Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Penulis - Content Writer

Penyuka Sepak Bola. Segala tulisan selalu tak luput dari kesalahan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Perlu Menambah Keterampilan Saat Ramadan

15 April 2021   17:01 Diperbarui: 15 April 2021   17:17 646
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Contoh bacaan komedi (kanan: Lelucon Para Koruptor) untuk bisa menulis komedi. Sumber: Dokumentasi Deddy Husein S.

Sebenarnya, kalau saya pandai berbicara, maka saya akan menjadi motivator. Pendapatannya pasti lebih besar dari penulis. Becanda.

Lalu, bagaimana kalau ada yang bertanya tentang mengapa saya membaca?

Sebenarnya, saya lebih ingin ditodong dengan pertanyaan "apa yang saya baca". Dengan begitu, pertanyaannya lebih spesifik. Karena, sebenarnya saya juga tidak merasa seperti pembaca yang budiman.

Pembaca budiman yang saya maksud seperti orang-orang yang bacaannya sudah menggunung dan tidak jarang mengandung unsur kebanggaan. Seperti membaca biografi tokoh besar, membaca kumpulan esai dari tokoh besar, bahkan kalau misalnya membaca novel, yang dipilih adalah hasil dari penulis besar atau yang best-seller.

Saya tentu tidak 'anti', hanya saja, saya merasa itu akan menjadi racun bagi cara berpikir saya terhadap realitas. Karena, saya menjadi harus selalu mengikuti apa yang dibaca orang lain, juga harus membaca hal-hal yang menurut saya belum tentu harus dibaca sekarang.

Contohnya, membaca biografi atau tulisan yang mengandung buah pikir kental (baca: filosofi hidup) yang cenderung akan membuat saya menjadi seolah-olah sudah tahu tentang dunia luar lewat tulisan itu. Kalau sudah tahu, maka kenapa harus melakukannya juga?

Kalau berdampak bagus, tidak masalah. Bagaimana kalau berdampak buruk?

Itulah yang membuat saya jarang membaca buku biografi atau sejenisnya, sekalipun ada beberapa tokoh yang saya suka pola pikirnya. Tetapi, untuk saat ini, saya belum merasa itu perlu saya baca.

Mungkin, nanti kalau saya sudah beruban penuh, buku-buku semacam itu akan saya baca dengan khidmat. Atau, mungkin kalau saya sedang khilaf.

Dari penggambaran tentang bacaan yang belum saya baca, maka saya masih menganggap diri saya belum sepenuhnya gemar membaca. Yang saya baca masih sederhana, yang masih mudah masuk ke dalam logika dangkal.

Tetapi, kalau ada yang ngeyel bertanya mengapa saya membaca, maka jawabannya adalah "saya menulis". Ketika saya menulis dan bahkan bisa dikatakan wajib menulis, maka saya juga wajib membaca.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun