Mohon tunggu...
cipto lelono
cipto lelono Mohon Tunggu... Guru - Sudah Pensiun Sebagai Guru

Menulis sebaiknya menjadi hobi

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Menilik Sejarah Bangsa dari Candi Muara Jambi

9 Maret 2021   08:33 Diperbarui: 9 Maret 2021   08:54 615
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bulan Desember 2020 merupakan bulan istimewa bagi kami sekeluarga. Sebab seumur hidup kami belum pernah menginjakkan kaki di luar Pulau Jawa, kecuali di Bali. Itu pun karena mendampingi peserta didik  melaksanakan kegiatan study tour.

Pada bulan Desember 2020, kami  berkesempatan menapakkan kaki di wilayah Jambi. Walaupun intinya adalah acara keluarga, kami sekeluarga menyempatkan diri melihat keindahan dan kebesaran Candi Muara Jambi yang disebut-sebut sebagai peninggalan kerajaan Sriwijaya yang berkuasa dari abad ke 7 - 12 M.

Candi Muara Jambi terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muara Jambi. Mungkin saja nama candi diambil dari nama Kabupaten Muara Jambi.

Ada beberapa hal yang menarik dari candi ini.

Pertama, candi ini terbuat dari batu bata. Semua bangunan yang ada baik pagar, bangunan untuk pemujaan, stupa dan bangunan yang lain semua berbahan batu bata. Sehingga kami menyaksikan hamparan batu batu yang tersusun dalam berbagai bentuk bangunan kompleks candi.

Bahan candi yang terbuat dari batu bata semacam ini, mengingatkan kita pada peninggalan candi di Jawa Timur seperti Candi Bajang Ratu, Candi Tikus dan Candi Brahu. Candi-candi tersebut juga berbahan baku batu bata.

dok. pribadi
dok. pribadi
Kedua, Candi Muara Jambi berupa kompleks percandian yang banyak jumlahnya. Senyampang kami melihat, Candi Muara Jambi merupakan candi berbentuk kompleks yaitu terdiri dari beberapa candi dan bangunan lain yang mengitarinya. 

Beberapa candi  inilah yang disebut  Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano. Menurut sumber yang ada, jumlah candi terdapat 110 candi. Candi Muara Jambi ini disebut-sebut sebagai kompleks candi terbesar di Asia Tenggara pada masa itu.

Menurut Junus Satrio Atmodjo (Wikipedia) daerah itu dulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Sebab di situs ini ditemukan manik-manik yang berasal dari Persia, China, dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas bagi masyarakatnya. (Wikipeldia: Kompleks Candi Muara Jambi).

jmb2-6046cf4d51d71b15ce603a89.jpg
jmb2-6046cf4d51d71b15ce603a89.jpg
Ketiga, areal bangunan candi sangat luas. Jumlahnya berhektar-hektar. Sehingga pada saat kami mengelilingi candi memerlukan stamina ekstra. Walaupun masyarakat sekitar candi banyak yang menyewakan sepeda untuk membantu wisatawan berkeliling candi. \Luasnya wilayah Candi Muara Jambi, mengingatkan kita pada kompleks Candi Sewu, Candi Plaosan, candi Ratu Boko yang terletak tidak jauh dari Candi Prambanan dan Candi Penataran di Blitar Jawa Timur.

Keempat, lokasi candi berada di tepi aliran Sungai Batang Hari. Inilah bukti kearifan local yang dimiliki nenek moyang kita. Banyak percandian yang dibangun ditepi aliran sungai.  Percandian di Jawa banyak yang berada di tepi aliran sungai. Filosofis sungai barangkali merupakan sumber kehidupan masyarakat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun