Kamaruddin Azis
Kamaruddin Azis profesional

Lahir di pesisir Galesong, Kab. Takalar, Sulsel. Blogger. Menyukai perjalanan ke wilayah pesisir dan pulau-pulau. Pernah kerja di Selayar, Luwu, Aceh, Nias. Mengisi blog pribadinya http://www.denun89.wordpress.com Dapat dihubungi di email, daeng.nuntung@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Artikel Utama

Inovasi "Pelan Itu Bagus" yang Inspiratif dari Pinrang

12 Juli 2018   08:31 Diperbarui: 13 Juli 2018   03:25 1727 3 4
Inovasi "Pelan Itu Bagus" yang Inspiratif dari Pinrang
Foto: Tribunnews.com

Kelangkaan pasokan daging sapi yang dialami saban tahun adalah tantangan sekaligus peluang bagi Pemerintah Daerah untuk kreatif. Awal tahun ini, Pemerintah mencatat kebutuhan daging sapi dalam negeri mencapai 663 ribu ton sementara prediksi produksi di tahun yang sama sekitar 400 ribu ton saja.

Sebuah ironi di tengah realitas bahwa Indonesia mempunyai hamparan lahan peternakan nan luas. Demikian pula jumlah peternak yang mencapai 4 juta jiwa. Ada gap sengit antara kebutuhan dan kemampuan produksi. Faktanya, kebutuhan daging sapi nasional baru terpenuhi 60,9% dari daging sapi dalam negeri.

"Itu yang menjadi alasan mengapa Pemerintah Kabupaten Pinrang masuk ke isu peternakan dan perbaikan layanan publik ini," kata Bupati Dr. Andi Aslam Patonangi saat ditemui di Kantor KemenPANRB, (11/7).

Aslam ada di sana untuk mempresentasikan sekaligus menjawab pertanyaan panelis terkait program inovasi pelayanan publik peternakan 'Pelan Itu Bagus' yang diapresiasi Pemerintah Pusat melalui kompetisi Top 99 yang ditangani Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB), (11/7).

Pelayanan Berkelanjutan Inseminasi Buatan dan Gangguan Reproduksi Sapi atau disingkat 'Pelan Itu Bagus' adalah inovasi pelayanan publik andalan Dinas Pertanian dan Peternakan, dari kabupaten di ujung utara Sulawesi Selatan yang lolos sebagai Top 99.

Mengapa 'Pelan itu Bagus'?

Dengan luas wilayah 1961,77 persegi Pinrang mempunyai peluang besar. Terdapat hamparan penggembalaan yang sangat luas. Jumlah ternak sapi di Pinrang hanya ada sekitar 25 ribuan. Angka yang cukup kecil untuk lahan sedemikian luas.

"Di sisi lain, Pemerintah kita masih mengimpor karkas 800 ribu ton pertahun," sebut Aslam. Karkas adalah bagian dari ternak setelah disembelih, terdiri dari daging dan tulang, tanpa kepala, kaki, kulit dan jeroan.

"Masak ndak bisa substitusi dengan peningkatan produksi?" tanyanya. Maksudnya, seharusnya ada cara untuk mengisi gap itu dengan inovasi di bidang peternakan.

"Kami melihat peluang besar untuk mengisi gap itu, memaksimalkan potensi sumber daya alam. Yang kami lakukan adalah memperbaiki pelayanan di bidang peternakan untuk menopang suplai daging ternak sapi nasional melalui inseminasi buatan (IB)," katanya optimis.

"Untuk itulah inovasi 'Pelan Itu Bagus' ini didorong. Kami yakin inovasi IB ini tak hanya menawarkan kebaruan tapi kepedulian pada kepentingan bangsa. Tentu dengan dukungan teman-teman di Dinas Pertanian dan Peternakan dan aparatur lainnya. Tidak main-main, mereka tongkrongi selama 21 hari masa birahi sapi," katanya dengan senyum menyungging.

"Jadi tidak sekadar inseminasi buatan tapi kesungguhan untuk memantau situasi ternak, apakah tidak ada gangguan reproduksi, apakah ada penyakit, perlu tidaknya disuntik hormon, termasuk mengecek birahi tidaknya. Kalau birahi lagi, berarti harus diinseminasi kembali," papar Aslam.

Apa yang dijalankan oleh satuan kerjanya di Pinrang merupakan refleksi pengalokasian sumber daya daerah untuk mendukung inovasi dan niat luhur membangun bidang peternakan nasional.

"Kami alokasikan sumber daya manusia yang kompeten, penguatan peternak, kami anggarkan APBD untuk ide ini, hasilnya dapat dilihat dari capaian tahunan. Di tahun 2016 kami peroleh 300-an lebih sapi dari program ini, tahun 2017 ada seribu ekor lebih. Hasilnya sudah kelihatan," tambahnya.

"Terkait peternakan ini kan persoalan klasiknya karena kita kurang kompetitif. Perlu intervensi teknologi dan tentu saja inovasi," ucapnya.

Kalau berharap penambahan populasi dari grazing saja tidak cukup. Itupun banyak kendalanya seperti anak sapi yang kerdil atau cacat," tambahnya.

Keistimewaan 

"Untuk menjamin keberlanjutannya, kita perkuat kelompok. Mereka juga ikut berkontribusi seperti pada dukungan IPR atau Instalasi Pemeliharaan Rakyat, kandang jepit, lahan dan ternak. Kami juga bekerjasama dengan Balai Latihan Ternak Bogor, Jawa Barat, yang berada di bawah Kementerian Pertanian," imbuhnya.

"Jadi inovasi ini lahir dari kolaborasi dan berjalannya mekanisme kerjasama teknis dan manajemen," tegasnya.

"Kami menyadari bahwa meski Pinrang mempunyai padang penggembalaan sangat luas namun kapasitas sumber daya manusia, dalam hal ini pertenak juga perlu mendapat perhatian, makanya kami juga dorong teaching farm. Metode sharing dan evaluasi bersama," imbuhnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3