Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Freelancer

Penyuka Sepakbola dan Penulis Gadungan, Cinta Indonesia. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com Iseng-iseng unggah video di https://m.youtube.com/channel/UCmc1Ubhzu3PPCG3XXqcGExg

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Menantikan Masa Depan Ajax Amsterdam

19 April 2019   05:54 Diperbarui: 19 April 2019   18:55 619 10 5
Menantikan Masa Depan Ajax Amsterdam
Ilustrasi: @AFCAjax | twitter.com/AFCAjax

Sudah seharusnya sepakbola Eropa tidak hanya berkutat pada Real Madrid, Barcelona, Liverpool, Manchester United, Juventus, Bayern Munchen, maupun Paris Saint Germain (PSG). Hal ini guna membuat persaingan semakin terbuka dan para pemain tidak lagi hanya memiliki asa memperkuat klub besar seperti yang sudah disebutkan itu.

Bukan hal mustahil jika kemudian gelar juara Liga Champions tidak lagi berputar-putar pada negara Spanyol, Inggris, dan Italia. Mungkin sudah saatnya gelar juara dapat diraih oleh klub dari negara lain. Seperti Belanda misalnya, yang memiliki beberapa klub yang cukup kompetitif khususnya saat berlaga di Liga Champions.

Ajax Amsterdam, PSV Eindhoven, dan Feyenoord sebenarnya merupakan klub-klub yang seringkali dikenal sebagai klub yang mampu mencetak pemain bintang. Artinya, secara kompetisi domestik dan filosofi bermain sepakbolanya juga tidak kalah dengan negara-negara langganan semifinal Liga Champions, seperti Spanyol misalnya. 

Bahkan setiap musim, klub-klub asal Liga Belanda (Eredivisie) tidak pernah absen untuk terlibat aktif dalam bursa transfer, khususnya dalam penjualan pemain. Termasuk di musim depan, salah satu pemain potensial dari Belanda yang memperkuat Ajax Amsterdam, Frenkie De Jong akan bergabung ke Barcelona*.

Di sinilah kemudian kita bisa melihat bahwa Eredivisie mampu menghasilkan atmosfer permainan yang bagus dan dapat dijadikan landasan kualitas dalam bersaing dengan kompetisi lainnya. Terbukti bahwa salah satu klubnya pun mampu bersaing sengit di Liga Champions musim ini (2018/19), Ajax Amsterdam.

Bersama para pemain muda penuh potensial dan juga pemain-pemain yang sarat pengalaman seperti (salah satunya) Dusan Tadic, Ajax mampu menjelma sebagai kuda hitam di kompetisi tertinggi di Eropa. 

Inilah yang kemudian menjadi sinyal bagus bahwa liga Belanda. Yaitu, tidak hanya dipandang sebagai rumah pertama bagi para pesepakbola junior, namun (seharusnya) juga dapat menjadi rumah yang sebenarnya bagi para pemain matang yang ingin membuat tim seperti Ajax ini dapat menjadi salah satu kekuatan besar di Eropa.

Di musim ini, Ajax kembali muncul ke permukaan dengan penampilan impresif. Tidak hanya karena sedang menjadi tim terkuat di Belanda (memuncaki klasemen sementara), namun juga karena penampilan fantastisnya di Liga Champions. Hal ini dapat dilihat ketika mereka berhasil lolos dari fase grup dan menghadapi Real Madrid.

Menjadi lawan bagi juara bertahan tiga kali beruntun tentu bukanlah kabar bagus bagi Ajax. Baik itu bagi tim, maupun pendukungnya. Termasuk ketika di leg pertama, mereka dikalahkan 1-2 oleh Sergio Ramos dkk. Maka, misi untuk menang dan lolos di kandang lawan (Santiago Bernabeu) nyaris mustahil.

Namun, bukan sepakbola Belanda jika tidak mampu membuat permainan sepakbola menjadi terlihat penuh energi dan keoptimisan. Itulah yang terlihat di pertandingan kedua antara Real Madrid yang sedang yakin lolos dengan Ajax yang mengusung 'the mission impossible'.

Misi yang kemudian diubah oleh Ajax menjadi 'possible', dan terbukti Ajax berhasil menghancurkan sang raksasa yang sedang lesu dengan skor 1-4.

Ajax pun melaju ke fase 8 besar.
Uniknya, mereka harus bertemu dengan klub yang diperkuat mantan pemain dari Real Madrid, Cristiano Ronaldo. Kisah yang menarik. Karena, Ajax tidak hanya mencoba untuk kembali menang dan melaju ke fase selanjutnya. Namun juga karena publik menantikan apakah Cristiano Ronaldo mampu membawa klubnya melaju lebih jauh daripada bekas klubnya dan 'membalaskan luka' bekas klubnya.

Leg pertama yang berlangsung di Amsterdam ArenA/Johan Cruijff Arena terlihat bahwa Juventus akan menjalani pertandingan yang sesuai rencana. Termasuk dengan hasil akhir di 90 menit pertamanya---skor imbang 1-1. Artinya, tugas untuk lolos ke fase selanjutnya bukan hal yang berat, dibandingkan saat anak asuh Massimilliano Allegri menyingkirkan Atletico Madrid di laga 16 besar.

Namun, prediksi tinggallah prediksi. Hasil akhir tetaplah ditentukan oleh pertandingan yang jauh lebih diketahui oleh kedua tim yang sedang berupaya untuk menggapai misinya masing-masing. Juventus ingin (mempertahankan peluang) kembali ke final, Ajax ingin kembali merangkai kisah manisnya di Liga Champions musim ini.

Situasi terlihat baik-baik saja bagi Juventus. Apalagi ketika si pemain andalan barunya saat ini, Cristiano Ronaldo kembali menjadi pencetak gol ke gawang Ajax, setelah di leg pertama kapten timnas Portugal ini juga menjadi pencetak gol semata wayang Juventus. Uniknya, seolah seperti dejavu, karena Ajax juga mampu mencetak gol pasca tertinggal terlebih dahulu---seperti di leg pertama.

Namun, petaka sepertinya diberikan oleh Ajax ke tuan rumah setelah mereka berhasil unggul. Skor 1-2 di laga itu pun menjadi skor akhir yang sudah cukup bagi Ajax untuk berpesta kecil di kandang Juventus. Ajax lolos ke semifinal!

Hal yang luar biasa dan membuat publik Amsterdam pasti akan sangat bergembira melihat tim kesayangan mereka akhirnya tidak hanya menjadi penggembira di fase grup Liga Champions ataupun juga menjadi pemenuh slot 16 besar. Namun di musim ini, mereka berhasil menjejak ke semifinal dengan meyakinkan, menumbangkan dua tim raksasa dari dua kompetisi berbeda, Real Madrid dan Juventus. Luar biasa, bukan?

Inilah yang menjadi pembahasan menarik bagi penikmat sepakbola zaman now yang sudah mulai terbiasa melihat Barcelona, Real Madrid, Bayern Munchen, Juventus, atau di musim lalu ada Liverpool yang mencoba kembali ke puncak kejayaan di tanah Eropa. 

Kini, kita kembali melihat sepakbola Eropa mulai bisa 'dimiliki' oleh semua klub dari berbagai liga. Tidak lagi hanya Inggris, Italia, Jerman, ataupun Spanyol. Bahkan negara yang disebut terakhir adalah negara yang menyumbangkan dua-empat klub untuk menjadi perengkuh gelar maupun minimal langganan semifinal. 

Barcelona dan Real Madrid nyaris secara silih berganti berupaya untuk mendominasi di level Liga Champions. Sedangkan di level Liga Europa kita bisa melihat Sevilla dan Atletico Madrid begitu kuat. Bahkan jika didetilkan lagi, maka kita juga tahu bahwa Atletico Madrid pernah menjadi finalis (2x) Liga Champions. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2