Mohon tunggu...
Cindy Carneta
Cindy Carneta Mohon Tunggu... Lainnya - Sarjana Psikologi

Saya merupakan seorang Sarjana Psikologi dari Universitas Bina Nusantara.

Selanjutnya

Tutup

Love Pilihan

Bagaimana Psikologi Memandang Ghosting hingga Jenis Coping Strategy Kaesang Pangarep

9 Maret 2021   11:59 Diperbarui: 1 April 2022   10:57 2766
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Ghosting. Mengakhiri hubungan asmara dengan ghosting, menghilang tanpa kabar dan penjelasan. (Shutterstock via kompas.com)

"Jika kamu memulainya dengaan baik, maka kamu juga harus mengakhirinya dengan baik dan pantas. Perlakukan orang lain layaknya kamu ingin diperlakukan kelak."

Pada hakikatnya seorang manusia memiliki afeksi yang membuatnya memiliki kecenderungan dalam memandang sebuah hal atau kasus tertentu, baik itu sifatnya positif ataupun negatif (Gonzlez, Barrull, Pons & Marteles, 1998) dan begitupun saya sebagai seorang manusia dalam memandang kasus ini.

Ilustrasi seorang pria yang meninggalkan wanita (dok: blog.gladgirl.com)
Ilustrasi seorang pria yang meninggalkan wanita (dok: blog.gladgirl.com)
Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya begitu penasaran akan suatu hal. Kira-kira apa yang terlintas di dalam pikiran dan benak para pembaca saat mendengar, melihat atau membaca kata "ghosting"?

Psychology Today mengartikan ghosting sebagai sebuah istilah yang merujuk kepada sebuah situasi yang dimana memiliki seseorang yang Anda yakini peduli dengan Anda. Entah itu teman, gebetan ataupun kekasih yang kemudian menghilang dari kontak tanpa penjelasan sama sekali. Tidak ada panggilan telepon atau surel dan bahkan pesan teks.

Lalu mengapa seseorang memilih untuk melakukan ghosting?

Mereka yang melakukan ghosting pada umunya disebabkan karena mereka bertemu dengan orang baru yang lebih mereka sukai (Lucas, 2016). 

Selain itu, mereka juga memiliki fokus untuk dapat menghindari ketidaknyamanan emosional yang mereka miliki dan mereka tidak memikirkan bagaimana perasaan orang lain akibat ghosting yang telah mereka lakukan (Vilhauer, 2015).

Merujuk pada pernyataan diatas, McQuillan (2020) mengungkapkan hal serupa yang dimana mereka yang telah melakukan ghosting mungkin tidak mengetahui dengan jelas akan akibat yang telah diperbuatnya pada orang lain. Terlepas dari pendapat tersebut, hasil-hasil penelitian juga sangat diperlukan secara khusus pada fenomena ghosting.

Penelitian sebelumnya telah menyebutkan bahwa coping strategy yang dimiliki oleh seorang individu berasosiasi dengan pilihannya dalam breakup strategies (McQuillan, 2020). Seorang individu dengan jenis coping strategy berupa avoidant memiliki kecenderungan untuk menghindari kedekatan emosional dalam sebuah hubungan, baik itu hubungan romantis ataupun pertemanan (Gholipour, 2019).

Boyes (2013) menjelaskan bahwa avoidant mengacu pada pilihan perilaku seseorang berdasarkan pada upaya untuk menghindari atau melarikan diri dari pikiran atau perasaan tertentu. Terdapat beberapa hal yang diyakini sebagai pemicu seseorang untuk memilih coping strategy berupa avoidant ketika mengakhiri sebuah hubungan romantis.

Ilustrasi pasangan yang sedang bertengkar (dok: couplefamilyinstitute.com)
Ilustrasi pasangan yang sedang bertengkar (dok: couplefamilyinstitute.com)
1. Mencoba untuk menghindari diri dari luapan emosi negatif

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Love Selengkapnya
Lihat Love Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun