Mohon tunggu...
Daniel SetyoWibowo
Daniel SetyoWibowo Mohon Tunggu... Tutor kelompok belajar anak-anak

Seorang warga negara Indonesia yang mau sadar akan kewarganegaraan dengan segala ragam budaya, agama, aliran politik, sejarah, pertanian / kemaritiman tetapi dipersatukan dalam semangat nasib dan "imagined communities" yang sama Indonesia tetapi sekaligus menjadi warga satu bumi yang sama.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Memoar Seorang Kaisar Romawi, Hadrianus

19 Mei 2019   15:59 Diperbarui: 28 Mei 2019   14:02 0 8 2 Mohon Tunggu...
Memoar Seorang Kaisar Romawi, Hadrianus
Dok. Pribadi

Kekaisaran, negara besar, kekuasan besar, atau pengaruh besar, ternyata besar dan banyak pula masalah dan bahaya yang ditimbulkannya bukan hanya bagi dirinya sendiri tetapi banyak orang. Ini terbukti dari kisah-kisah tentang Kekaisaran Romawi. Kerajaan ini pernah menguasai seluruh Eropa bahkan sebagian Afrika dan Rusia.

Dari kisah-kisah tragedi hingga romantik, menjadi tiang-tiang Romawi. Berbagai macam budaya dari yang fanatik, hedonis, mesum, pengorbanan manusia sampai dengan humanis, toleran, menjadi penyangga penting Imperium Romanum. Intrik-intrik politik ataupun ketulusan dari yang halus sampai dengan penghianatan dan pembunuhan, turut menghiasi ornamen-ornamen bangunan kekaisaran ini.

Ketika kekuasaan ada di tangan, banyak pula pilihan-pilihan. Dan, sikap menentukan pilihan atau tidak memilih itu menunjukkan kualitas pribadi macam apakah itu sekaligus dampaknya yang luas seturut kekuasaan yang digenggamnya. Pilihan-pilihan itu menentukan karakter kekaisarannya dan bagaimana ke depannya. Termasuk pilihan untuk tidak memilih.

Namun dari semua itu, tentu ada batas-batasnya meski samar-samar agar tidak menghancurkan dirinya sendiri secara cepat. Romawi mempunyai kebijaksanaan itu, yaitu menciptakan 'suatu peraturan menyangkut penerus kerajan: mengangkat anak itulah peraturannya' (hal. 284).

Jadi regenerasi dipersiapkan lama dan semua orang tahu siapa yang akan menggantikan seorang kaisar jauh-jauh hari. Bukannya seolah-olah mendadak di khalayak umum seperti munculnya ratu adil, meskipun para elitenya sudah mempersiapkan lama dan merencanakan dengan matang di ruang-ruang tertutup termasuk antisipasi-antisipasinya.

Bagaimana sosok Hadrianus (117-138) menghadapi peraturan itu ? Bagaimana Kaisar Romawi pengganti Trayanus (98 - 117) ini bisa mengatasi masalah-masalah di atas tanpa menimbulkan masalah baru yang lebih besar baik di masanya maupun penggantinya ? Dan bagaimana ia melanjutkan estafet kekaisaranya ke depan?

Buku Memoar Hadrianus yang ditulis Marguerite Yourcenar ini memberi jawaban yang memuaskan. Justru karena ini merupakan fiksi sejarah. Marguerite Yourcenar menampilkan sosok Hadrianus yang humanis, berpandangan multikulturalisme, berjiwa halus, realistis; sangat sedih kehilangan sahabatnya, pintar dalam bermain politik baik terhadap kawan maupun lawan, memahami betul tentang sastra, filsafat, dan ilmu pengetahuan, dan mempunyai rasa seni yang tinggi. Di samping itu Hadrianus sosok yang tidak kehilangan ketegasannya. Ia visioner.

Otobiografi Fiksi
Novel Marguierite Yourcenar ini berbentuk otobiografi fiksi. Sangat rinci menggambarkan kisah kehidupan Hadrianus 'dari dalam'. Memoar ini ditujukan kepada "cucu" angkatnya yang terkenal, yaitu: Marcus Aurelius (161 -- 180).

Marcus Aurelius dikenal juga sebagai pemikir dan filsuf, disamping Kaisar. Hadrianus mewariskan atau lebih tepat mempersiapkan Marcus tanpa melanggar peraturan Roma sehingga ia mengangkat Antonius Pius menjadi anak angkat atau putera mahkota.

Buku ini sangat unik karena Marguerite Yourcenar menciptakan suatu dunia rekaan sekaligus dia sendiri hidup di dalamnya. Karena itu, ketika kita membaca buku ini, seolah-olah dunia nyatalah dipaparkan, mengingat begitu rinci kebiasaan-kebiasaan si tokoh Hadrianus termasuk ketakutan-ketakutan, kebanggaan, dan mimpi-mimpinya.

Meskipun suatu rekaan, hal ini bukanlah suatu rekaan biasa atau 'lamunan'. Marguerite Yourcenar berusaha merekonstruksi sejarah Romawi dan kepribadian serta watak Hadrianus. Ia mendasarkan diri pada dokumentasi sejarah yang sangat rinci sekaligus menggunakan daya imajinasi. Karena itu Apsanti Djokosujatno dalam pengantar terjemahanya ini menilai buku ini dapat dianggap sebagai model penulisan novel sejarah yang ideal dilihat dari ketekunan dan tanggungjawab penulisnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3