Mohon tunggu...
Nur Terbit
Nur Terbit Mohon Tunggu... Jurnalis - Pers, Lawyer, Author, Blogger

Penulis buku Wartawan Bangkotan (YPTD), Lika-Liku Kisah Wartawan (PWI Pusat), Mati Ketawa Ala Netizen (YPTD), Editor Harian Terbit (1984-2014), Owner www.nurterbit.com, Twitter @Nurterbit, @IniWisataKulin1, FB - IG : @Nur Terbit, @Wartawan Bangkotan, @IniWisataKuliner Email: nurdaeng@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

"Melamar" Kompas, Eh Malah "Nikah" dengan Anak dan Cucunya

29 Juni 2017   12:14 Diperbarui: 30 Juni 2017   06:27 1544
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sejuta Kenangan bersama Kompas
Ibaratnya kalau Harian Kompas itu perawan, maka banyak bujangan yang tertarik dan ingin menjadi pacarnya. Nah, begitu jugalah dengan saya. Sebagai pemuda yang lagi kasmaran waktu itu, bukan saja jatuh cinta tapi bahkan sempat melamarnya. 

Hasilnya? Ya, pasti tahu jawabannya. Saya gak diterima oleh bapaknya selaku calon mertua. Sedih sih sedih. Tapi mau bilang apa. Saya patah hati? Gaklah. Untungnya saya masih berakal sehat, tidak sampai gelap mata. Misalnya, karena cinta ditolak lalu BADIK yang bicara. Oh No.....!!

Alhamdulillah iman saya masih kuat. Namun yang menghibur hati saya hingga saat ini, karena saya kemudian bisa berkenalan dengan "anak" harian Kompas, yakni majalah HAI (kini sudah jadi majalah digital yang online, terhitung Mei 2017 lalu), kemudian selanjutnya sangat akrab dengan "cucu"-nya, yakni Kompasiana.

Bersama Kang Pepih Nugraha di acara Kompasiana Nangkring Bukber dengan Bank Indonesia (foto dok Nur Terbit)
Bersama Kang Pepih Nugraha di acara Kompasiana Nangkring Bukber dengan Bank Indonesia (foto dok Nur Terbit)
Pada tahun 1970-an di Makassar, saya sudah ketemu koran Kompas dari meja tulis kakek yang PNS. Saya masih duduk di bangku SD. Suka pelajaran mengarang. Itulah awal saya kenal dunia tulis-menulis. Bacaan saya majalah Bobo yang banyak menginspirasi. Lalu cerita anak, puisi dan sejumlah artikel saya telah sempat mewarnai lembaran Pedoman Rakyat, koran daerah di Kota Daeng yang sudah almarhum itu. Bukan di Kompas karena belum tahu caranya bagaimana menulis di koran Jakarta. 

Berdua istri yang juga Kompasianer, @Bunda Sitti Rabiah (foto dok Nur Terbit)
Berdua istri yang juga Kompasianer, @Bunda Sitti Rabiah (foto dok Nur Terbit)
Berangkat remaja saya mengenal majalah HAI, ketika masih diasuh oleh Pakde Arswendo Atmowiloto. Tabungan dari uang jajan saya pun habis dibelikan HAI. Jelang lulus di PGA (Pendidikan Guru Agama. Sekarang MAN, Madrasah Aliyah Negeri setingkat SMA) saya harus ujian praktik mengajar di SD Muhammadiyah Kab Maros, Sulsel. Saking berkesannya, kejadian itu lalu saya tulis dengan judul "Pengalamanku Sebagai Pak Guru Kecil", dan saya kirim ke lomba mengarang majalah HAI di Jakarta. Dan alhamdulillah menang....

Kemudian tahun 1980-an. Kebiasaan menulis mulai tersalur terutama saat kuliah di IAIN Alauddin. Saya diterima jadi wartawan koran lokal di Makassar, selain mengelola koran kampus. Lalu sambil kuliah, merangkap jadi penyiar radio swasta sekaligus wartawan. Di dunia kewartawanan inilah saya pernah bertemu Harmoko ketika ia masih Ketua PWI Pusat. Saya diterima bergabung di harian Terbit (Grup Pos Kota) perwakilan Indonesia Timur berkedudukan di Makassar. Belakangan hijrah ke Jakarta (1981) menyatu dengan tim redaksi.

Lalu pada tahun 1990-an, peristiwa istimewa bagi saya ketika itu adalah ketika bertugas sebagai reporter lapangan. Saat rapat redaksi di harian Terbit itulah, dibahas rencana "perkawinan" antara manajemen Kompas - Pos Kota. Koran harian TERBIT (anak perusahaan Pos Kota) akan dikelola oleh manajemen Kompas. Lobi dan rapat bahkan digelar di Puncak Bogor. Perwakilan kedua media ini lalu melakukan rapat dan rapat. 

Hasilnya? Sayang mereka gagal "kawin", eh nikah. Yang terjadi kemudian, Kompas malah "nikah" dengan harian Surya, masih koran anak perusahaan Pos Kota yang semula beredar mingguan di Surabaya, Jawa Timur (belakangan saya dengar saham Pos Kota di harian Surya juga "dilego" dan sekarang murni full saham Kompas).

Tampil live di tayangan perdana program Kompasiana TV (Kompas TV) sebagai Jurnalis Jakarta (foto dok Nur Terbit)
Tampil live di tayangan perdana program Kompasiana TV (Kompas TV) sebagai Jurnalis Jakarta (foto dok Nur Terbit)
Tahun 2009, saya mulai mengenal dunia maya. Saya aktif meliput kegiatan pesta bloger setiap tahun. Di sini pun kenal beberapa bloger, di antara mereka ada yang mantan wartawan Kompas seperti Ndoro Kakung Wicaksono, dll. Rupanya asyik juga dunia maya ini. Beda banget dengan dunia media cetak. Saya pun berkenalan dengan wartawan Kompas yang lain seperti Kang Pepih Nugraha, yang saat itu mengelola blog keroyokan, Kompasiana. 

Saya pun jadi seorang Kompasianer hingga saat ini, selain secara rutin merawat blog pribadi saya www.nurterbit.com. Saya tetap menulis di Kompiasana, bahkan hingga kemudian harian Terbit, koran tempat saya mengabdi selama 34 tahun, dijual pemiliknya sejak Januari 2014 silam.

Nah, itulah sejuta kenangan saya bersama harian Kompas. Gagal dimuat tulisan di koran Oom Pasikom ini, dan batal bergabung di media Mbah Jacob Oetamaini. Tapi alhamdulillah bisa berkenalan dengan "anak" harian Kompas, yakni majalah HAI, kemudian selanjutnya sangat akrab dengan "cucu"-nya, yakni Kompasiana.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun