Mohon tunggu...
Citra ayu prigantari
Citra ayu prigantari Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

-

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Kondisi Psychologichal Well Being pada Single Mother yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus Rendah?

31 Desember 2022   10:49 Diperbarui: 31 Desember 2022   10:54 243
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Pasangan yang bercerai akan merasakan beban kehidupan yang lebih berat karena memiliki dua peran yang ditanggung yaitu menjadi ibu dan ayah yang baik bagi anak-anaknya (Dwiyani, 2009). Single mother merupakan gambaran sosok perempuan tangguh, karena segala hal yang berkaitan dengan rumah tangga ditanggung sendiri mulai dari membereskan rumah, mencari nafkah, hingga mengasuh dan membesarkan anaknya dilakukan sendiri. Hal demikian menjadi salah satu tantangan besar bagi perempuan, ada yang berhasil dalam menjalani tantangan tersebut dengan menjadikannya energi positif serta menjalani hidup dengan normal dan bahagia. Namun tidak jarang individu gagal dan hidup dalam keterpurukan. Apalagi seorang single mother dengan anak berkebutuhan khusus, di mana anak membutuhkan pendampingan yang lebih optimal dan bantuan dalam berbagai kegiatan sehari-hari.

Mangunsong (2009) berpendapat bahwa anak berkebutuhan khusus ialah anak dengan ciri-ciri khusus dan berbeda dengan rata-rata anak yaitu dari segi fisik, mental, kemampuan sensorik, perilaku emosional, kemampuan berkomunikasi, dan membutuhkan modifikasi seperti tugas sekolah, cara belajar, dan pelayanan yang dapat mengembangkan potensi mereka. Anak berkebutuhan khusus mengalami berbagai hambatan dan membutuhkan bantuan dari orang disekitarnya agar dapat teratasi (Hallahan & Kauffman, 2006). Dengan demikian lingkungan di sekitar anak memiliki peran aktif dalam membantu berbagai kesulitan yang dialami anak, sehingga harapannya anak dapat memiliki kesempatan untuk mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki.

Adapun permasalahan lain yang kerap kali dirasakan oleh para ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus seperti suatu peristiwa yang tidak dialami oleh semua wanita. Seorang single mother berpotensi mempunyai banyak permasalahan yang harus dihadapi dalam menjalankan perannya. Single mother yang merawat anak seorang diri menghadapi berbagai macam permasalahan diantaranya masalah keluarga dalam memperlakukan anak, keterbatasan finansial, memiliki banyak pekerjaan baik di rumah maupun di tempat kerja, usaha untuk memenuhi peran sebagai ayah dan ibu untuk anaknya, masalah dalam mendidik anak, kekhawatiran terkait masa depan anak, perjuangan dalam penerimaan secara utuh terhadap keadaan dirinya, serta mempertahankan hubungan sosial dan emosional yang sehat. Hal yang sama juga dikatakan oleh Mangunsong (2011) bahwa, kekhawatiran kerap kali muncul karena beberapa masalah seperti masalah yang menyangkut finansial dan kesempatan anak ketika menghadapi realita masa depan yang akan muncul nantinya.

Adanya penerimaan akan mendatangkan rasa syukur atas apa yang telah diberikan, yang mengacu pada kepuasan hidup dan merupakan salah satu dimensi dari psychological well being (Ryff, 1989). Seorang ibu yang memiliki psychological well being yang tinggi akan menerima keadaan hidupnya, senantiasa bersyukur atas apa yang ada dan memiliki kepuasan hidup ketika diberikan karunia seorang anak walaupun memiliki keterbatasan mental dan berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Berdasarkan studi terdahulu, seorang single mother yang memiliki psychologycal well-being rendah di khawatirkan tidak mampu menjalankan kehidupan seperti pada saat masih memiliki suami akibat stress berkepanjangan. Selain itu tidak mampu menjalin hubungan yang baik dengan oranglain, tidak mampu menerima segala kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri, tidak mampu menguasai lingkungan demi mengembangkan pribadinya sendiri untuk mencapai kehidupan kedepan.

Salah satu intervensi yang telah terbukti cukup mampu dalam meningkatkan psychological well-being adalah well-being therapy. Folk-Williams (2013) mengungkapkan bahwa well-being therapy merupakan salah satu treatment psikologis yang tergolong baru. Well-being therapy sebagai satu bagian dari psikologi positif yang berusaha untuk membantu individu dengan meningkatkan aspek positif yang dimiliki serta mengembangkan kekuatan yang dimiliki tanpa menekankan pada aspek negatif yang dimiliki (Holland, 2007). Penerapan intervensi ini diharapkan mampu membantu single mother dengan anak berkebutuhan khusus dalam meningkatkan psychological well-being yang dimilikinya, agar individu mampu menampilkan sikap positif terhadap dirinya dan kehidupannya. Kondisi ini dapat memberikan dampak positif pada single mother dengan anak berkebutuhan khusus, sehingga dapat lebih memotivasi diri sendiri dan mengembangkan hal-hal positif dalam dirinya.

Referensi :

Dwiyani, V. (2009). Jika Aku Harus Mengasuh Anakku Seorang Diri. Jakarta : PT. Elex Media Kumpotindo.

Folk-Williams, John. (2013). How wellbeing therapy works. http://www.storiedmind.com. Diakses tanggal 26 Oktober 2016.

Hallahan, D.P. & Kauffman, J.M. (2006). Exceptional Learners: Introduction to Special Education 10th ed. USA: Pearson.

Holland, A. L. (2007). Conseling in communication disorders: A Wellness Perspective. Oxdordshire: Plural Publishing.

Mangunsong, F. (2009). Psikologi dan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Depok: LPSP3 UI.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun