Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola, Penulis Biasa nan Sederhana (PBS), dan berharap selalu dapat menginspirasi dan terinspirasi. Cinta Indonesia. Segala tulisan selalu tak luput dari kekhilafan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Luis Suarez dan Deretan Pemain Lepas dari Toxic Relationship

14 Januari 2021   18:26 Diperbarui: 14 Januari 2021   19:50 95 17 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Luis Suarez dan Deretan Pemain Lepas dari Toxic Relationship
Suarez meninggalkan Messi di Barcelona untuk lepas dari toxic relationship. Gambar: AFP/Lluis Gene via Kompas.com

Jika mendengar atau membaca istilah toxic relationship pikiran saya langsung menuju pada hubungan percintaan. Karena, perbincangan tentang toxic relationship lebih sering muncul di meja 'arisan' cinta, daripada meja yang lain.

Membahas toxic relationship di dunia kerja? Itu nomor dua. Butuh beberapa detik, menit, bahkan juga jam untuk mengalihkan pembicaraan dari cinta ke topik ini.

Bagaimana dengan sepak bola?

Saya menemukan topik ini sebenarnya sekitar dua bulan lalu. Namun membuat pembahasan ini juga gampang-gampang susah.

Secara data memang ada, alias banyak berita yang menyangkut banget dengan topik ini. Tetapi, untuk menyeleksi daftar pemainnya ke dalam tulisan ini yang susah. Butuh kelekatan antara kasus satu dengan kasus lainnya, lalu dikaitkan dengan 'hubungan tidak sehat' yang secara umum saya pahami.

Lewat tulisan ini, saya akan mengajak pembaca mengetahui pesepak bola yang ternyata juga pernah terjerat toxic relationship. Jika menurut pengamatan sederhana saya, maka ada 6 pemain yang saya saring untuk masuk ke daftar ini. Siapa saja mereka?

1. Luis Suarez (Barcelona)
Sudah banyak gol yang Suarez sumbangkan untuk Barcelona, termasuk ketika membentuk trio maut MSN. Namun, seiring berjalannya waktu, khususnya ketika Neymar hengkang ke PSG, Suarez menjadi tidak lagi nyaman.

Meskipun, hubungan Suarez secara pribadi dengan Messi tetap baik, tetapi tidak dengan Barcelona. Puncaknya, Barcelona membiarkan Suarez pergi secara gratis dan si pemain merapat ke Atletico Madrid.

Menurut saya, hubungan Barcelona-Suarez menjadi toxic relationship ketika klub asal Catalunya itu sedang dilanda "Drama Bartomeu". Barcelona dikabarkan ingin merombak skuadnya, karena dianggap terlalu banyak berisi pemain yang tak tersentuh, salah satunya Luis Suarez.

Tetapi, yang membuat Suarez kecewa adalah perlakuan Barcelona yang dianggap kurang menghargai kontribusinya. Termasuk membuat Messi semakin tidak jelas kariernya di Barcelona.

Suarez harus pergi setelah tidak diinginkan Barcelona. Gambar: FC Barcelona via Kompas.com
Suarez harus pergi setelah tidak diinginkan Barcelona. Gambar: FC Barcelona via Kompas.com
Namun Suarez terlihat lebih beruntung daripada Messi, karena kini dia sedang mendapatkan momentum kembali menjadi pemain andalan yang dihargai oleh Atletico Madrid. Ini seperti saat berada di awal masa bermain di Barcelona, juga saat berada di Liverpool dan Ajax Amsterdam.

2. Olivier Giroud (Arsenal)
Sekarang--ketika artikel ini ditulis, Giroud memang berada di Chelsea, tetapi sebelum itu dia adalah pemain Arsenal. Dia pernah menjadi andalan Arsenal di lini depan. Itu terbukti dengan jumlah laga yang ia mainkan sekitar 253 laga sejak 2012-2018 (Transfermarkt).

Tetapi, sejak Arsenal mulai kedatangan Alexandre Lacazette dan puncaknya ketika Aubameyang mendarat ke Emirates Stadium, Giroud mulai terpinggirkan. Berhubung dia ingin menyegel satu tempat di skuad Timnas Prancis di Piala Dunia 2018, maka ia harus hengkang dan mendapat menit bermain lebih banyak.

Walaupun, di Chelsea dia juga jarang bermain, tapi karena dia mau menuruti kata Didier Deschamps (pelatih Prancis), maka dia dapat membela timnas di PD 2018 Rusia. Menurut saya, keputusan Giroud pindah klub merupakan representasi dari upaya lepas dari toxic relationship.

Giroud langsung panen gelar prestisius pasca pindah dari Arsenal. Gambar: diolah dari Goal.com
Giroud langsung panen gelar prestisius pasca pindah dari Arsenal. Gambar: diolah dari Goal.com
Jika dia memilih setia dengan Arsenal, bisa saja dia akan terpinggirkan di skuad timnas. Begitu juga jika dia tidak pindah dari Arsenal, maka gelar Liga Europa juga urung dia dapatkan.

3. Cristiano Ronaldo (Real Madrid)
Semua orang pasti kenal figur ini. Tetapi, pernahkah berpikir jika dia terjebak toxic relationship?

Real Madrid sangat bergantung pada Cristiano Ronaldo. Gambar: AFP/Pierre-Philippe Marcou via Kompas
Real Madrid sangat bergantung pada Cristiano Ronaldo. Gambar: AFP/Pierre-Philippe Marcou via Kompas
Menurut saya, dia juga merupakan satu di antara pemain yang terjerat toxic relationship. Khususnya, ketika dia masih membela Real Madrid. Di klub kaya asal ibu kota Spanyol itu, Cristiano Ronaldo berada di masa yang terbaik sepanjang kariernya.

Tetapi, Ronaldo mungkin sadar/tidak sadar, bahwa kehebatannya di Real Madrid juga bisa menjadi toxic, karena ada ketergantungan klub yang luar biasa kepadanya. Itu terbukti bahwa gelar-gelar prestisius El Real sering membutuhkan pertolongan Ronaldo dalam urusan mencetak gol.

Alhasil, itu membuat pemain-pemain lain tenggelam, atau permainan Real Madrid menjadi kurang meyakinkan jika tanpa Ronaldo. Beruntung, Ronaldo berani memutuskan untuk pindah, dan membuat Real Madrid dapat menyadari bahwa mereka seharusnya tidak boleh sangat bergantung pada satu pemain. Itu racun!

4. Robin van Persie (Arsenal)
Sebelum ada Giroud yang melakukan penyeberangan ke klub rival Arsenal, van Persie sudah melakukannya. Ia bahkan menyeberang ke seteru abadi Arsenal, Manchester United.

Walaupun, Arsenal sudah puasa gelar liga sejak 2004, rivalitas antara Arsenal dengan Man. United masih sengit karena faktor keberadaan dua manajer (pelatih) legendaris Sir Alex Ferguson dan Arsene Wenger. Namun, hal itu tidak membuat van Persie mengurungkan niat pergi ke Man. United.

RvP dengan trofi yang ia idamkan. Gambar: Mufclatest.com
RvP dengan trofi yang ia idamkan. Gambar: Mufclatest.com
Justru, tekadnya membela Man. United menjadi kuat karena faktor peluang menjuarai Premier League lebih terbuka daripada terus membela Arsenal. Perhitungannya pun terbukti. Ia berhasil menikmati masa pensiun dengan tenang, karena telah meraih trofi Premier League dengan Manchester United.

5. Cesc Fabregas (Arsenal)
Sebenarnya saya tidak kaget jika klub yang paling banyak "menyebar" toxic relationship adalah Arsenal. Karena, jika merujuk pada pengamatan pribadi saya, memang klub ini sering menimbulkan hubungan yang kurang bagus bagi pemainnya, khususnya dalam hal prestasi.

Ibaratnya, pasangan yang sedang pacaran lama tapi tidak kunjung menikah. Kira-kira begitulah yang terjadi pada Arsenal dengan pemainnya.

Memang, secara gelar Arsenal tidak sekering Tottenham Hotspur yang dianggap telah mengubah peta 'Big 4' menjadi 'Big 6'. Tetapi, setiap pemain yang membela Arsenal pasti ingin juara Premier League--bukan "hanya" Piala FA atau Community Shield.

Itu karena, nama Arsenal sangat terkenal seperti Manchester United dan Liverpool. Tetapi, sejak Arsenal mampu menoreh tinta emas Premier League pada 2003-04, sejak itu pula Arsenal seperti mendapatkan kutukan dari Premier League.

Arsenal sampai saat ini gagal meraih gelar juara liga lagi. Uniknya, para mantan pemainnya justru banyak yang sudah dapat memupus dahaga juara liga, seperti Samir Nasri, Bacary Sagna, Gael Clichy, van Persie, Alex Song (di Barcelona), hingga tentunya yang terbaik adalah Cesc Fabregas.

Ketika Fabregas gagal meraih gelar prestisius di Premier League bersama Arsenal, ia justru panen gelar bersama Barcelona. Ketika ia kembali ke Premier League (2014-2019), gelar liga itu juga mampir ke CV-nya dua kali.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN