Mohon tunggu...
Kris Fallo
Kris Fallo Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Buku Jalan Pulang, Penerbit Gerbang Media, 2020

Menulis itu pekerjaan keabadian. Pramoedya Ananta Toer berkata:  'Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.' Lewat tulisan kita meninggalkan kisah dan cerita yang tak akan sirna.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Stay at Home

29 Maret 2020   11:24 Diperbarui: 30 Maret 2020   13:41 367
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dunia dalam susana mencekam. Betapa tidak, corona merenggut nyawa manusia tanpa ampun. Hingga detik ini, puluhan ribu nyawa manusia melayang. Angka kematian terus bertambah setiap hari.

Semua pada takut. Bahkan takut untuk keluar rumah. Soalnya Covid 19 ini menyerang tanpa pandang buluh. Mau kaya, miskin, negara maju, berkembang, pejabat, rakyat biasa, pemuka agama, umat, semua bisa diserang. Ibarat kereta api, sekali jalan tidak pernah berhenti sampai tujuan.

Menakutkan? Iya. Menyedihkan? Memang. Mencemaskan? Apalagi. Diperkantoran terlihat sepi. Sekolah sekolah diliburkan. Pertokoan juga sama. Bahkan di rumah rumah ibadat pun sama. "Kami tak berdaya menghadapinya, kami hanya bisa jaga diri dengan tetap tinggal di rumah", begitu kata teman saya di sebrang.

Banyak cara dilakukan untuk mengamankan diri. Seruan pemerintah, seruan gereja pun sama. Intinya agar masyarakat dan umat tetap jaga diri. Mulai dari gunakan masker, cuci tangan, hindari kerumunan massa, hindari kontak langsung, jaga jarak, dan tetap 'Stay at home'.

Saya membaca di facebook tertulis "Untuk pertama kalinya dalam sejarah, bersatu kita mati, bercerai kita selamat". Ada juga yang tulis, "untuk pertama kalinya dalam sejarah, gereja juga libur".

Suasana hari ini pun sama. Tidak seperti biasanya. Di gereja Katedral Atambua, kota perbatasan, juga dilangsungkan perayaan ekaristi tanpa umat.

Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr. memimpin langsung perayaan, didampingi oleh Rm. Stefanus Boisala, Pr, pastor paroki Katedral dan juga Rm. Kristianus Fallo, Pr, pastor pembantu.

Perayaan Ekaristi yang disiarkan langsung lewat link facebook, Komsos Keuskupan Atambua, bekerja sama dengan RRI, Dinas Infokom, Humas Setda Belu, berjan lancar.

Ada rasa haru, dan menyedihkan. Bahkan bapak uskup sendiri meneteskan air mata, ketika harus berhadapan dengan bangku kosong, tanpa umat dalam gereja. Memang tidak biasa, tapi ini jalan terbaik yang harus ditempuh demi keselamtan.

Dua hal penting yang diuangkapkan  bapak uskup dalam homilinya yakni:

1. "Penyakit ini, kematian Lazarus mengungkapkan kemuliaan Tuhan. Dihadapan kematian, dihadapan penyakit ini, kita tak berdaya. Tuhan justru hadir sebagai Dia yang mengubah, dari rasa takut menjadi berani, putus asa menjadi penuh harapan, bahkan kematian menjadi kehidupan".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun