Mohon tunggu...
Erni Purwitosari
Erni Purwitosari Mohon Tunggu... Wiraswasta - Wiraswasta

Pesepeda dan pemotor yang gemar berkain serta berkebaya. Senang wisata alam, sejarah dan budaya serta penyuka kuliner yang khas.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tahun 2020 Belajar tentang Ikhlas, Tahun 2021 Belajar tentang Semangat Optimisme

12 Januari 2021   19:10 Diperbarui: 12 Januari 2021   19:13 258
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bersama anak suku di Malaka, NTT (dokpri)

Tahun 2020 merupakan tahun yang penuh kejutan bagi saya. Bagaimana tidak? Mengawali tahun 2020 rumah saya terkena banjir hingga setinggi dada. Tahun 2020 Belajar Tentang Ikhlas

Seumur-umur baru kali itu daerah tempat tinggal saya terkena banjir. Jadi terbayangkan bagaimana panik dan bingungnya menghadapi musibah tersebut? Jangankan persiapan menghadapi bencana. Menduga akan terkena bencana banjir pun tidak.

Karena memang daerah tempat tinggal saya bukan di daerah rawan bencana. Jauh dari bantaran sungai. Bukan di daerah dataran rendah. Secara logika sangat jauh dari kemungkinan banjir. Dan memang tidak pernah terjadi banjir. 

Maka ketika awal tahun 2020 terkena banjir, bahkan hingga setinggi dada. Shock yang saya dan mungkin hampir semua warga sana rasakan. Tapi mau bagaimana lagi? Namanya musibah atau bencana sudah bagian dari skenario Tuhan. Jadi kita tinggal menjalaninya saja. Pasti ada hikmah dibalik semua kejadian yang Tuhan berikan. Walau itu bernama musibah.

Benar saja. Setelah mengalami musibah banjir. Saya lebih ikhlas dalam menjalani kehidupan. Artinya ketika mengalami kegagalan atau kehilangan atas suatu hal, rasanya tidak terlalu kecewa atau sedih yang berkepanjangan. Bisa dibilang jadi biasa saja. 

"Woles aja sih."

Begitu istilah anak zaman sekarang. 

Banjir mengakibatkan saya kehilangan banyak benda-benda kesayangan tanpa bisa menyelamatkannya. Karena semua terjadi begitu tiba-tiba dan cepat sekali kejadiannya. Saya hanya bisa tercenung dan merenung.

"Kalau Tuhan sudah berkehendak. Apa yang bisa kita perbuat selain pasrah?"

Dari situlah saya belajar ikhlas dan mengikhlaskan segala sesuatu yang bukan milik kita lagi. Awalnya memang tidak mudah. Tapi seiring berjalannya waktu saya bisa melalui semua dengan lapang hati.

Namun namanya hidup tidak pernah lepas dari yang namanya masalah. Selesai satu masalah muncul masalah baru. Kali ini berskala nasional bahkan dunia. Artinya semua orang merasakan dampak dari permasalahan yang ditimbulkan. Yakni pandemi Covid-19.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun