M. Danie Al Malik
M. Danie Al Malik Swasta

Mencintai peran laut secara ekologis dan mencoba memahaminya melalui sebuah pembelajaran. Lautkita.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Plastik Menjadi Penguhuni Baru bagi Terumbu Karang, LAZIM-Kah?

8 Juni 2018   01:25 Diperbarui: 8 Juni 2018   02:17 390 0 0
Plastik Menjadi Penguhuni Baru bagi Terumbu Karang, LAZIM-Kah?
Gambar 1. Plastik di sekitaran terumbu karang (Sumber : Dokumentasi pribadi WCS-Lombok)

Apa yang kalian bayangkan jika mendengar kata "terumbu karang di lautan" ?, penulis membayangkannya, terumbu karang warna-warni dengan hewan-hewan yang hidup berdampingan dengannya, seperti ikan-ikan, bintang laut, kima, teripang, krustasea, dan lain sebagainya yang dapat memanjakan mata dengan melihat kehidupan yang saling berhubungan satu-sama lain membentuk sebuah ekosistem. Sudah-kah anda melihat hal tersebut ? jika belum segeralah melihat hal menakjubkan tersebut.

 Namun, sekarang terumbu karang mempunyai penghuni baru dalam ekosistemnya yaitu bernama "plastik", ya plastik, benda yang sering kita gunakan untuk membawa barang belanjaan, ataupun berbagai barang jenis yang terbuat dari plastik dan telah kita buang sembarang. Tahukah kalian, dimana semua itu bermuara ?, semua itu bermuara di lautan, sehingga hal tersebut menjadi penghuni baru dalam kehidupan ekosistem laut salah satunya terumbu karang. 

Mari kita ucapkan "Selamat datang plastik !". Lalu, seperti apakah fungsi dari plastik untuk ekosistem terumbu karang, karena pada kodratnya semua yang bertempat dalam suatu ekosistem memiliki fungsinya masing-masing dalam ekosistem tersebut, dalam hal ini fungsi plastik di ekosistem terumbu karang.

Baru-baru ini telah terbit paper dari penelitian yang dilakukan Lamb dkk (2018). tentang pengaruh sampah plastik untuk terumbu karang. Penelitian tersebut mengambil 159 area terumbu karang yang terdiri dari 4 negara di Asia-Pasifik yang memiliki 55.5 % luas total terumbu karang di dunia dan 73% populasi manusianya menggantungkan hidup dari laut dan pesisir seperti kegiatan penangkapan ikan, budidaya, dan parawisata sebagai sumber mata pencaharian. 

 Negara-negara tersebut yaitu Myanmar, Thailand, Indonesia, dan Australia. Setiap titik survey peneliti tersebut menggunakan transek dengan kisaran luasan 100 m2 dan mengambil sampah plastik yang ukurannya lebih dari 50 mm dalam kisaran area transek tersebut. Penelitian tersebut bertujuan untuk melihat tingkat pengaruh plastik  sehingga terjadinya penyakit pada terumbu karang.

Gambar 2. Estimasi jumlah sampah plastik di daerah Asia-Pasifik (Sumber : Lamb dkk., 2018)
Gambar 2. Estimasi jumlah sampah plastik di daerah Asia-Pasifik (Sumber : Lamb dkk., 2018)
Hasil yang didapatkan bahwa dari ke-empat negara tersebut jumlah sampah plastik yang dihasilkan tertinggi yaitu negara Indonesia dengan 25.6 sampah plastik per 100 m2 dan yang paling terendah yaitu negara Australia dengan 0.4 sampah plastik per 100 m2. Peneliti juga mengestimasi dari semua jumlah sampah plastik dari lokasi pengamatan, yaitu berjumlah 11.1 juta sampah plastik yang menjerat terumbu karang di daerah Asia-Pasifik sekarang, dan hal itu akan bertambah hingga 40% pada tahun 2025 jika hal tersebut dibiarkan (Gambar 2).

Gambar 3. Persentase pengaruh sampah plastik mempengaruhi terjadinya penyakit terumbu karang (Sumber : Lamb dkk.,2018)
Gambar 3. Persentase pengaruh sampah plastik mempengaruhi terjadinya penyakit terumbu karang (Sumber : Lamb dkk.,2018)
Penelitian tersebut juga menjelaskan efek dari plastik sehingga terjadinya penyakit pada terumbu karang. Berdasarkan beberapa lokasi terumbu karang dalam penelitian tersebut yang tidak ditemukan sampah plastik, hanya mempunyai rata-rata 4.4% terumbu karang yang terjangkit penyakit. Hal bertentangan terjadi pada lokasi terumbu karang yang terdapat ditemukannya sampah plastik, terdapat rata-rata 89.1% terumbu karangnya terjangkit penyakit (Gambar 3). 

Hal ini salah satunya dikarenakan komunitas mikroba patogen seperti bakteri Vibrio, bakteri ini banyak berkoloni pada Polypropylene yang terkandung dalam plastik, sampah plastik akan terjerat pada terumbu karang dan melukai jaringan terumbu karang, lalu bakteri yang berada pada sampaj akan masuk ke-dalam jaringan terumbu karang. Bakteri Vibrio tersebut merupakan bakteri penyebab white syndrome yang merupakan salah satu jenis penyakit pada terumbu karang.

Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa jika sampah plastik terus dibiarkan maka fungsi dari terumbu karang bagi kehidupan manusia juga akan hilang. Lebih dari 275 juta orang menggantungkan hidupnya pada terumbu karang untuk sumber makanan, pemasukan dari kegiatan parawisata, dan lain sebagainya. Apakah hal tersebut lazim ?

Referensi

J. B. Lamb., B. L. Willis., E.A. Friorenza., C.S. Couch., R. Howard., D.N, Rader., J.D. True., L.A. Kelly., A. Ahmad., J. Jompa., dan C.D Harvell, 2018. Plastic Waste Associated with Deases on Coral Reefs. Science. DOI: 10.1126/science.aar3320