Mohon tunggu...
Damarra Kartika
Damarra Kartika Mohon Tunggu... Penulis - Mahasiswa

Mahasiswa Ilmu Komunikasi dengan Konsentrasi Studi Komunikasi Massa dan Digital Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Bagai Bumi dan Langit, Bedanya Jurnalisme Media Dulu dan Sekarang

3 Maret 2021   12:56 Diperbarui: 3 Maret 2021   13:48 231
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sayangnya, kecepatan itu tidak diimbangi verifikasi berita yang baik oleh media. Jadi, beberapa berita terkadang tidak dipastikan kebenarannya dan menimbulkan hoax. 

Tantangan yang hadir bagi para jurnalis adalah memproduksi konten multimedia. 

Jurnalisme multimedia adalah praktik jurnalisme yang melibatkan multimedia (audio, video, foto, grafik informasional, grafik gerak) untuk mendukung konten berita (McAdams, 2014).  

Tujuan multimedia adalah informasi yang diberikan kepada pembaca lebih lengkap atau utuh. Setiap media yang digunakan, harus koheren dalam menyampaikan suatu topik permasalahan.

Produksi konten multimedia tentu membutuhkan pola pikir dan keterampilan. Kalau si jurnalis hanya bisa menulis, siapa yang mengedit video? Kalau jurnalis hanya bisa bicara, siapa yang menulis dan mengedit audio atau bahkan membuat desain infografis? 

Jurnalis Harus Kerja & Belajar Bagai Quda

Demi membantu pembaca memahami cerita yang ingin disampaikan jurnalis, multimedia akan sangat diperlukan. Namun, sayangnya berdasarkan hasil riset yang dilakukan kepada jurnalis, persoalan keterampilan multimedia baru menjadi kebutuhan paling mendesak sekitar 29.000 orang jurnalis. Keterampilan ini tentu seputar menghasilkan konten multimedia. 

Ini menjadi salah satu konsekuensi yang harus ditelan oleh jurnalis di Indonesia. Proses verifikasi harus lebih baik, dibarengi kemampuan atau keterampilan multimedia yang mumpuni. Kebayang tidak harus seperti apa para jurnalis di luar sana bekerja? 

Dalam konteks Indonesia, sebetulnya hal multimedia ini dapat dimulai terlebih dahulu dari hal sederhana. Artikel berjudul (Re)defining Multimedia Journalism (McAdams, 2014) menyampaikan ada satu teknik yang sederhana dan dapat dimaksimalkan terlebih dahulu. 

Maksud artikel tersebut adalah dengan menggunakan Parallax Scrolling. Teknik ini sudah lama ditemukan, namun belum digunakan maksimal oleh media untuk membantu praktik Jurnalisme Multimedia. 

Kalau kamu ingin tahu lebih lanjut soal fitur menarik yang aplikatif ini, silakan menonton video 60 detik di bawah ini ya! 

Storytelling Untuk Mengambil Banyak Hati

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun