Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Pengamat Sosial

Penyuka Sepakbola, Penulis Biasa nan Sederhana (PBS), dan berharap selalu dapat menginspirasi dan terinspirasi. Cinta Indonesia. Segala tulisan selalu tak luput dari kekhilafan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Fesyen Artikel Utama

Pilih Pakaian Bekas Merek Internasional atau Pakaian Baru Merek Lokal?

3 Desember 2020   10:21 Diperbarui: 4 Desember 2020   19:09 523 32 11 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pilih Pakaian Bekas Merek Internasional atau Pakaian Baru Merek Lokal?
Ilustrasi memilih dan mencoba pakaian di gerai fashion. Gambar: Pexels/Mentatdgt.

"... belilah pakaian karena kebutuhan bukan tren."

Setelah beberapa kali membaca tulisan tentang pakaian bekas, saya mulai berpikir. Apakah hanya saya yang tidak ingin membeli pakaian bekas?

Terlepas dari urusan ekonomi, saya memikirkan hal lain tentang pakaian bekas. Bekas, artinya pernah dipakai orang lain, dan saya harus mau memakainya.

Sebenarnya, saya juga pernah memakai pakaian bekas, tapi punya teman. Itu pun pinjam, walau ujung-ujungnya jarang yang kembali ke empunya.

Biasanya saya pinjam karena terdesak, seperti habis kena hujan, lalu saya harus ganti baju agar tidak masuk angin--biasanya belum sampai di tempat kos. Atau, karena kebutuhan dan ukuran. Biasanya ada yang memang meminjamkan sekaligus ingin diberikan, karena si pemilik sudah makmur badannya.

Bahkan, jika ditarik ke belakang, saya juga tidak jarang mendapatkan hibah pakaian bekas dari orang lain yang kebetulan memang mengenal saya, dan tahu bahwa suatu saat akan membutuhkan pakaian itu. Kebanyakan pakaian yang diberikan ke saya adalah kemeja.

Namun, seiring berjalannya waktu dan berpindahnya tempat tinggal, saya mulai jarang mendapatkan hibah pakaian bekas. Itu artinya, saya sudah harus membeli pakaian sendiri jika memang sangat membutuhkannya.

Saya mulai membeli pakaian sendiri sekitar kelas 12 akhir, alias menjelang lulus SMA. Itu pun mengandalkan uang angpao dari hari raya. Dan, tentu saja saya hanya mampu membeli 1-2 pakaian saja, yaitu kaos dan jaket.

Baru ketika menjelang pergi merantau saya kembali membeli pakaian, yaitu jaket lagi. Saya pikir, nanti di kota yang berbeda saya akan sering ke luar dan butuh pakaian hangat.

Walaupun, keputusan saya membeli pakaian penuh rasa khawatir, tetapi saya malah merasa ada untungnya. Setidaknya, saya sudah tahu bagaimana cara membeli pakaian sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN