Mohon tunggu...
Cindy Carneta
Cindy Carneta Mohon Tunggu... Mahasiswi Psikologi

Saya merupakan seorang mahasiswi jurusan Psikologi yang sedang menempuh pendidikan S1 pada sebuah universitas yang terletak diwilayah Jakarta Barat, yakni BINUS University. Email: cindy.carneta@binus.ac.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Adaptasi dengan Berperilaku Cerdas ialah Kunci Perangi Ketidakpastian di Tengah Pandemi

30 Mei 2020   04:24 Diperbarui: 30 Mei 2020   04:22 387 26 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Adaptasi dengan Berperilaku Cerdas ialah Kunci Perangi Ketidakpastian di Tengah Pandemi
(dok: orbitdigitaldaily.com)

Kapankah pandemi Covid-19 ini "benar-benar" berakhir? Sepertinya tak ada seorang pun yang dapat memberikan penjelasan secara logis dan jitu mengenai akhir dari pandemi ini.

Masyarakat berada pada ambang kebingungan dengan kondisi ketidakpastian. Berbagai fenomena pun muncul kepermukaan sebagai bukti nyata dari adanya kecemasan dan kekhawatiran akan timbulnya sebuah ancaman.

Sebuah ancaman? Tentu saja. Covid-19 yang telah menyebar secara global termasuk ke Indonesia telah menjadi sebuah ancaman besar yang telah merenggut 362 ribu nyawa didunia hingga saat ini (29/5/20).

Pemerintah terus menerus mengupayakan berbagai cara dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia, antara lain seperti diterapkannya regulasi himbauan "Physical Distancing" dan "Stay at Home" kepada seluruh masyarakat.

Disinilah peran serta kita sebagai anggota dari masyarakat dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

(dok: fearof.net)
(dok: fearof.net)
Sementara itu, disisi lain tak dapat dipungkiri lagi bahwa situasi mendesak yang tak pasti seringkali memiliki kecenderungan meningkatkan level kecemasan dari seorang individu. Dalam situasi seperti ini yakni didalam pandemi Covid-19, tingkat kecemasan masyarakat pun kian meningkat.

Tingginya tingkat kecemasan membuat seorang individu menjadi rentan melakukan berbagai tindakan yang berada diluar akal sehat, seperti menimbun barang. Akal sehat tak berfungsi, tindakan yang ditujukan untuk meredam kecemasan justru manambah kecemasan, menimbulkan kepanikan massal, serta permasalahan baru, yakni lonjakan harga.

Seperti yang kita ketahui dalam hukum penawaran dan permintaan, pada umumnya pasokan barang yang rendah diiringi dengan permintaan yang tinggi berimbas pada meningkatnya harga dari barang dan berlaku sebaliknya. Hal itulah yang kita rasakan disaat-saat harga masker dan hand sanitizer kian melonjak tajam.

(dok: kompas.tv)
(dok: kompas.tv)
Selain itu, berbagai tindakan yang berada diluar akal sehat pun telah menjadi dalang pemicu ketidakstabilan sistem keuangan di Indonesia saat ini.

Lantas apa itu Stabilitas Sistem Keuangan (SSK)? Dilansir dari bi.go.id, Stabilitas Sistem Keuangan merupakan suatu kondisi yang memungkinkan sistem keuangan nasional berfungsi secara efektif dan efisien serta mampu bertahan terhadap kerentanan internal dan eksternal sehingga alokasi sumber pendanaan atau pembiayaan dapat berkontribusi pada pertumbuhan dan stabilitas perekonomian nasional (PBI 16/11/PBI/2014 tentang Pengaturan dan Pengawasan Makroprudensial). Sementara, sistem keuangan sendiri adalah suatu sistem yang terdiri atas lembaga keuangan, pasar keuangan, infrastruktur keuangan, serta perusaahaan non keuangan dan rumah tangga, yang saling berinteraksi dalam pendanaan dan/atau penyediaan pembiayaan pertumbuhan perekonomian.

Sebagai anggota dari masyarakat, kita dapat berperilaku cerdas yang dapat turut aktif dalam menjaga Stabilitas Sistem Keuangan di Indonesia secara tak langsung namun efektif, yakni melalui pengurangan aktivitas yang berhubungan dengan jejarinng sosial.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x