Mohon tunggu...
Deddy Wijaya
Deddy Wijaya Mohon Tunggu... Melihat, Mendengar, Merasa dan Mencoba

Setiap Waktu adalah Proses Belajar, Semua Orang adalah Guru, Setiap Tempat adalah Sekolah

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Mengelola Kebocoran Emosi

11 November 2019   23:22 Diperbarui: 13 November 2019   23:10 0 7 3 Mohon Tunggu...
Mengelola Kebocoran Emosi
Emosi karena dikejar tenggat waktu pekerjaan. (ilustrasi: freepik.com

Menjelang akhir tahun seperti ini pasti banyak dari kita yang "keteteran" sama kerjaan kantor, dan bahkan gak jarang kita bawa pulang pekerjaan ke rumah. 

Buat orang sales, situasi akhir tahun seperti sekarang ini masa-masa kritis, karena performance mereka akan diukur dari pencapaian tahunan.

Itulah mengapa saat ini HP kita sering berbunyi, banyak telpon dari para teman-teman sales yang menjual KTA atau pinjaman, dan sering sekali dalam 1 hari bisa 5 kali telepon dari Bank yang sama.

Dalam bisnis kami pun sama, sebagai lembaga yang bergerak di bidang Human Development akhir tahun seperti ini kami banyak agenda, ada permintaan dari client untuk kick off, atau sekedar program realisasi anggaran.

Intinya, saya, anda dan sebagian dari kita, ketika memasuki akhir tahun biasanya kesibukannya mendera 2 kali sampai dengan 3 kali lipat.

Mengapa saya menarik menulis ini? tidak ada maksud menjual program pelatihan ataupun menggurui sahabat semua, saya hanya mau berbagi dari sudut pandang saya sebagai seorang karyawan biasa. 

Memang ketika kita diperhadapkan oleh situasi yang mengharuskan kita "berlari" cepat, kita sebagai karyawan tidak kuasa menolak, yang kita bisa hanya menerima, dan mencoba mengikuti derap langkah bos, manajemen dan perusahaan. 

Dan ketika target dan beban pekerjaan yang diberikan ke kita menjadi double atau triple, kita pun tan kuasa mengatakan "TIDAK!!", yang kita bisa katakan hanya BAIKLAH.

Kita mencoba mengerjakan yang diorder, kita berusaha menyelesaikan tanpa terbawa beban. Tapi belum juga selesai 1 pekerjaan, kita sudah didera oleh pekerjaan lain, dan semuanya menjadi prioritas dan urgent. 

Kita mengikuti yang bos dan perusahaan mau, betul ya? karena kita juga tidak mau mati konyol dengan mengatakan tidak, betul ya? nah ini problemnya..

Ketika pekerjaan yang diberikan ke kita menjadi double, triple dan lainnya, yang kita lihat adalah kerepotan yang tak berujung, ekpresi dari rasa menolak atas tugas itu kita ubah menjadi kalimat "gue lagi, gue lagi..", si A koq santai banget sih, kenapa sih bukan dia aja yg ngerjain.." atau "wah lembur dirumah nih, mana gue janji lagi sama anak gue minggu ini mau ke mall.." . 

Ekspresi ini tidak salah, hanya tidak tepat. Ketika kita meng-kambing hitamkan orang lain dan keluarga, dengan harapan dimengerti bos (tapi bicaranya bukan dengan bos), ini bukan sesuatu yang bijak.

"Situ mah enak, nulis doang, coba situ jadi sayah..", situmah enak kalau lembur dibayar lebih, lah kita..?"

Ya mungkin umpatan seperti itu bisa terlontar dari mulut kita, ketika ada filsuf yang mengeluarkan kata-kata bijak.. dan saya bukan filsuf lho.. saya mencoba mendudukan kita dari kacamata kita sebagai karyawan dan bagian dari tulang punggung keluarga. 

Kebocoran Emosi

Setiap dari kita adalah anak dari seorang Ibu, setiap dari kita adalah suami/istri dari pasangan kita, setiap dari kita adalah ayah/ ibu dari anak-anak kita. 

Apakah kita mau orang terdekat kita melihat dan merasakan apa yang kita kerjakan membuat kita tertekan? apakah anda sanggup bercerita ke pasangan anda, kalau perusahaan anda telah membuat anda tertekan karena pekerjaan yang gak habis-habisnya?

Jika iya, kira-kira apa respon pasangan anda? Apakah ia meminta anda sabar, meminta anda resign atau meminta anda melawan?

Rumah (keluarga) adalah tempat kita pulang, tentu kita tidak ingin membuat keluarga kita gusar dengan perilaku kita. Ketika anda masuk rumah, anda bawa muka ketus anda masuk ke dalam, anak anda belum mengerjakan PR, lalu anda menghardiknya..

Anda bukan hanya menghukum perusahaan yang memberikan anda tugas, tapi anda menghukum keluarga anda. Tujuan kita bekerja adalah mereka. Lalu anda bertindak sebagai apa? Korban?

Kebocoran Emosi wajar terjadi, kita bisa dengan mudah terbawa emosi jiwa, namun mari sama-sama kita perbaiki sikap, bahwa jangan sampai kebocoran emosi ini sampai berimbas ke keluarga kita. Kita yang paling tahu bagaimana melepaskan diri dari emosi, beberapa kisah orang sukses diluar sana memiliki ritual yang aneh.'

Ada yang ketika tiba di rumah tidak langsung masuk rumah, tapi mendekat ke pohon lalu mengusapkan tangannya ke pohon, seolah ia menitipkan masalahnya di pohon itu.

Ada juga yang sebelum pulang disempatkan jumpa dengan sahabat seraya melepaskan sejenak masalahnya, atau mencoba duduk meditasi sejenak sebelum keluar mobil.

Kemampuan mengelola emosi ini yang menjadi kunci keberhasilan beberapa orang besar. Mungkin kita melihat mereka tidak punya masalah, nyatanya masalah mereka lebih banyak dan lebih besar. Hanya saja mereka pandai mengelola emosinya.

Kemampuan mengelola emosi, sangat tergatung kepada bagaimana kita meyeimbangkan energi kita. Kita memiliki 4 sumber energi, sumber energi yang mampu mengisi ulang energi kita sehingga kita lebih "imun" terhadap gelombang masalah:

1. Fisik - sumber energi yang datang dari asupan, olahraga, dan istirahat. Ketika fisik kita kuat, maka energi yang dihasilkan cukup besar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x