Mohon tunggu...
Deddy Husein Suryanto
Deddy Husein Suryanto Mohon Tunggu... Penulis - Content Writer

Penyuka Sepak Bola. Segala tulisan selalu tak luput dari kesalahan. Jika mencari tempe, silakan kunjungi: https://deddyhuseins15.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Top Skor Kompetisi Liga Domestik Selalu Didominasi Pemain Asing

11 Desember 2018   19:53 Diperbarui: 11 Desember 2018   20:01 429
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Penyerang asing PS Tira, Aleksandar Rakic (bola.kompas.com)


Artinya, Spanyol masih punya harapan untuk mencari penyerang subur untuk mengisi skuad timnasnya. Namun, faktanya jika disandingkan dengan pemain impor seperti Messi, Ronaldo, Suarez, dan Griezmann, torehan golnya masih memiliki jarak.

Hal ini juga terjadi di Inggris. Perbedaannya adalah Inggris memiliki semangat untuk merubah peta persaingan secara individu pemainnya dengan adanya kesempatan dalam mengorbitkan pemain muda asli Inggris---hal ini juga harus diimbangi dengan pertumbuhan dan perkembangan kualitas yang memuaskan bagi pelatihnya. Maka, tak heran, jika kita mulai mengenal sosok-sosok predator lokal seperti Kane, Sterling, Alli, dan bahkan kini juga muncul nama baru seperti Loftus-Cheek.

Mereka (publik sepakbola Inggris) tahu faktanya harus seperti itu---persaingan individu harus bersaing dengan pemain asing yang kualitasnya sangat bagus. Namun, mereka tidak gentar dan tidak menyalahkan liganya---yang membuka pintu lebar kepada pemain asing, walaupun beberapa bagian juga mengecam adanya kebebasan transfer pemain asingnya. Mereka menyiasatinya dengan tetap fokus untuk pembibitan (pola didik di akademi) dan penyebaran (pemain dipinjamkan ke klub-klub untuk mendapatkan waktu main yang maksimal).

Begitu pula dengan Serie A. Mereka juga kedatangan banyak pemain asing, apalagi dari daratan Latin (Brazil dan Argentina). Bahkan, pemain-pemain asing ini sangat sengit untuk menunjukkan kualitasnya---uniknya kultur sepakbola mereka (Latin dan Italia) hampir tak beda jauh. Sehingga, memberikan kenyamanan bermain yang bagus bagi para pemain asingnya.

Namun, hal ini tak dibiarkan begitu saja---diantisipasi, karena masing-masing tim juga seringkali melakukan promosi pemain muda dari akademinya. Mereka juga memberlakukan penyebaran pemain dengan meminjamkan pemainnya ke klub-klub kasta lebih rendah yang memungkinkan untuk memberikan menit dan pengalaman bermain yang sesuai harapan---menumbuhkan level permainan. Sehingga, ketika pemain lokal tersebut muncul ke permukaan (mentas di Serie A atau membela klub besar), akan tak kesulitan untuk bersaing dengan para pemain asing.

Fakta semacam inilah (bagaimana mengelola liga/kompetisinya) yang seharusnya lebih diperhatikan oleh publik sepakbola Indonesia juga. Gerbang kompetisi boleh dibuka untuk menyambut pemain-pemain asing---apalagi yang sangat berkualitas, namun harus diimbangi dengan kompetisi junior yang memungkinkan untuk melahirkan regenerasi yang tak terputus.

Generasi Bambang Pamungkas dkk masih bertahan di lapangan sampai sekarang bukan karena pemain tersebut masih mencintai profesinya, namun bisa jadi karena kurang cepatnya kemunculan pemain hebat yang dapat segera menggusur pemain-pemain lawas, dan siapakah yang sudah siap menggantikan generasi Boaz Solossa---pemain lokal terakhir yang merengkuh titel top skor liga?

Dari situlah, tak mengherankan jika kemudian timnas kekurangan penyerang haus gol. Karena stok melimpah yang dimiliki adalah para pemain sayap. Itupun tidak mampu konsisten mencetak gol. Karena, di klubnya, mereka terbiasa melayani penyerang asing, bukan menerima bola dan mencetak gol---inilah tugas striker yang bahkan tak semuanya pemain (termasuk lokal) bisa melakukannya.

Stok penyerang tajam lokal yang masih terjaga (mungkin) hanya tersisa Samsul Arif Munip. Mantan pemain Persela Lamongan ini rupanya tidak kehilangan ketajamannya meski harus merapat ke klub Barito Putera. Bahkan di musim 2018 (yang baru saja tuntas), dia adalah penyerang lokal tersubur dengan torehan 14 gol---setelah berhasil mencetak gol di laga terakhir lawan Persib Bandung. Artinya, stok penyerang lokal memang tidak banyak dalam urusan mencetak gol. Namun, ini bukan karena dominasi penyerang asingnya, melainkan kualitas pemain lokalnya yang belum dapat meyakinkan pelatih dan klub agar dapat benar-benar mempercayakan lini depan 100% kepada penyerang lokal.

Kita bisa lihat klub Arema FC yang tidak memiliki penyerang asing maupun penyerang naturalisasi. Lini depan mereka tidak sepenuhnya tajam. Ketika penyerangnya tumpul, maka sumbangan gol akan bergantung ke pemain tengah, dan pemain tengah itu adalah Makan Konate. Lagi-lagi bukan pemain lokal---padahal sudah diturunkan posisinya ke pemain tengah. Artinya, bukan saja sulit mencari penyerang lokal yang haus gol, pemain tengah yang haus gol juga sulit.

Maka dari itu, kita tidak bisa menyalahkan regulasi tentang pemain asing, karena ini menyangkut pilihan terhadap kualitas pemain dan ini tentunya berada di ranah kekuasaan pelatih. Bukan manajemen, juga bukan pemainnya sendiri. Jika, anda memiliki klub dengan pelatih sehebat Robert Rene Albert, Mario Gomes dan Stefano Cugurra, tentu yang dipikirkan oleh pelatih tersebut adalah pemain yang sesuai dengan taktiknya. Bukan taktik yang menyesuaikan pemainnya. Karena, ini adalah klub. Artinya, klub jangkauannya (seharusnya) lebih luas dibandingkan tim nasional. Karena, jika bisa datangkan pemain hebat asal mancanegara, why not?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun