Mohon tunggu...
cipto lelono
cipto lelono Mohon Tunggu... Guru

Menulis sebaiknya menjadi hobi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

"Warung Makan Berkah", Fenomena Inspiratif di Tengah Kehidupan Konsumeristik

17 Mei 2021   08:00 Diperbarui: 17 Mei 2021   11:33 838 67 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Warung Makan Berkah", Fenomena Inspiratif di Tengah Kehidupan Konsumeristik
Sumber:dokumentasi pribadi

Tidak semua manusia abad modern terjebak gaya hidup hedonis maupun konsumeristik. Suatu gaya hidup yang senantiasa berorintasi pada materi. Ternyata ditemukan juga fenomena kegiatan "ekonomi" yang berorientasi sosial (akhirat), salah satunya adalah kelahiran Warung Makan Berkah.

Dilihat dari tempat maupun cara penyajian warung ini relatif representatif. Namun dilihat dari tujuan kegiatannya, warung ini mempunyai cara yang berbeda dibanding warung-warung makan pada umumnya.

Keterangan:foto bersama pemilik warung makan (dokumentasi:pribadi)
Keterangan:foto bersama pemilik warung makan (dokumentasi:pribadi)
Warung makan ini menyediakan menu makan layaknya warung makan pada umumnya. Sayur lodeh, "bothok", sambel pecel, soto dll merupakan menu-menu yang dapat dipilih oleh para pelanggannya. Siapa pelanggannya? Pelanggan warung makan ini adalah siapa saja yang berkenan mapir di warung makan tersebut. Dari penuturannya, warung makan ini buka jam 10.00 s.d.17.00. Namun kalau sudah habis, ya ditutup lebih awal. Itulah sedikit penuturannya saat saya berada di warung tersebut.

Berapa harga yang dipatok di warung makan ini? Semua jenis makan yang dimakan oleh para pelanggannya "tidak dipungut biaya sedikitpun" (gratis). Iya sekali lagi tidak dipungut sepersenpun. Bahkan, ketika saya menanyakan mengapa tidak diganti dengan "kotak infaq"? Dengan santai sang pemilik warung menyampaikan, bahwa dari awal warung makan ini dirancang untuk lahan pahala di masa tua. Agar di masa tua mempunyai lahan usaha yang berorientasi pada akhirat.

Warung makan tersebut sudah berjalan hampir satu tahun. Rata-rata pelanggan yang mampir tiap hari minimal 20 orang. Pernah juga mencapai 90 orang sehari. Begitu informasi santai yang disampaikan di sela-sela ngobrol di tempat usaha akhiratnya.

Keterangan:bincang santai dengan pemilik warung makan (sumber:dokumentasi pribadi)
Keterangan:bincang santai dengan pemilik warung makan (sumber:dokumentasi pribadi)
Misi dan keberadaan warung tersebut akhirnya terbaca dan terdengar oleh masyarakat, maka banyak masyarakat yang tidak hanya datang, namun juga ada yang membawa beberapa bantuan yang dirasa belum ada. Meja, kursi makan ada juga yang memberikan. Selain hal tersebut tentu ada juga yang menitipkan beras, sayur mayur,dll yang memang dibutuhkan.

Ternyata kebaikan itu harus ada yang berani memulainya, sebelum akhirnya masyarakat juga akan memberikan sumbangsihnya dalam berbagai bentuknya sebagai bukti apresiasinya. Ingin mengetahui penggagas dan pemilik warung makan ini? Beliau adalah salah satu dosen Perguruan Tinggi Muhammadiyah ternama di Yogjakarta. Bagi pembaca yang tertarik, bisa mampir di warung tersebut yang berlokasi di Pengasih, Wates, Kulonprogo, Yogyakarta.  

Ada beberapa nilai-nilai utama dalam kehidupan yang dapat dipetik dari fenomena tersebut:

  • Ada sejuta jalan menuju surga. Semua berpulang pada niat dan kesadaran kita.
  • Berbagi itu fitrah kita sebagai manusia. Sebab itu menjadi kebutuhan jiwa setiap manusia.
  • Takwa itu nyata, bukan sekedar kata-kata. Semua itu bisa dilakukan oleh siapa saja.
  • Aktivitas takwa tidak bisa muncul serta merta. Namun memerlukan proses panjang dan suka duka. Hal terpenting dari semua proses itu, kita tidak boleh putus asa.

Semoga bermanfaat!

VIDEO PILIHAN