Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Penulis - Content Writer

Penyuka Sepak Bola. Segala tulisan selalu tak luput dari kesalahan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Ondel-ondel Lumut

19 Desember 2018   15:08 Diperbarui: 19 Desember 2018   15:14 308
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Jika melihat Ondel-ondel, sama seperti melihat seni Topeng Malangan dan Bantengan. Ada unsur pewayangan---namun bukan wayang, yang membuat penikmatnya tak hanya melihat apa yang sedang dipertontonkan namun juga filosofinya.

Namun, yang menjadi perbedaan adalah seni Bantengan dan Topeng Malangan cukup dekat dengan ranah koreografi. Suatu hal yang masih mudah dinikmati banyak kalangan sampai saat ini. Hal ini sulit untuk ditemukan saat melihat adanya Ondel-ondel. Siapa yang pernah melihat Ondel-ondel bergerak dinamis---loncat ke sana-ke mari mengikuti irama musik? Tentu saja sulit untuk menemukan hal semacam itu, tapi tak menutup kemungkinan ada yang melihat hal itu terjadi, bukan?

Di sinilah yang kemudian menjadi pertimbangan, mengapa Ondel-ondel mulai 'dilestarikan' dengan cara yang berbeda. Diajak mengamen ke sana-ke mari, kemungkinan tak hanya untuk menjadi pengantar rejeki bagi orang yang memeragakannya. Tapi, bisa jadi ini adalah langkah untuk membuat Ondel-ondel dapat 'berdiri sendiri'. Karena, selama ini Ondel-ondel terlihat mendekati peran sebagai maskot dan pagar bagus/ayu di setiap acara yang ada kaitannya dengan budaya Betawi.

Lalu, di manakah letak keistimewaan Ondel-ondel?

Dan mengapa ada judul artikel Ondel-ondel Lumut?

Bukan suatu kebetulan, namun juga bukan suatu perencanaan bahwa artikel ini berjudul Ondel-ondel Lumut. Namun, penjudulan ini sedikit ada upaya dengan sebuah pemberian makna terhadap eksistensi Ondel-ondel yang berusaha diselamatkan namun masih belum tahu setelah itu diapakan oleh para penyelamatnya.

Dimulai dari Ondel-ondel, yang kita ketahui sebagai boneka raksasa yang didalamnya ada orang pemeraga. Hal ini tak jauh bedanya jika kita melihat maskot yang pada umumnya, bukan?

Maskot event olahraga, maskot tim sepakbola, maskot multi-events lainnya,  dan maskot brand produk smartphone pun sudah dapat kita lihat dan kita kenali. Begitu pula, dengan Ondel-ondel. Kita mengetahui Ondel-ondel layaknya sebagai maskot abadi dari kota Jakarta---dari masyarakat Betawinya. Hal ini yang kemudian sedikit membedakan antara maskot yang biasanya kita temui di berbagai lokasi dengan Ondel-ondel. Hanya, secara penampakan Ondel-ondel tak beda jauh dengan maskot-maskot tersebut.

Lalu, apakah Ondel-ondel tidak bisa seperti para maskot tersebut---dikenal dan dinikmati oleh semua orang termasuk anak-anak?

Seharusnya bisa, hanya, sepertinya terdapat perbedaan esensi dan awal mula keberadaan di antara keduanya. Inilah yang kemudian, menjadi suatu cikal-bakal terjadinya pro-kontra ketika Ondel-ondel kini marak 'turun ke jalan'. Layaknya, seperti seorang guru pertapaan yang akhirnya turun gunung demi menyapa para muridnya dan kemudian mati dikubur bersama muridnya di kuburan yang sama. Artinya apa?

Keberadaan Ondel-ondel yang semakin dikenal rakyat tanpa rakyat harus mengunjungi perayaan khusus berbau kesenian tradisional dan kebudayaan lokal, akan membuat persamaan citra antara Ondel-ondel dengan maskot. Yaitu, sebagai penghibur yang receh dan tidak perlu diketahui apa makna (sebenarnya) dari keberadaannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun