Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Penulis - Content Writer

Penyuka Sepak Bola. Segala tulisan selalu tak luput dari kesalahan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Karena Barcelona bukan Juventus

15 Agustus 2020   08:07 Diperbarui: 15 Agustus 2020   08:26 832
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tetapi, dari pencapaian luar biasa itu tetap terdapat poin krusial yang dihilangkan, yaitu kesabaran. Bersama Conte, Juventus sebenarnya luar biasa. Mereka tak hanya kuat di kompetisi domestik, melainkan juga kembali menjadi perhitungan lagi di Liga Champions.

Seandainya Juve lebih bersabar dengan Conte bisa saja Juventus akan memenangkan Liga Champions. Karena, waktu adalah media pembelajaran untuk memperbaiki di kesempatan berikutnya. Cepat atau lambat.

Hal ini juga berlaku untuk masa kepelatihan Allegri. Malah, di musim pertamanya (2014/15) bersama Chiellini dkk., ia mampu membawa La Vecchia Signora ke final dan bertemu Barcelona. Walau gagal juara, apa yang ditunjukkan Allegri adalah bukti bahwa Juventus sebenarnya bisa berprestasi lebih tinggi lagi.

Kiprah Allegri bersama klub asal Turin itu kemudian berlanjut dan kembali mengantarkan Juve ke final "Si Kuping Besar" dua tahun berselang, yaitu pada 2016/17. Sayangnya, Juve kembali gagal karena harus bertemu tim kuat Spanyol lainnya, Real Madrid.

Berkaca pada catatan itu, Allegri sebenarnya mumpuni. Seandainya Juventus sangat fokus dengan misi menjuarai Liga Champions, mereka pasti bisa melakukannya. Ditambah saat ini mereka ada Cristiano Ronaldo.

Seandainya Allegri masih dipercaya sampai musim 2019/20 ini, kemungkinan untuk bisa melaju lebih jauh bisa terjadi. Karena, di situ ada kombinasi antara pemain-pemain berpengalaman dengan pelatih yang juga berpengalaman.

Misinya juga sama, yaitu haus akan gelar Liga Champions setelah terakhir menjuarainya di tahun 1996. Tetapi, Juventus tidak memiliki kesabaran. Kursi kepelatihan kemudian diduduki oleh pelatih baru, Sarri.

Pekerjaan Sarri bisa dikatakan rumit. Di satu sisi, dia beruntung menerima skuad mapan yang sudah ada sejak masa Conte dan Allegri. Namun di sisi lain, visi Sarri pasti berbeda dengan dua pelatih pendahulunya.

Itulah yang membuat pekerjaan Sarri tak bisa selesai--sesuai keinginan banyak orang--hanya dalam semusim. Dia perlu waktu, apalagi membuat klub yang dilatih sesuai keinginannya. Namun, lagi-lagi Juventus tidak sabar dan memilih menggantinya dengan pelatih yang 0 caps dalam karier kepelatihannya, Andrea Pirlo.

Entah bagaimana nasib Juventus ke depannya, yang pasti apa yang terjadi pada Juventus seharusnya tak terjadi pada Barcelona. Mengapa?

Penyebab pertama, Barcelona tidak hanya berorientasi pada prestasi di domestik, tapi juga Eropa. Mereka adalah tim besar yang bahkan memenangkan 4 titel Liga Champions dalam 10 tahun (2005-2014) di era modern.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun