Mohon tunggu...
Hendrikus Dasrimin
Hendrikus Dasrimin Mohon Tunggu... Mahasiswa - Scribo ergo sum (aku menulis maka aku ada)

Kunjungi pula artikel saya di: (1) Kumpulan artikel ilmiah Google Scholar: https://scholar.google.com/citations?user=aEd4_5kAAAAJ&hl=id (2) ResearchGate: https://www.researchgate.net/profile/Henderikus-Dasrimin (3)Blog Pendidikan: https://pedagogi-andragogi-pendidikan.blogspot.com/ (4) The Columnist: https://thecolumnist.id/penulis/dasrimin

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Ketika Pintu Berbicara

23 Mei 2022   21:15 Diperbarui: 11 September 2022   18:44 1129
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Membuka pintu (Dokpri)

 Ada beberapa hal yang bisa kita refleksikan dari pintu.....

FUNGSI PINTU
Sesungguhnya pintu merupakan sesuatu yang menakjubkan. Menutup berarti menjadi alat pemisah, tetapi dengan membukanya berarti pintu itu mengundang dan menyatukan kembali apa yang sebelumnya terpisah.

PINTU ILAHI
Jika kita memilih membuka pintu dan melangkahi ambang pintu maka pada saat itu kita lebih menyadari diri kita sebagai pribadi dengan potensi-potensi tanpa batas. Membuka diri kepada Allah berarti membuka diri kepada pertumbuhan dan perubahan. Dari pihak kita dibutuhkan kerendahan hati.

PINTU YANG TERSEMBUNYI
Orang yang hadir di sekitar kita adalah orang yang membesarkan hati, yang mendorong dan membantu anda untuk menemukan pintu yang tersembunyi. Teman bisa mengantar kita untuk melihat bagian-bagian diri kita sendiri yang telah dibebani oleh ego kita masing-masing. Mereka membantu kita untuk membuka pintu hati kita.

TEMBOK SEBAGAI PINTU
Ilusi merupakan pintu yang berpura-pura, tiruan, dipenuhi dengan penyamaran. Salah satu cara untuk menghubungi ilusi kita adalah dengan mendengarkan reaksi yang menghancurkan kita. Cinta sejati akan membantu kita mengenal dan mengakui apakah ada tembok yang kokoh kuat yang menyatakan menjadi pintu.

MENGETUK PINTU
Mengetuk pintu memerlukan lebih banyak usaha fisik daripada membunyikan bel pintu. Pertumbuhan rohani membutuhkan energi. Pengenalan dan penerimaan diri yang benar akan berhasil jika kita berusaha keras dan memperluas jawaban dengan seluruh hati kepada proses transformasi. Jenis ketukan mencerminkan tipe kepribadian seseorang dan alasan untuk mendatangi pintu.

Mengetuk pintu (Dokpri)
Mengetuk pintu (Dokpri)

KETUKAN PADA PINTU
Seseorang yang mengetuk mengharapkan perhatian dari siapapun yang berada pada sisi lain, di dalam ruangan. Ketukan juga melukiskan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan seseorang "sekarang". Apapun alasan untuk ketukan pada pintu, orang berharap pada akhirnya ada jalan keluar. Hal ini juga membutuhkan kesabaran untuk menunggu sampai pintu dibuka. Dan jika kita merasa bahwa kita adalah pintu yang diketuk, dengarkan apa yang menuntut untuk didengarkan.

MENDENGARKAN KETOKAN
Ketokan itu kadang tidak lebih keras dari detakan jantung. Maka mendengarkan merupakan tantangan berat. Mendengarkan itu perlu diusahakan dan diperbaharui setiap hari karena hidup kita begitu sibuk dan aktif. Untuk mendengarkan dengan baik masing-masing kita membutuhkan keheningan, terutama keheningan batin. Pencarian kita akan Allah hanya merupakan jawaban kita terhadap pencarian Allah akan kita. Allah sering mengetok pintu hati kita. Persoalannya apakah kita bisa mendengar ketokan itu

PINTU AKAN DIBUKA
Setiap kali ketika kita memalingkan hati kita dalam iman dan mengakui pertolongan Ilahi, maka pada saat itu kita sedang mengetuk pintu. Tuhan berjanji bahwa pintu akan dibuka bagi mereka yang mau mengetuknya.

PEMBUKA PINTU
Kabar gembira yang paling mendalam berpusat pada pelepasan atau pembebasan bagian dalam diri kita. Dengan pertolongan Ilahi, kita membuka pintu. Kita membiarkan pergi ketertutupan hati, sehingga mukjizat pertumbuhan rohani terjadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun