Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Penulis - Content Writer

Penyuka Sepak Bola. Segala tulisan selalu tak luput dari kesalahan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Liverpool Comeback, Apa yang Salah dari Barcelona?

8 Mei 2019   05:43 Diperbarui: 8 Mei 2019   14:50 1773
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Origi dan para pemain Liverpool berselebrasi. (Bola.net)

Modal yang dimiliki Klopp juga cukup jelas. Yaitu, memainkan Giorgino Wijnaldum. Gelandang tengah ini masuk menggantikan Andrew Robertson dan sepertinya akan menjadi penyerang bayangan di belakang Mane. Peran yang sebelumnya diemban si pemain saat bertandang ke Barcelona. Bedanya, di laga ini, pekerjaan Wijnaldum tidak lebih berat dan Liverpool tahu apa kekurangan Barcelona.

Yaitu, bola atas dan bola silang.
Strategi ini menjadi persiapan ketiga Liverpool untuk mengalahkan Barcelona. Melalui taktik bola atas dan bola silang yang dapat dimainkan oleh Liverpool dengan lebih fasih dibandingkan lawan Barcelona sebelumnya---MU---adalah untuk mengeksploitasi pertahanan El Barca. Hasilnya, dua gol Wijnaldum hadir dengan skema yang (dapat disebut) British-style tersebut. Satu gol dengan memanfaatkan bola silang, sedangkan gol kedua Wijnaldum lahir dari menyambut bola atas. Liverpool unggul 3-0!

Luar biasa! Inilah yang membuat Liverpool kian mendekati rencana A, yaitu mencetak kemenangan sekaligus kelolosan ke partai puncak. Gol keempat pun akhirnya tercipta dan Liverpool sukses membalikkan keadaan menjadi 4-3 untuk keunggulan agregat sekaligus mengubur asa Valverde untuk mengikuti jejak Luis Enrique sebagai pelatih terakhir yang mampu meraih treble winners bersama Los Cules.

Lalu, apa yang salah dari Barcelona?
Menunggu. Mereka bermain dengan terlalu lama menunggu momentum, sedangkan momentum itu kian menipis ketika babak kedua berjalan semakin tidak baik untuk Barcelona. Mereka tidak berupaya mencari gol dengan cara yang gigih termasuk berupaya mendominasi. Sedangkan bagi Liverpool, mereka hanya bermain untuk mencetak gol. Itulah yang membuat Barcelona kelimpungan.

Seandainya Barcelona mampu memecah konsentrasi Liverpool dengan cara mendominasi permainan, mungkin gol-gol Liverpool tidak akan selancar itu untuk menghujam gawang Marc Andre ter-Stegen. Situasi kian rumit, ketika strategi pergantian pemain Valverde tidak lebih baik daripada Klopp yang memainkan Wijnaldum di awal babak kedua.

Valverde lebih memilih memasukkan Nelson Semedo dibandingkan memainkan Malcom terlebih dahulu. Artinya, Valverde menginginkan Barcelona bertahan terlebih dahulu. Situasi yang konyol ketika melihat Liverpool sudah unggul 1-0 di babak pertama. Artinya, jika Barcelona ingin menahan diri di babak pertama, maka, di babak kedua, mereka seharusnya berinisiatif keluar menyerang bukan bertahan alias menunggu. Menunggu dihujani 3 gol?

Inilah yang membuat Barcelona seperti mengikuti jejak Real Madrid di babak 16 besar. Mereka yang unggul di leg 1, akhirnya digebuk di leg kedua dan parahnya di kandang sendiri. Mereka membiarkan tim yang sedang mengejar 'mission impossible' mengembangkan segala kemungkinan untuk membuat misi tersebut menjadi 'possible'. Sama seperti Barcelona yang pada akhirnya merasakan kembali kekalahan telak 4-0 di leg kedua dan itu menjadi hadiah untuk taktik menunggu Valverde.

Padahal, jika menilik kembali ke hasil leg 1, Barcelona sebenarnya sudah menginjak tangga menuju puncak dengan sebelah kaki. Namun, ketika taktik di leg kedua seperti itu, maka, menarik sebilah kaki tersebut adalah suatu yang sangat mengecewakan---namun harus dilakukan. Terkhusus pada para pemain dan pendukungnya. Mereka sebenarnya ingin meraih juara bukan meraih hasil kekalahan. Apalagi kekalahan telak tanpa mampu mencetak satu gol pun.

Kekalahan memang sebenarnya sudah diprediksi. Karena, Liverpool bermain di kandang dan meski tak ada Mo Salah, Liverpool masih memiliki pemain-pemain depan yang mumpuni. Selain itu, Klopp menyadari kekurangan Barcelona dan itulah yang dieksekusi oleh Klopp dan membuat Gerard Pique cs tak berkutik.

Melihat hasil ini, Barcelona tidak bisa didoakan untuk segera bangkit seperti tim-tim lainnya yang mengalami kekalahan dan dihibur dengan ucapan 'semangat'. Karena, mereka sebenarnya sudah berada di puncak. Mereka sendiri yang justru ingin turun ke bawah. Mereka juga sepertinya tidak ingin terlihat sukses di musim ini ketika para rival terpuruk. Mereka ingin bertarung secara 'gentle-man'. Namun, benarkah harus seperti itu permainannya?

Beberapa pertanyaan yang kemudian timbul bagi penulis dan mungkin mewakili penikmat sepakbola adalah jika bersama Messi saja Barcelona bisa dipukul mundur---meski ini bukan yang pertama kalinya. Lalu, bagaimana jika tak ada Messi?
Apakah akan seperti Liverpool yang tanpa Mo Salah namun mereka justru terlihat kompak? Atau seperti Real Madrid yang belum bisa move-on dari kepergian Cristiano Ronaldo?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun