Mohon tunggu...
Desi Ariani
Desi Ariani Mohon Tunggu...

untuk lebih baik...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Pesta Adat Reba, Penuh Makna, Penuh Cinta

30 Oktober 2015   15:55 Diperbarui: 30 Oktober 2015   17:36 903 9 5 Mohon Tunggu...

Tahukah kalian sobat yang pernah tinggal di Ngada, Bajawa, NTT pastilah kalian kenal betul apa itu pesta adat Reba yang dilaksanakan setahun sekali di mana pasti disetiap daerah punya adat yang berbeda itulah Indonesia. Kalau kita belum keliling nusatara tercinta ini kita lihat hanya 1 kebudaayaan saja dan yang dalam pemikiran penulis hanya suku jawa saja dan kebudayaan saja yang memang telah dikenal di seluruh nusantara. Agak tidak percaya juga sebelum tiba ke tanah Flores yang begitu kaya budaya, adat istiadat, suku dan bahasa yang teramat banyak di Flores itulah contoh replika Bhineka Tunggal Ika yang berbeda-beda tetapi tetap satu juga waluapun dalam satu kabupaten suku-suku di Ngada teramat banyak secara otomatis juga bahasa digunakan juga berbeda maka betul bahwa Indonesia itu disatukan dengan Bahasa Indonesia. Jangan heran dan khawatir ketika mendaratkan di Flores khususnya di Kabupaten Ngada tentu semua menyapa dengan lembut, dan ramah dengan sapaan Bahasa Indonesia. Penulis bangga walaupun di daerah tentu tetap menggunakan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia jadi penulis yang merasa baru merasa berkedudukan sama tidak ada jurang pemisah dengan menggunakan bahasa persatuan.

 

 

Kembali lagi dengan apa itu adat peserta Reba yang sangat terkenal dan acara wajib tahunan di setiap suku di Ngada. Mungkin ada yang belum tahu apa arti Reba? Kalau orang yang datang menonton pesta adat Reba tentu pernah melihatnya tetapi belum tahu artinya Reba. Di sini penulis mengutip buku “Ngada Sejarah dan Budaya” ditulis oleh John Regang hal. 62 bahwa Reba adalah nama pesta dan bulan itu dirayakanj. Lalu apa sebenarnya arti kata Reba? Reba tidak lagi diketahui lagi oleh orang Ngadha. Kata Reba bisa dihubungkan dengan bahasa melayu yaitu “ribut”, karena perubahan vokal tidak menjadi masalah dan pertukaran yang dikarenakan bahasa Ngdha hanya mengenal suku kata terbuka, dan ribut berarti angin topan.

Disalah satu kampung pada pesta Reba diadakan juga persembahan kepada “topan”. Mmenag benar pnulis yang satu tahun berada di sana melihat perayaan pesta Reba biasanya pada waktu angin ribut dan biasanya disertai dengan hujan lebat tetapi ketika perayaan biasanya hanya agin ribut saja yang menyelimutinya.
Pada perayaan pesta reba, kepo (teke)sebagai pribadi kultus mendduki satu posisi yang menyolok. Kepo (teke) berarti memegang dalam tangan, kebiasaan adat dalam perayaan pesta reba jadi kepo wesu adalah orang yang bertanggung jawab atas ketertiban dan dan tata aturan perayaan pesta reba.

Tentu sudah sedikit tahu mengenai pesta adat Reba kemudian tanpa mengetahui apa makna yang ada dan tentu saja nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan amatlah penting. Tentu jika orang di luar Ngada jika tidak tahu bahasanya akan sulit mencernanya hanya sekedar melihat tari-tari atau perayaannya saja melainkan alangkah baiknya dapat mengetahui setiap nilai-nilai yang tersirat di dalamnya tentu harus tahu apa artinya setiap bunyi nyanyian-nyian ketika pesta adat Reba contoh penggalan dari nasehat-nasehat ketika pesta adat Reba yang dilaksanakan pada malam hari seluruh anggota-anggota suku dan keluarga berkumpul untuk mengendarkan nasehat-nasehat dari Bapak rumah atau waklnya dengan menyanyikan ‘’sui uwi’’ yang dijawab oleh semua orang yang hadir dengan: sui wui o yaitu:

(Wi tu nee keke meze, wi pebha nee wole lewa, suu nee kulu gusi, dheko nee wini danga, suu wi duku ruku, dheko wi dhe go) . Hantarkan padi berbulir-bulir, serta jagung berbuah panjang, junjulah benih-benih yang baik, jinjilah pula benih padi, junjung hingga kepala tertunduk-tunduk, junjung hingga punggung terbungkuk-bungkuk, ada yang dibunuh ada yang ditawan, ada yang memikul, ada yang mengangat, ada yang merampas, ada yang merampok.

--------Berikan benih-benih kehidupan yang baik dari yang terbaik untuk melangkah atau memil sesuatu. Betul jika kita gali bahwa peribahasa yang menyatakan kita harus belajar dari ilmu padi semakin berisi padi semakin merunduk artinya orang yang semakin tinggi ilmunya semakin rendah hati dan tidak sombong, kalau di sini diartikan dengan kepala sampai tertunduk-tunduk sampai punggung terbungkuk-bungkuk tidak jauh berbeda dengan pepatah modern di atas di mana sama-sama memberikan pelajaran bagi kita untuk patuh, hormat pada hasil kerja keras orang tua yang berusah-payah untuk merawat, dan menaman padi pada intinya adalah anjuran untuk bekerja keras jangan bermalasan-masalan juga disertai kewaspadaan untuk tetap menjaga lahan padinya karena ada yang ada yang dibunuh ada yang ditawan, ada yang memikul, ada yang mengangat, ada yang merampas, ada yang merampok (paragraf terakhir)

Nama baik seorang janglah difitnah, ketika melewati batas ladang, jangan bicarakan nama orang, ketika mengambil air, jangan tegakan bambu air, bila pergi ke ladang, jangan tegakan tofa (liggis), ketika berada di perjalanan,

--------- pada intinya mengandung nilai bahwa disetiap perjalanan hidup jangan pernah membicarakan orang lain disembarang tempat terutama pada kalimat terakhir, jangan tegakan tofa (liggis), ketika berada di perjalanan itu dimaksudkan tofa (linggis) tersebut sebagai alat untuk menggali tanaman-tanaman seperti ubi namun dapat dijadikan benda tajam jika tidak berhati-hati di sini mengandung makna bahwa pergunukan mulut (alat yang diumpamakan tofa atau linggis tadi) sebaik mungkin untuk berguna agar lebih bermanfaat) sama halnya mulut jika tidak digunakan dengan hati-hati maka akan mencelakakan orang lain karena mulutnya atau bicaranya yang suka membicarakan orang lain dengan mengejek, menjelek-jelekan orang lain yang tidak ada gunanya sama sekali.

Janganlah membicarakan nama orang lain, jangan sampai orang menangkap mulutmu, dari tanah jawa di sana, jangan tinggalkan satu sama lain, jangan melepaskan satu sama lain, agar kamu memikul dan menjinking, segala harta kekeyaaan, dari Jawa dari Bima, mencari ibu pertiwi di sini dari Reo dan Borong, dari Roja dan ENDE, lalu berkumpul di Waesae (Aimere) jagalah benih padi, pikulah ubi terbaik, ketika kamu menujujung.

---------pada paragraf ini mengandung anjuran untuk tidak membicarakan orang lain seperti pada paragraf sebelumnya dan anjuran untuk saling bekerjasama, gotong royong untuk saling bantu membantu seperti kalimat memikul dari Jawa dan Bima secara tidak langsung bahwa sebenarnya menurut sejarah bahwa nenek moyang orang Ngada berasal dari tanah Jawa awal diceritakan bahawa ada namanya Jawa Meze mempunayai 7 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. Jawa Meze dan anak laki-laki berpindah ke Flores dan sementara waktu tinggal di Bima. Mereka membawa benih-benih dari Jawa untuk ditanama di Flores. Pada intinya akhirnya sampailah di Waesae sekarang Aimere dengan saling berharap mereka satu sama lain untuk saling berkerja sama satu sama lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x