain.  Buktinya sekalipun perempuan sudah berpakaian rapi dan tertutup, bersikap sopan dan bertutur kata santun.  Tetap tidak menutup kemungkinan adanya potensi prilaku kejahatan seksual.  Sehingga ini bukan sekedar salah siapa, tetapi bagaimana perempuan korban kejahatan/ pelecehan seksual mendapatkan keadilannya.

Jakarta, 13 Juni 2021

Sumber:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun