Mohon tunggu...
Cristina Balqis
Cristina Balqis Mohon Tunggu... Freelancer - What doesn't kill you only makes you stronger. Except for zombie bites

IRT yang punya prinsip : What doesn't kill you only makes you stronger. Except for zombie bites

Selanjutnya

Tutup

Politik

Mengapa AHY Tidak Hadir Debat di Televisi

17 Desember 2016   05:43 Diperbarui: 17 Desember 2016   07:01 1180
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dan akhirnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di-bully.Alasannya karena AHY enggan hadir dalam debat kandidat pilgub DKI yang digelar televisi swasta. Media massa pun riuh. Buzzer medsos ramai-ramai mengkontruksi citra negatif untuk AHY. Mulai dari AHY takut dibully, AHY tak siap jadi pemimpin, AHY tak punya program, AHY tak pandai berdebat, dan lainnya.

Tidak ada aturan kampanye yang dilanggar. Tetapi toh klarifikasi tim pemenangan AHY-Silvi tampaknya tidak digubris. Alasan bahwa AHY-Silvi lebih mengutamakan blusukan ketimbang debat, dan debat di sejumlah TV itu bukanlah debat yang resmi, tidak lantas menghentikan tsunami pembullyan ini.

Lantas, sedemikian pentingkah debat? Jika iya penting untuk siapa? Untuk menjawab hal ini kita bisa berpanduan pada riset Laswell dalam The American Political Science Review. Bapak perintis ilmu komunikasi modern ini menyebut “efek” dan “pengaruh” komunikasi massa dapat dianalisa dengan pertanyaan : 1) siapa; 2) mengatakan apa; 3) di saluran mana; 4) kepada siapa; 5) dengan akibat (efek) apa”. Kelima faktor ini wajib dianalis untuk menentukan strategi kampanye yang paling efektif.

Menyibukan Diri Bersama Rakyat

Survei Indikator yang dihelat pada 15-22 November 2016 menegaskan hampir seluruh pemilih DKI Jakarta sudah mengenal semua Cagub. Popularitasnya masing-masing: Basuki Tjahaya Purnama (100%); AHY (97%) dan Anies Baswedan (92%).

Artinya, strategi sudah bergeser dari popularitas menuju meningkatkan elektabilitas. Titiannya adalah disukai. Kebetulan, tingkat kesukaan AHY adalah 68%, lebih tinggi 1% dari Anies. Sementara tingkat kesukaan Ahok ada pada posisi buncit, yaitu 52%. Sebagai muka baru dalam jagad politik DKI Jakarta, artinya strategi kampanye AHY sudah pada track yang benar, yaitu blusukan, atau meminjam istilah AHY, “menyibukkan diri bersama rakyat”


Saat popularitas sudah seimbang, pertanyaannya menjadi: dapatkah debat di televisi meningkatkan tingkat kesukaan pada kandidat? Jawabannya dapat. Syaratnya harus berulang-ulang dan terus-menerus. Agitasi! Di sini kecenderungan politik media yang mengambil-alih, yaitu dengan menentukan arah dan intensitas pemberitaan untuk membangun citra positif kandidat yang dipilih. Intinya, bagi kandidat yang bukan media darling, efektifitas debat televisi dalam meningkatkan tingkat kesukaan pemilih tergolong lemah.

Lagi pula, data survei indikator juga menemukan hanya 24% pemilih yang sudah menentukan pilihan akan mengubah pilihan. Massa mengambang tersisa 19%. Pemilih yang 24% ini sulit “tergoda” hanya dengan menonton debat televisi. Sebaliknya, dengan gencarnya kabar-berita Pilgub Jakarta, besar potensi massa mengambang adalah kalangan yang amat selektif. Mereka jelas tidak ujug-ujug berubah hanya karena informasi dari media mainstream.

Sehingga strategi terbaik untuk menarik dukungan mereka bukan dengan “serangan udara”, tetapi “serangan hati”; komunikasi interpersonal alias blusukan. Joseph A Devito, pakar psikologi komunikasi, mendefinisikan komunikasi interpersonal sebagai penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera. Komunikasi jenis ini paling efektif dalam upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang, karena sifatnya yang dialogis berupa percakapan.Intinya, lewat blusukan peluang untuk mempengaruhi tingkat kesukaan publik jauh lebih besar.

Terkait hal ini, kita juga bisa membaca pandangan Peneliti LIPI Siti Zuhro bahwa debat diperlukan sebagai klimaks atau puncak dari kampanye sehingga masyarakat pemilih bisa merekonfirmasi semua keunggulan dan kelemahan calon. "Memperkenalkan diri, menyapa, berdialog langsung dan bertanya ke rakyat adalah penting ketimbang semata-mata hanya dilihat di televisi,” katanya. (1)

Maka menjadi amat wajar jika AHY-Sylvi lebih mengutamakan menuntaskan janji temu dengan kalangan Tionghoa ketimbang ikut debat di televisi yang jadwalnya bertubrukan itu. Pasalnya, survei Indikator menemukan 79,1% pemilih Tionghoa sudah mendukung Ahok. Melakukan komunikasi interpersonal jelas lebih efektif untuk menggambil ceruk suara pemilih Tionghoa yang belum mendukung Ahok-Djarot. Sungguh sangat disayangkan jika peluang ini dilepaskan untuk mengejar “serangan udara”.

Lagipula, lewat komunikasi interpersonal, AHY-Sylvi dapat memastikan program kerja mereka benar-benar berkorespondensi dengan kebutuhan publik. Blusukan menjadi ajang uji publik yang sebenar-benarnya, sekaligus instrument untuk menghimpun kegiatan-kegiatan turunan dari program-program yang telah disusun. Lagipula, kalau kita mau jujur, bukankah strategi ini yang diterapkan oleh Jokowi ketika maju pilgub maupun pilpres tempo silam?

Benarkah AHY-Sylvi Takut Berdebat?

Pertanyaan ini amat subjektif, tetapi jawabannya jelas tidak. Mengapa? Pertama, AHY telah memiliki modal intelektual yang cukup. Membaca trackrecord-nya, AHY jelas bukan seorang perwira militer yang semata-mata bertempur. AHY adalah alumnus SMA Taruna Nusantara, yang kesohor sebagai sekolah calon pemimpin. Rekrutmennya tidak semata-mata sistem rayon sekolah atau nilai akhir SMP; tetapi ada tes-tes khusus baik secara intelektual, fisik dan karakter. SMA Taruna Nusantara dikenal dengan penekanan pada nilai-nilai kejuangan, kebangsaan dan kebudayaan yang diejawantahkan ke dalam terpadunya aspek prestasi akademik, kesamaptaan jasmani dan kemandirian. Sederhananya, input berkualitas dan proses yang berkualitas akan memproduksi output yang berkualitas.

Selanjutnya, AHY melanjutkan pendidikan di Akedemi Militer Magelang, yang lagi-lagi rekrutmennya amat selektif. Kecuali kursus-kursus kemiliteran tingkat internasional, AHY juga menyandang tiga gelar master dari universitas di luar negeri masing-masing di bidang studi ilmu strategi (Nanyang Technological University), administrasi publik (Harvard University), serta kepemimpinan dan manajemen (Webster university). Bekal ini menegasikan adanya harapan akan terobosan-terobosan out of box.

Kedua, AHY telah berpengalaman menjadi nara sumber, instruktur dan pembicara di berbagai forum dan seminar, baik tingkat nasional maupun internasional. Untuk skala internasional, AHY pernah menjadi narasumber UN Day (2008), International Peacekeeper Day (2011), ASEAN Regional Forum Heads of Defense Universities/ Colleges/ Institutions Meeting (2011). The International Conference on Futurology (2011 & 2012) Forum International Conference on Global Terrorism (2013). (2) Dengan pengalaman skala internasional ini, AHY tentu tidak canggung untuk berdebat perihal pilgub DKI Jakarta.

Ketiga, AHY didampingi oleh “ekslopedia hidup” Pemrov DKI Jakarta, Sylviana Murni. Siapa yang meragukan wawasan Sylvi terkait pemerintahan DKI Jakarta, sampai yang tetek-bengeknya sekalipun. Sylvi sudah mengabdi selama 31 tahun sebagai birokrat. Ia pernah mengisi 11 jabatan yang berbeda dan mengabdi pada masa kepemimpinan 7 gubernur di Jakarta. Bidang yang diurus Sylvi pun amat beragam, dari pembinaan mental masyarakat, seni budaya, sosial, dukcapil, pendidikan dasar, legislator, tata pemerintahan, sampai Satpol PP. Posisi puncak Sylvia adalah Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan. (3) Adakah kandidat lainnya yang memiliki pengalaman di pemprov DKI Jakarta sekaya Sylvi?

Dengan modal intelektual, gemblengan militer dan dukungan “ekslopedia hidup” Pemprov DKI Jakarta, menjadi amat janggal bila AHY dituding takut debat pilgub. Alasannya yang paling tepat, hal ini semata-mata hanya strategi pemenangan yang berbeda dengan kandidat lainnya.

Debat, siapa yang paling diuntungkan?

Paslon mana yang paling diuntungkan dengan debat di televisi tempo hari? Jawabannya adalah paslon Ahok-Djarot.  Pasalnya, paslon no urut 2 ini sedang tertimpa masalah. Sebagai dampak dari dugaan kasus penistaan agama, tingkat elektabilitas Ahok menurun drastis. Direktur Eksekutif Indikator, Burhanuddin Muhtadi menyebutnya dengan istilah “ada perbedaan antara hati dan pikiran”. Maksudnya, yang puas dengan kinerja Ahok tetapi tidak memilihnya.

Akibatnya, Ahok-Djarot harus melancarkan strategi hati. Metode yang paling efektif adalah blusukan. Masalahnya, areal blusukan Ahok-Djarot tidak seluas dulu. Padahal, para pengunjung Rumah Lembang tentu tidak bisa menjangkau segenap representasi warga Jakarta.

Akibat keterbatasan ruang gerak, strategi hati terpaksa dilakukan lewat udara. Amati baik-baik. Porsi gembar-gembor keberhasilan Ahok-Djarot cenderung menurun, bergeser pada hal-hal emosional. Ambil contoh menangis di persidangan, kakak angkat yang merangkul dengan penuh duka, sampai ucapan-ucapan “kasar” ala Ahok yang sontak lenyap dari media massa maupun media sosial.

Strategi ini kian kental, mengingat dalam aksi unjuk kinerja di debat televisi, Djarot sempat menjual perubahan Ahok ini kepada publik. “Sekarang (Ahok) lebih lunak, lebih santun bicaranya, runut. Semuanya adalah proses belajar,” katanya (4). Bukankah ini artinya Djarot sedang melakukan “serangan hati” untuk mendongkrak tingkat kesukaan publik terhadap Ahok?

Sebaliknya, citra negatif ini tidak disandang AHY-Sylvi. Citra pintar dan berwawasan luas AHY (84%) sudah kejar-mengejar dengan Anies (85%) dan Ahok (87%). Untuk citra tegas dan berwibawa, AHY (84%) sudah sejajar Ahok, dan berada di atas Anies (70%).

Sekarang, citra yang perlu dikejar oleh AHY adalah perhatian pada rakyat, dan hal ini jelas tidak bisa terkomunikasikan dengan baik melalui debat di televisi. (*)

  

sumber :

1  2 3 4

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun