Mohon tunggu...
Delfian Giputra
Delfian Giputra Mohon Tunggu... Penulis Pemula

Penulis Pemula, Pengamat Sepakbola, Peminat Budaya, Penyuka lainnya hehe

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Fatwa Haram Vape, CR7, dan Cattenacio

15 Februari 2020   15:11 Diperbarui: 15 Februari 2020   15:05 7 0 0 Mohon Tunggu...

Sepintas membaca judul tulisan ini , pembaca akan terbawa pada kondisi terkini (saat tulisan ini dimuat 25 Januari 2020) terutama pasca putusan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Nomor 01/PER/1.1/E/2020 Tanggal 14 Januari 2020 tentang Hukum Merokok E-Cigarette. Namun mengapa ada embel-embel nama peraih Balon d'Or lima kali dan strategi sepakbola disitu? kata Gus dur Bagaikan Langit dan Sumur, jauh sekali aka tidak nyambung, Tapi saya mengupayakan supaya nyambung saja.hehe

Bagai petir disiang bolong, kalimat hiperbola itu pantas dialamatkan kepada keputusan MTT PP Muhammadiyah di siang hari itu. Fatwa hukum haram merokok E-cigarette (vape) benar-benar menampar wajah kaum milenial yang saat itu lagi demam-demamnya mengkonsumsi vape. Bagaimana tidak, belum habis terngiang gema fatwa haram merokok kira-kira sepuluh tahun silam kini muncul lagi fatwa haram baru yang kali ini mendera generasi milenial, skalanya memang lebih spesifik karena berbeda dengan para pecandu rokok konvensional yang berada di nyaris semua piramida demografi penduduk , penggunaan vape didominasi oleh kelompok usia pelajar antara 14-24 tahun (Sumber Riset Kesehatan Dasar tahun 2018).

Apa dalil fatwa ini? MTT PP Muhammadiyah berpendapat merokok vape mengandung unsur menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan sesuai Al quran "dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh Allah menyukai orang yang berbuat baik"  (Q.S Al --Baqarah : 159), selain itu menggunakan uang untuk membeli barang yang menimbulkan mudharat termasuk pemborosan , sesuai al quran " dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan , dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros, sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada tuhannya" (Q.S Al-isra : 26-27) dan banyak lagi dalil sesuai dengan lampiran fatwa tarjih tersebut.

Ragam tanggapan dari masyarakat terutama pengguna vape berseliweran di media, hashtage #fatwatarjihvape dan #fatwamuhammadiyah sempat jadi trending topic beberapa jam.

Di akhir putusan fatwa tarjih tersebut ada beberapa poin rekomendasi, dan yang paling mencolok tentunya rekomendasi untuk seluruh unsur Muhammadiyah (Majelis,lembaga,ortom,amal usaha) lebih spesifik yang terkait dengan pendidikan anak, remaja dan generasi muda untuk berperan aktif dalam mengampanyekan bebas e-cigarette. Rekomendasi di poin ini lebih tepatnya ditujukan kepada IPM,IMM,NA dan PM yang memang segmentasi dakwahnya sesuai dengan sasaran sosialisasi fatwa ini. Entahlah kalua Ortom lain, tapi PM bagaimana? padahal Vape ini jalan "transit" bagi pecandu rokok yang berniat berhenti karena fatwa atau karena factor kesehatan bahkan faktor ekonomi. Tentunya saya yakin kader PM paling berat meninggalkan vape dan rokok pastinya.

Analogi Sepakbola

Dalam permainan sepakbola kita mengenal beberapa istilah strategi  permainan diantaranya Kick and Rush untuk ciri khas sepakbola Inggris, Tiki Taka untuk Spanyol , Total Footbal untuk Belanda dan Cattenacio untuk Italia. Strategi ini dipakai sebagai sebuah tim untuk memenangi pertandingan dan tentu saja sebagai ciri khas sebuah tim. Sebuah organisasi islam ibarat tim sepakbola ,dan strategi ibarat ideologi gerakan yang dipakai, serta posisi-posisi di dalam pertandingan ibarat Majelis/Bidang di dalam struktur Organisasi.

Saya pribadi menganalogikan seperti ini, untuk kelompok neorevivalisme yang cenderung keras , secara teologi gerakan ini memiliki akar pada salafisme sebut saja Salafi,Jamaah tabligh,Hizbut Tahrir,FPI dll. Organisasi ini menggunakan strategi total football yaitu strategi bermain menyerang secara full dan tidak terlalu mementingkan posisi pemain. Lihat saja bagaimana organisasi itu berdakwah dengan begitu keras dan lantang sesuai ideology yang mereka anut. Lantas bagaimana dengan Muhammadiyah?

Saya menganalogikan Muhammadiyah dengan system Cattenacio ala Italia. Mengapa Cattenacio? Italia? Juventus? , Muhammadiyah masuk pada organisasi Modernis-reformis. Dengan memfokuskan gerakan pada Purifikasi dan dinamisasi yang secara umum keras ,namun dinamis di saat yang bersamaan , mirip dengan filosofi Cattenacio dalam sepakbola Italia dan Juventus. Sistem Cattenacio tidak serta merta melakukan serangan secara sporadis atau bertahan secara total, melainkan memainkan sepakbola secara efektif.

Di dalam tim Juventus seringkali memainkan system cattenacio akan tetapi sejak kedatangan mega bintang Cristiano Ronaldo semua berubah, seringkali pelatih merubah cara bermain untuk menyesuaikan dengan mega bintang yang satu ini. Ronaldo merupakan antithesis dari Efektifitas ala Juventus. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah ibarat striker haus Gol , MTT merupakan ujung tombak gerakan dakwah organisasi.

Hari ini MTT berperan sama persis seperti Ronaldo, striker yang ditakuti lawan dan disegani kawan, naluri menyerangnya menjadi pembeda diantara filosofi Muhammadiyah yang secara organisasi netral (Tidak keras namun tidak juga lembek) tapi efektif dalam menghadapi persoalan dan dinamika berbangsa dan bernegara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x