Mohon tunggu...
Aldi Muhamad Ramdani
Aldi Muhamad Ramdani Mohon Tunggu... Content Creator Insan Bumi Mandiri

Insan Bumi Mandiri adalah lembaga filantropi yang komitmen untuk membangun pedalaman Indonesia. Jadilah bagian dari #SahabatPedalaman untuk sejahterakan wilayah timur Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

6 Kendala Membangun Masjid di Pedalaman NTT

22 Oktober 2019   20:08 Diperbarui: 22 Oktober 2019   20:17 108 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
6 Kendala Membangun Masjid di Pedalaman NTT
Warga Tulun, NTT terpaksa shalat berjamaah di mushola darurat, karena renovasi masjid mereka tak kunjung selesai. dokpri

Masjid merupakan tempat ibadah dan menjadi pusat kegiatan umat Islam. Sebagai pusat kegiatan umat Islam, harusnya masjid menjadi tempat yang paling nyaman dengan fasilitas yang lengkap. Namun, di pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT) banyak ditemui masjid yang tidak mempunyai fasilitas layak.

Masjid di sana sudah tidak bisa menampung jemaah, dinding dari kayu yang telah lapuk, dan atap bocor. Bahkan ada beberapa daerah yang tidak ada masjid sama sekali.

Segala upaya pun dilakukan warga pedalaman NTT supaya dapat merenovasi atau membangun masjid pertama mereka. Namun, banyak kendala yang dialami oleh mereka. Berikut adalah kendala-kendala warga pedalaman NTT dalam membangun masjid.

1.  Kondisi Perekonomian Warga Tidak Mencukupi

Rata-rata, pekerjaan di pedalaman NTT adalah nelayan dan petani. Mereka berswadaya mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk bisa membangun masjid.

Contohnya warga Kampung Baru, Desa Bari, NTT yang hanya bisa berswadaya sampai tahap pengecoran tiang masjid saja. Karena keterbatasan dana, pembangunan pun terpaksa terhenti hingga tiang-tiang masjid jadi terbengkalai.

2.  Lokasi Susah untuk Dijangkau

Warga bergotong royong mengangkut material dari dermaga menuju lokasi pembangunan.
Warga bergotong royong mengangkut material dari dermaga menuju lokasi pembangunan.

Di Pulau Longos dan Pura, NTT tidak ada material bangunan yang tersedia. Material hanya tersedia di kota. Pengadaan material harus diangkut menggunakan perahu yang hanya tersedia pagi atau sore. Bahkan warga pun kadang ikut menggunakan perahu nelayan untuk mengangkut material bangunan. Sesampainya di dermaga, warga harus mengangkat bahan material tersebut menuju ke lokasi pembangunan. Karena kendaraan bermotor tidak dapat mengaksesnya.

Jika ada kendaraan yang bisa mengangkut material, warga harus mengeluarkan biaya lebih banyak karena jaraknya jauh. Bahkan ada beberapa material yang tidak tersedia di kota. Warga pun terpaksa memesan material dari Pulau Jawa dengan harga yang jauh lebih mahal.

Di wilayah Dusun Tulun, NTT jika pembangunan masjid dilakukan pada musim hujan, warga harus berhati-hati saat mengantarkan material. Karena saat musim hujan, jalan yang menghubungkan antar dusun bisa putus akibat derasnya air sungai. Akses jalanan yang terbuat dari tanah pun menjadi licin sehingga menyulitkan truk untuk melalui jalan tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN