Mohon tunggu...
Danan Wahyu Sumirat
Danan Wahyu Sumirat Mohon Tunggu... Travel Blogger, Content Creator and Youtuber

Blogger multitalenta yang tidak hanya menulis tapi juga piawai fotografi dan videografi. Karya tulis dan foto terbit inflight magazine dan majalah wisata. Aktif di komunitas video jurnalis warga dan videonya kerap tayang di televisi nasional. Sejak virus COVID-19 mewabah rajin membuat video kuliner. Bio lengkap di https://dananwahyu.com/about/

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Berobat ke Luar Negeri Bukan Gaya-gayaan

21 Oktober 2019   18:45 Diperbarui: 23 Oktober 2019   14:41 1209 11 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Berobat ke Luar Negeri Bukan Gaya-gayaan
Letak kondisi geografis yang menjadi alasan warga Batam berobat ke Singapura atau Malaysia.| Dokumentasi pribadi

"Duh gaya-gayaan amat sih berobat musti ke luar negeri!"

Begitulah hati julid ini berujar ketika menonton infotainment yang menayangkan artis berobat ke luar negeri.

"Apa nggak ada dokter atau rumah sakit di negeri ini yang mampu menyembuhkan penyakit?"

Setelah 5 tahun tinggal di Batam, akhirnya saya mengerti mengapa banyak orang Indonesia berobat ke negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia. Alasannya bukan semata-mata pelayanan rumah sakit di luar negeri lebih baik daripada di Indonesia. Namun kondisi geografis yang membuat orang lebih memilih berobat di luar negeri dibandingkan di dalam negeri.

Sebagai contoh rekan kerja saya. Anaknya baru lahir dan mengalami kelainan jantung bawaan. Rekomendasi dokter adalah operasi untuk memperbaiki katup antara bilik dan serambi jantung yang tidak sempurna. Tapi sayangnya prosedur operasi ini tidak bisa dilakukan di Batam dan harus dilakukan di Jakarta. Sedangkan anak teman saya usianya belum genap tiga bulan dan belum bisa dibawa ke Jakarta dengan pesawat terbang.

Jadi pilihannya adalah berobat ke Singapua atau Malaysia karena dari Batam transportasi ke dua negara tadi bisa dilakukan dengan menggunakan kapal feri. Tapi yang jadi masalah asuransi perusahaan tidak dapat digunakan untuk berobat ke luar negeri. Sangat disayangkan belum genap tiga bulan akhirnya anak rekan kerja saya harus berpulang karena tiba-tiba mengalami gagal jantung.

Kejadian Serupa Tapi Tak Sama
Saya tidak pernah berpikir akan mengalami kejadian yang mirip dengan rekan saya. Ini bukan anak atau istri yang mengalami dilema harus berobat ke luar negeri tapi saya sendiri.

Berdasarkan hasil MCU (Medical Check Up) tahun lalu saya mendapati nilai SGPT dan SGOT darah di atas ambang toleransi. Menurut penjelasan dokter penyakit dalam terjadi disfungsi hati dan harus dilakukan pemeriksaan ulang. Setelah dilakukan tes enzim hati sekali lagi ternyata hasilnya masih sama, sedangkan dari hasil USG (ultrasonografi) tidak ada anomali yang terlihat.

Berdasarkan catatan medis saya memang pernah menderita hepatitis B 15 tahun lalu dan dinyatakan sembuh total dengan status anti hepatitis B positif. Dokter menyarankan saya untuk melakukan pemeriksaan MRE (Magnetic Resonance Elastography) yang tujuannya agar diketahui secara dini jika terjadi fibrosis liver atau luka pada hati.

Karena di Batam belum ada MRE jadi prosedur pemeriksaan ini dirujuk ke salah satu rumah sakit di Jakarta. Memang sih semua biaya pemeriksaan ditanggung oleh perusahaan tempat saya bekerja. Tapi masalahanya biaya transport ke Jakarta dan akomodasi ditanggung sendiri, belum lagi harus meluangkan waktu.

Alternatif berikutnya saya bisa melakukan prosedur pemeriksaan MRE di Singapura atau Malaysia. Dengan alasan biaya, saya lebih memilih Malaysia karena beberapa rumah sakit di Johor atau Melaka mampu melakukan prosedur pemeriksaan ini. Kondisi di atas sempat saya diskusikan dengan staf HRD tempat saya bekerja namun ternyata perusahaan tidak menanggung pengobatan atau prosedur kesehatan di luar negeri.

Salah satu alasan orang Indonesia berobat ke luar negeri adalah fasilitas kesehatan lebih baik. (sumber gambar: tripmedis.id)
Salah satu alasan orang Indonesia berobat ke luar negeri adalah fasilitas kesehatan lebih baik. (sumber gambar: tripmedis.id)
Setelah saya pertimbangkan masak-masak akhirnya saya memilih untuk melakukan pemeriksaan di Johor dengan biaya sendiri. Setelah berkomunikasi dengan konsultan kesehatan salah satu rumah sakit Johor di Batam, ternyata harga pemeriksaan MRE masih terjangkau. Jika dihitung dengan biaya tiket pesawat Batam-Jakarta beserta akomodasinya hampir sama tapi keuntungannya saya tidak kehilangan banyak waktu.

Akhirnya prosedur pemeriksaan MRE dilakukan dan setelah proses pengobatan hampir setahun kondisi hati saya membaik dengan indikator nilai SGPT dan SGOT di bawah batas normal, tidak ada anomli disfungsi hati.

Alarm Tubuh
Berkaca dari pengalaman di atas saya semakin menghargai apa arti kesehatan. Sehat itu aset berharga yang harus senantiasa dijaga karena tidak bernilai. Bayangkan kita memiliki banyak uang tapi sakit dan tidak bisa melakukan aktivitas. Itu dari sisi pribadi bagaimana dengan keluarga yang selama ini menjadi tanggung jawab saya.

Oleh karena itu mulai sekarang saya mulai menjaga aset dari Tuhan ini dengan sebaik-sebaiknya. Caranya dengan mengubah gaya hidup melalui menjaga pola makanan dan rutin berolahraga.

Salah satu menjaga kesehatan dengan pola hidup seimbang.
Salah satu menjaga kesehatan dengan pola hidup seimbang.
Berikutnya lebih peduli dengan alarm tubuh. Alarm tubuh? Ya sebetulnya gejala penyakit yang dirasakan oleh manusia itu peringatan tubuh karena terjadi anomali. Sebaiknya kita lebih peka dengan semua pertanda alami tubuh. Jika sudah merasa ada sesuatu yang tidak baik dengan tubuh sebaiknya ke rumah sakit atau minimal berkonsultasi dengan dokter.

Idealnya MCU (Medical Check Up) dilakukan setiap tahun, jadi ketika terjadi anomali sekecil apapun bisa segera ditanggulangi sejak awal. Kebanyakan dari kita melakukan MCU untuk menggugurkan program HRD perusahaan dan tidak ditindaklanjuti dengan melakukan konsultasi. Akibatnya semua anomali tubuh menumpuk dan pada akhirnya menjadi penyakit yang lebih kompleks atau disebut komplikasi.

Asuransi Tambahan Sun Medical Platinum
Walau Batam dikenal sebagai kota industri ternyata rumah sakit di pulau tempat saya tinggal tidak memiliki peralatan medis selengkap Singapura atau Malaysia. Berdasakan pengalaman di atas saya harus ke Jakarta untuk pemeriksaan MRE. 

Setelah berdiskusi dengan keluarga sepertinya saya harus mengambil asuransi kesehatan yang manfaat produknya bisa digunakan di luar negeri. Karena selain secara geografis Batam dekat dengan kedua negara tersebut, saya memiliki hobi jalan-jalan. Setidaknya dalam setahun melakukan perjalanan ke luar negeri 6 sampai 10 kali untuk liburan dan urusan pekerjaan.

Walau dalam setiap perjalanan selalu membeli asuransi traveling tapi rasanya akan lebih aman jika memiliki asuransi kesehatan dengan manfaat lebih yang bisa digunakan di seluruh di seluruh dunia.

Setelah mengulik beberapa produk dari Sun Life Financial Indonesia, saya rasa Asuransi Tambahan Sun Medical Platinum yang sesuai dengan kebutuhan. Ada tiga pilihan wilayah pertanggungan asuransi kesehatan yang ditawarkan yaitu: Indonesia & Malaysia, Asia dan Worlwide (seluruh dunia).

Asuransi Tambahan Sun Medical Platinum merupakan asuransi yang pas dengan aktivitas saya.
Asuransi Tambahan Sun Medical Platinum merupakan asuransi yang pas dengan aktivitas saya.
Sebagai permulaan saya akan mengambil asuransi dengan wilayah pertanggungan seuruh dunia sesuai dengan aktivitas saya tahun ini, tapi jika tahun depan ada perubahan pola perjalanan dan pekerjaan ada kemungkinan merubah wilayah pertanggungan.

Salah satu keunggulan program Asuransi Tambahan Sun Medical Platinum adalah bisa diperpanjang hingga usia 88 tahun. Maunya sih sampai usia 100 tahun tetap bugar dan sehat karena saya memimpikan setelah usia pensiun dapat tetap menjalani hobi jalan-jalan dan fotografi.

Di samping itu, produk asuransi ini merupakan asuransi kesehatan pertama di Indonesia yang menyediakan perawatan untuk efek samping kemoterapi dan terapi pendukung untuk pemulihan seperti terapi wicara serta terapi okupasi.

Sehat Itu Aset 
Sekarang saya jadi mengerti mengapa para artis sering berobat ke luar negeri, karena mereka sadar bahwa kesehatan itu aset berharga. Dengan tetap sehat artinya mereka tetap bisa produktif dan berkarya. Alasan lain memilih berobat di rumah sakit luar negeri adalah privasi. Bayangkan jika seorang artis berobat ke puskesmas pasti sudah diikuti oleh wartawan infotainment. Lalu besok keluar berita di televisi si artis sakit parah padahal cuma sakit flu dan batuk biasa.

Kita yang bukan artis boleh saja sah saja berobat ke luar negeri. Karena sesungguhnya tetap sehat itu adalah kebutuhan utama manusia.

Karena menjadi sehat adalah kebutuhan primer, mulai sekarang saya rajin berolahraga.| Dokumentasi pribadi
Karena menjadi sehat adalah kebutuhan primer, mulai sekarang saya rajin berolahraga.| Dokumentasi pribadi
Bukannya kebutuhan primer manusia itu, sandang, pangan dan papan?

Untuk apa kita makan kalau apa yang kita makan tidak membuat sehat. Jadi mulai sekarang masukan kesehatan dalam kebutuhan utama hidup kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x