Mohon tunggu...
S. Cristian Putri
S. Cristian Putri Mohon Tunggu... -

Menjadi cahaya meskipun kecil \r\n@Cristian_Putri

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Meningkatnya Pemain Asing Menjadi Tantangan Semen Indonesia

24 Mei 2015   18:17 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:39 227 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
14324661321826878016

Indonesia yang saat ini dalam industri semen dipenuhi pemain asing. Terlebih lagi akan adanya rencana gencarnya pembangunan infrastruktur di negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini, sehingga diprediksi akan meningkat tajam jumlah pemain asing. Sekarang saja, hampir setengah dari produsen swasta anggota Asosiasi Semen Indonesia (ASI) sahamnya sudah dikuasai perusahaan asing.

Secara teknis, terdapat tujuh anggota ASI, yakni PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), yang menaungi PT Semen Padang, PT Semen Gresik dan PT Semen Tonasa. Enam perusahaan lainnya adalah PT Holcim Tbk (SMCB), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), PT Andalas Indonesia, PT Bosowa Maros dan PT Semen Kupang.Tiga dari tujuh produsen semen ini, sahamnya sudah dimiliki investor asing.

Setelah mengakuisisi  pabrik Semen Cibinong, Holcim Ltd praktis memiliki pabrik dan jaringan pemasaran di Indonesia dan mengganti nama Semen Cibinong menjadi Holcim. Per akhir Maret 2015, kepemilikan perusahaan asal Swiss ini di pabrik semen di kawasan Cibinong, Jawa Barat ini telah mencapai 80,64 persen. Indocement juga 51 persen sahamnya telah dikuasai Heidelberg Cement AG., produsen semen asal Jerman. Lalu Lafarge, produsen semen asal Prancis juga sudah sejak tahun 1994 menguasai semen Andalas. Tiga investor asing ini adalah produsen semen terbesar dunia.

Diberitakan di berbagai media bahwa Grup Wilmar -- perusahaan berbasis di Singapura yang dimiliki oleh pengusaha nasional Martua Sitorus dan Kuok Khoon Hong, keponakan konglomerat Malaysia Robert Kuok -- juga mulai mengibarkan sayap di industri semen dengan mendirikan pabrik di provinsi Banten dan menjual dengan merek Semen Merah Putih. Sementara dalam website Semen Merah Putih sendiri hanya menyebut bahwa pabrik di Banten ini berada di bawah naungan PT Cemindo Gemilang. Pabrik tersebut tepatnya berlokasi di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten.

Dan pada website-website pencari kerja, Siam Cement asal Thailand juga gencar mencari tenaga kerja dibawah bendera PT Semen Jawa. Dalam deskripsinya disebutkan jika semen jawa akan berlokasi di Sukabumi, Jawa Barat.

Yang menarik baik Semen Merah Putih maupun Semen Jawa, adalah bahwa keduanya belum menjadi anggota ASI. Maria Renata, analis PT Trimegah Securities Tbk yang membawahi sektor semen mengatakan, sebetulnya yang menjadi anggota di ASI hanya mewakili kurang lebih sekitar 90 persen dari total kapasitas produksi semen nasional.

Ketertarikan produsen semen tersebut karena Indonesia dekat dengan sumber bahan baku dan sekaligus dekat dengan konsumen. Di Indonesia, tambang batu kapur jumlahnya banyak dan konsumsi semen masih sangat rendah, sehingga memberikan potensi pasar yang tinggi.

Berdasar data SMGR, konsumsi semen di Indonesia hanya sekitar 229 kg per kapita, sedangkan negara tetangga seperti Malaysia, Singapore dan Vietnam sudah di atas 500 kg per kapita. Dan dalam lima tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan penjualan semen di Indonesia mencapai 9,5 persen per tahun.

Sementara itu dari laporan persentasi Holcim, supply di rata-rata negara Asia melebihi demand (permintaan), seperti di Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Thailand dan Malaysia. Sehingga menyebabkan investor mulai mencari pasar lain yang lebih berpotensi seperti Indonesia.

Renata juga menyebutkan alasan investor asing berbondong-bondong ingin berinvestasi pada industri semen di Indonesia adalah karena margin yang lebih tinggi dibanding di negara lain. Berdasarkan data, margin laba bersih (net profit margin) per akhir tahun 2014 tertinggi dipegang oleh Semen Baturaja yakni 27 persen. Hal ini disebabkan karena penjualan Semen Baturaja hanya berada di daerah sekitar Sumatera Selatan dan Lampung. Lalu setelah itu diikuti oleh Indocement dan Semen Indonesia masing-masing 26,4 persen dan 20,6 persen.

Sementara itu Anhui Conch asal China, Siam City asal Thailand dan Ultratech asal India masing-masing hanya memiliki net profit margin 18 persen, 16 persen dan 10,3 persen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bisnis Selengkapnya
Lihat Bisnis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan