Mohon tunggu...
desi guswita
desi guswita Mohon Tunggu... Desi Kirana

Do it, get it. Sukai yang kamu buat, buat yang kamu sukai

Selanjutnya

Tutup

Novel

Pelaminan Kedua

16 Agustus 2019   13:37 Diperbarui: 16 Agustus 2019   13:39 0 1 0 Mohon Tunggu...


Setiap gadis yang akan melangsungkan pernikahan pasti merasa bahagia, hatinya pun berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Mimpi-mimpi yang selama ini menari dalam otak akan menjadi nyata. Tetapi tidak bagiku.

Pernikahan ini adalah mimpi buruk yang dihadirkan orang tua angkatku dengan dalih balas budi. Tapi, tetap saja itu sebuah pemaksaan kehendak terhadapku. Mereka tega membinasakan masa depan anak sendiri, rutukku.

Aku berusaha menata hati, menerima takdir dengan lapang dada. Meskipun semua ini tidak pernah aku harapkan. Aku tidak boleh menangis, aku harus kuat karna hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa melewati takdirku, hidup dengan laki-laki kurang waras yang baru saja menikahiku.

Setelah Penghulu menyelesaikan administrasi pernikahan, tibalah saatnya acara kedua untuk menyambut menantu baru di rumah kami. Baralek Gadang atau pesta pernikahan secara adat di Minang. Aku dan suamiku akan duduk di pelaminan sehari penuh, menunggu tamu dan kerabat memberi doa restu.

Setelah pakaian Anak Daro lengkap dengan sunting emas membungkus tubuh, kini aku dihadapkan dengan kelakuan aneh lelaki yang baru saja berganti status menjadi suamiku.

Dia menarik paksa aku masuk ke kamar pengantin, sedangkan di balik pintu yang tertutup banyak orang menunggu kami agar segera duduk di pelaminan.

Laki-laki gemuk bertubuh pendek yang tidak pernah sedikit pun kuberi rasa tersenyum aneh di tepian ranjang. Matanya melebar menatapku yang masih berdiri di samping lemari, aku risi dengan pandangannya.

"Kamu sudah siap, Lai?" Ah, ketika semua keluarga menunggu di luar kamar, dia malah bertingkah aneh.

Sepertinya lelaki itu tidak sabar menunggu malam, padahal acara helat belum lagi dimulai. Aku menggigit bibir, menahan perih yang mencabik jiwa. Demi harta, untuk kelancaran bisnis keluarga. Hari ini aku telah menjadi tumbal semua itu, tidak rela tapi apalah dayaku yang hanya anak angkat?

"Bang, kita tunggu malam, ya," lirihku, tetapi dia sepertinya memang tidak peduli.


"Duduk sini, atau aku tarik!" Ya Allah, kenapa engkau menggariskan takdir seperti ini?


"Bang, kita temui tamu dulu. Bukankah hari ini kita harus bersanding, nanti orang pada nanyain Abang." ujarku ragu. Mudah-mudahan dia mau mengerti, tidak mungkin aku menyerahkan kehormatanku di saat tamu dan kerabat menunggu kami segera keluar.

Meskipun dia sudah halal melakukan apa saja kepadaku tetapi keinginannya sangat tidak pantas, apalagi aku sedang memakai pakaian kebesaran perempuan Minang.

Lelaki itu memberungut dengan wajah kesal. Sepertinya dia sangat marah, terlihat dari tarikan napas yang membuat dadanya naik turun.


"Hei ... kau itu istri, aden!" Ya Allah, emosinya naik. Mungkin hasratnya sudah menggelora, apalagi akal yang dimilikinya kurang sedikit dari waras. Apa yang harus aku lakukan?

Hardikan laki-laki itu membuat nyali ciut, tubuhku mendesak ke pintu lemari. Wajahku pasti pias karena keringat dingin mulai terasa membanjiri punggung dan telapak tangan.

Bergegas lelaki tambun itu menghampiriku, tubuhku gemetar. Baru sebentar jadi istrinya aku sudah jantungan begini, bagaimana esok dan seterusnya?

"Kamu tidak mau memberikannya?" Suaranya meninggi disertai tatapan tajam, aku menunduk dan menelan ludah.

 Perlahan tangannya meraih dagu dengan kasar, cengkeramannya membuat aku meringis. Ketika wajah kami sejajar, sebuah pagutan kasar menarik bibirku hingga noda lipstik menyebar sampai ke dagu

Air mata menetes, sesakit inikah, dinikahi orang kurang waras? Mataku  terpejam menahan rasa takut yang teramat sangat, dada bergemuruh menahan sebak. Air mata yang tadinya membayang, kini luruh ke pipi. Semoga ada keajaiban yang membuat aku terlepas dari derita yang baru saja mulai.

"Hamdan, Laila!." Panggilan dari luar membuat Hamdan menghentikan perbuatannya, matanya menoleh pintu.

