Mohon tunggu...
Kris Fallo
Kris Fallo Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Buku Jalan Pulang, Penerbit Gerbang Media, 2020

Menulis itu pekerjaan keabadian. Pramoedya Ananta Toer berkata:  'Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.' Lewat tulisan kita meninggalkan kisah dan cerita yang tak akan sirna.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Minggu Palma, Bom Bunuh Diri, dan Toleransi

28 Maret 2021   18:10 Diperbarui: 28 Maret 2021   20:25 714
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
foto.dok.pribadi/Perayaan Minggu Palma di Gereja Katedral Atambua dan penerapan protokol kesehatan

Minggu 28 Maret 2021, umat katholik di seluruh dunia merayakan Minggu Palma. Ada dua moment penting yang dimaknai pada perayaan Minggu Palma yakni:

1. Peristiwa Yesus memasuki Yerusalem, dengan menunggang seekor keledai. Umat Israel menyambutNya sebagai raja. Mereka memegang daun palma di tangan, dan menghamparkan pakaian mereka di jalan, sambil bersorak, "Hosana Putera Daud, Raja Israel, terpujilah yang datang atas nama Tuhan, hosana sembah sujud."

2. Peristiwa Yesus memasuki Yerusalem, merupakan awal dari penderitaan dan kematianNya di salib. Yesus pergi ke Yerusalem artinya Ia pergi untuk menghadapi kematianNya. Yesus pergi ke Yerusalem, artinya pergi untuk disalibkan. Ia dihukum layaknya seorang penjahat.

Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai. Ciri khas keledai, binatang yang polos dan pasrah, demikian pula Yesus menunggang seekor keledai merupakan simbol penyerahan diri, pasrah, siap untuk disalibkan.

Orang-orang Israel menghamparkan pakaian di jalan, sesungguhnya mengingatkan kita pada karpet merah penyambutan seorang raja, atau tamu kehormatan, tetapi dalam liturgi warna merah artinya kemartiran dan pengorbanan.

Perayaan Minggu Palma hari ini sekaligus menjadi awal bagi umat Katholik memasuki pekan suci, masa ret-ret agung, hening, menarik diri dari kesibukan dunia untuk focus merenungkan sengsara, wafat dan kebangkitan Tuhan.

Gambar.detiknews com/Bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makasar
Gambar.detiknews com/Bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makasar
Sungguh menyedihkan, justru di saat umat Katholik memasuki masa tenang, mereka harus dihadapkan dengan peristiwa tragis, bom bunuh diri yang sangat mengganggu kenyamanan dan kekhusyukan mereka.

Ledakan yang terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Jl Kajaolalido-MH Thamrin, Makassar, Sulawesi Selatan saat ibadah Minggu Palma berlangsung, Minggu (28/3/2021) pagi, sungguh mengganggu kekhusyukan umat kristiani.

Berdasarkan informasi, pelaku bom bunuh diri mau masuk ke gereja, tetapi ada pihak keamanan menahan mereka kemudian bom langsung meledak. Sudah pasti ada yang menjadi korban. Selain korban jiwa, kejadian ini sudah jelas menimbulkan trauma bagi umat kristiani.

Kejadian semacam ini, bukan hal baru. Hampir setiap tahun, umat kristiani menjadi korban. Di saat umat kristiani menginginkan suasana damai, justru suasana itu dirampas dan dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Bangsa Indonesia bangsa yang majemuk, terdiri dari beragam suku, bahasa, budaya, termasuk agama. Indonesia bukan milik satu agama saja karena itu, toleransi sangat penting. Saling menghargai dan menghormati wajib hukumnya. Kita tidak akan pernah mencapai kedamaian bila masih ada orang yang tidak senang melihat orang lain tentram.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun