Mohon tunggu...
Deri Prabudianto
Deri Prabudianto Mohon Tunggu...

no

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

"Beauty and The Beast" [48]

6 Maret 2019   06:45 Diperbarui: 6 Maret 2019   07:20 0 2 0 Mohon Tunggu...
"Beauty and The Beast" [48]
Dokpri

Kalau aku jadi kamu, akan kuberitahu kakekmu apa yang sesungguhnya terjadi, akan kuminta ia menjual rumahnya, pergi menikmati hidup, tamasya keluar negeri, melupakan kesedihan, habiskan semua harta, bersenang-senang, agar bisa mati dengan mata merem."

Melli berguling, lalu duduk, menatap Meilan." Tunggu aku siap ya, Mel. Sekarang aku masih betah menjaganya. Kalau kakek meninggal, dia pasti bersatu bersama nenek, aku pasti dilupakan. Aku belum siap dilupakan orang yang paling mencintaiku, aku masih ingin bermanjaan dengannya."

Meilan mengangguk. Hanya bisa mengangguk. Toch persoalannya juga tidak sederhana. Andai Aldi bertahan selama setahun, otomatis ada pembeli yang bersedia membeli rumahnya. Ia akan terusir dari rumahnya sendiri. Kemana ia harus mengungsi? Ia tak punya siapa-siapa di dunia. Wajahnya rusak, jelek, menakutkan, membuat siapapun yang melihat akan berteriak, menjerit ketakutan, bahkan pingsan.

Haruskah ia membiarkan Aldi tinggal di rumahnya untuk membuatnya terusir dari rumahnya sendiri ?
Belasan hari kemudian Jean mengamuk gara gara ia gagal dalam  seleksi awal peserta lomba  Super Chef. Ia menumpahkan kekesalannya pada Aldi. 

Menurutnya, pujian Aldilah yang membuatnya maju, ia merasa dipermalukan karena saat diminta beraksi dalam babak seleksi ia mengajak belasan anggota keluarganya untuk ikut menonton. Ia malu gagal di langkah pertama. Ia ditertawai anggota keluarganya. Ketika Aldi meminta naskah untuk dibawa pulang, Jean tak mau memberi, bahkan sengaja menelpon partimer agar datang mengambil naskah.

Aldi hanya bisa mengurut dada. Kini malam malam dilalui dengan penuh kesepian. Tidak ada naskah untuk diedit membuatnya bete, ia keluyuran untuk menghabiskan malam.

Walau pernah terjatuh satu kali, Aldi tak kapok datang ke kali itu. Ia duduk seorang diri di pembatas kali merenungi nasibnya. Garis tangannya bertambah segaris, ternyata bukan garis hokie, tapi garis bohokkie.

" Kalau begini berterusan, aku tak bisa mempersembahkan 25 juta buat Krisan. Semua  gara gara sebuah pujian, dasar aku sedang bohokkie." Keluhnya. Sambil duduk, ia berpikir untuk mencari tambahan penghasilan dengan cara lain. Apa ia harus membantu Della berjualan bakpao, atau membantu ibu-ibu yang berbelanja di pasar Glodok membawa belanjaan ke mobil untuk mendapat sedikit tips ?

Tanpa sadar ia duduk hingga jam 12 malam. Sesosok bayangan bercadar berjalan dari arah utara ke selatan. Gaya jalannya santai. Aldi segera merunduk. Ia ingin melihat hantu bercadar itu menuju kemana ? Diam-diam ia mengekori.

Ternyata bayangan itu menuju ke arah Jalan Kemurnian. Di ujung jalan Kemurnian 2, dekat belokan, ada sebuah kelenteng. Bayangan bercadar itu menuju kelenteng.

" Hantu kok gak takut ke kelenteng? Kok aneh?" gumam Aldi sambil terus mengekori.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x