"Tamu sudah menunggu untuk salaman," suara Ibu membuat aku sedikit lega, kutarik tubuh menjauh dari gencetan Hamdan.

"Sebentar, Bu. Bang Hamdan lagi ganti baju." jawabku bergetar.

Walau bagaimana pun lelaki itu kini sudah menjadi suamiku dan aku harus menjaga martabatnya di hadapan orang banyak, aku harus belajar menjadi istri yang sabar meskipun terasa sangat sulit.

Mungkin ini jalan Tuhan agar aku selalu dekat denganNYA, sehingga dikirimkan NYA seorang lelaki seperti Hamdan sebagai pendamping hidupku.

Kurapikan kembali riasan wajah dan baju yang acak-acakan. Kulihat Hamdan memanjangkan bibir, dia masih marah. Panggilan ibu tadi membuat dia gugup.

"Kau keluar saja duluan, aku mau tidur!" Mataku berkaca-kaca, kutinggalkan perih bersama tubuh Hamdan di kamar sebelum tubuhku hilang di balik pintu yang tertutup.

**
Suara musik mulai riuh, beberapa orang saudara terdengar menyumbangkan suaranya sebagai hadiah pernikahanku dari atas pentas.

Berat langkahku melewati beberapa orang tamu yang duduk di ruang tengah, melebihi beratnya sunting yang bertengger di kepala. Aku melempar senyum sambil menahan air mata kepada mereka yang datang mengulurkan tangan.

"Selamat ya, Lai." ucap tek Yanti sambil mencium pipiku.

Hanya adik ibu kandungku ini yang mengerti bagaimana perasaan ku kini, "doakan, Laila kuat, ya, Tek." Bergetar suaraku menahan ledakan tangis yang tertahan.

Wanita bertubuh kurus dan tinggi itu merapatkan pelukan. Hanya dia satu-satunya keluarga yang tidak menerima perjodohanku, dia tidak kuat mendengar ocehan orang-orang di sekeliling kami yang menggunjingkan pernikahanku.
"Kasihan Laila, dia cantik dan sabar. Kok tega ya, Rehana dan Jamal menikahkannya dengan Hamdan yang stres itu?" Tunjuk Mak Uwo Limah menyilang di kening.
"Karna harta juo (juga), Limah. Kalau Laila tidak mau, ya, hancur usaha Jamal." Celetuk etek-etek bersongket merah.

Saat ini aku seperti orang pesakitan, ada yang kasihan ada yang menertawakan. Tek Yanti mengamit lenganku melewati tatapan sinis sebagian kerabat yang duduk berimpitan di ruang tengah.
 
Suara dentuman musik membuat jiwaku semakin hancur, apalagi aku harus duduk sendiri di pelaminan yang sudah dihias bagai singgasana kerajaan.

Kakiku gemetar saat menaiki tangga, Tek Yanti memeluk pundakku dari belakang dan berucap. " Kamu pasti kuat, sabar lah. Karena hanya itu yang terbaik." Dia juga yang akhirnya menemaniku duduk di pelaminan dan menjawab tanya ketika ada tamu yang bersalaman.

"Hamdan mana? Kok belum mendampingi Laila?"
"Oh, dia sedang ganti baju," jawabnya sambil tersenyum.

**
Cukup lama bagiku membuat perasaan  bersahabat dengan keadaan, mengulas senyum kepada tamu walau terasa sangat sulit.
 
Ketika perasaan mulai sedikit tenang, tiba-tiba terusik kembali dengan kedatangan seorang yang mengulurkan tangan. Matanya sembab, jemarinya bergetar, lirih ucapannya membuat air mata kembali mengalir.
 
"Semoga Kamu bahagia, aku tidak bisa memberi kado apa-apa. Hanya kepedihan yang ku antarkan melalui doa." Air mukanya mengeruh, laki-laki yang menjabat tanganku menitik air mata.

Cukup lama tangan kami saling menempel, tanpa kata. Hatiku sama hancur dengan hatinya, biar rasa ini kusimpan sebagai kenangan kalau aku pernah mencintai laki-laki tampan dan romantis seperti Ali.
"Sudah, jangan menangis lagi. Nanti bedakmu luntur," lirihnya, aku tahu saat ini pasti banyak mata tertuju pada kami.

Aku dan Ali sama-sama menarik tangan dengan tubuh terlonjak. Ketika suara hardikan mengalahkan suara musik yang menggema dari pintu rumah.

"Dasar wanita cilako( jahat) aden dikurungnya, eh, Kau malah bamantiak jo jantan lain!( genit dengan lelaki lain)" tubuh gempal itu melesat di antara kerumunan tamu yang antri bersalaman.

Tubuhku merapat ke etek Yanti, sementara Ali terlihat gemetar. Semua orang pasti kawatir, jangan-jangan Hamdan mengamuk kepada Ali.

Bagaimana caranya agar aku bisa membuat dia tenang? Ya Tuhan bantu aku, lirihku.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x